Senin, 13 Agustus 2018

Ayah, Yuk Peduli! Saat Ananda Alami "School Bullying"




Sumber : Lumeld. wordpress.com


Malam itu...ada sebuah pesan masuk di whatsApp, dari Thico keponakanku yang tinggal di sekitaran wilayah lumpur lapindo.
"Dhe, tolong bilang bu Ida, teman-temanku di sekolah hari ini tidak mau berteman denganku."
Nada permintaan dari bocah penggemar Christian Ronaldo ini menuntun jemariku mengetik rangkaian huruf bernada pemberitahuan dan permintaan tolong kepada Bu Ida, guru kelasnya. 

"Bu Ida, mohon maaf sebelumnya, ini dari budhenya Thico.  Sepertinya hari ini Thico ada masalah dengan teman sekelasnya.  Sepertinya dia berbuat salah, dan saya mohon untuk ibu menjembatani permohonan maaf Thico ke teman-temannya. Dalam-pembicaraan singkat, saya sarankan dia untuk berani meminta maaf bila melakukan kesalahan. Ngapunten nggih bu....selalu merepotkan Ibu."

Rangkaian kalimat berikutnya aku tujukan ke Andi, ayah sang bocah.
"Dik, tolong nanti kalau sampai rumah, jam berapapun, segera lakukan komunikasi dengan Thico. Coba digali , apa si tole ada masalah dengan temannya. Coba ditanya baik-baik dan hindari kemarahan.”
Sembari itu, screenshot permintaan Thico lima belas menit sebelumnya saya teruskan ke adik ipar tersebut. Dan sempat saya titip pesan supaya ibu kandungnya, besok pagi mengantar Thico ke sekolah dan sempatkan untuk berkomunikasi dengan bu Ida, guru kelas yang juga pernah menangani kisah serupa satu setengah tahun yang lalu, saat Thico kelas empat SD, dan sempat mogok sekolah.

Benang merahnya sama, ada perlakuan "school bullying". Aku tidak terlalu reaktif mendengar alasan Thico waktu itu yang bersikeras ingin pindah sekolah ke Surabaya.  Argumennya tidak masuk akal.  Dan ini menjadi tugasku dan Ibu untuk bisa mengorek alasan pastinya, mengapa ia punya niatan untuk pindah sekolah ke Surabaya.

Terindikasi di hari keenam setelah adanya aksi tidak masuk sekolah, meski kondisi badannya sudah membaik, dari awalnya yang mengeluh sakit. Di tanya apa yang membuat tidak nyaman bersekolah di Sidoarjo, ia menghindar dan alasannya berputar-putar. Dengan penuh kesabaran Ibuku melakukan pendekatan dan komunikasi intens selama beberapa hari.
"Mbah, aku pingin sekolah Surabaya saja ya. ..? Bisa kok, Dhe Rini bisa urus kartu keluarganya untuk pindah sekolah.  Aku gak enak sekolah di Sidoarjo, karena aku gak di hiraukan sama teman-teman sekelas.  Ada yang nyuruh untuk tidak berteman denganku.  Aku gak kerasan Mbah!"

Dengan bekal keterangan ini, kami berbagi tugas. Ibuku berusaha meyakinkan Thico untuk tetap bersekolah di Sidoarjo. Kalau pindah sekolah ke Surabaya, tentunya kegiatan sepak bola setiap minggunya akan terhenti, ngaji setiap sorenya juga nggak akan lanjut, teman-teman main di rumah dan di sekolah bola akan ditinggalkan.

Ibu kandungnya segera menemui guru kelas untuk menjelaskan permasalahannya. Dengan gerak cepat, bu Ida sudah mendapat informasi tentang akar permasalahan, siapa-siapa yang terlibat berselisih dengan Thico.
“Thico dan Adam terlibat perselisihan kata-kata di awalnya. Tentang postur tubuh dkaitkan dengan kemampuan fisik. Adam tersinggung dengan perkataan Thico, dan berhasil mempengaruhi hampir sekelas teman-temannya untuk tidak berteman dengan Thico. Hal ini yang membuat Thico tidak nyaman di kelas selama beberapa hari.”
Bu Ida pun berkoordinasi dengan adikku. Beliau berencana untuk mempertemukan anak didiknya yang berselisih di rumah Thico. Mendapat lampu hijau untuk solusi dari kejadian tersebut, tugasku dan Ibu selanjutnya meyakinkan Thico untuk siap pulang ke Sidoarjo, dan kembali bersekolah.  “Teman-teman di sekolah tidak akan memusuhi lagi, nanti Bu Ida akan bantu menyelesaikan masalah ini.”  

Setelah melalui penolakan beberapa waktu dan sempat terjadi aksi main petak umpet, akhirnya dengan sukarela Thico mau pulang kembali dengan syarat  diantar oleh neneknya.

Esok siangnya, Bu Ida memimpin rombongan beberapa anak yang sempat berselisih dengan Thico. Mediasi singkat sempat dilakukan untuk meyakinkan keponakanku dan Adam, temannya yang dianggap sebagai pimpinan dari semua murid. Bu Ida membuat semua murid yang hadir di rumah adikku “legowo” untuk meminta dan memberi maaf atas kesalahpahaman yang terjadi. Menurut cerita ibuku, seusai meminta maaf, Thico terlihat lebih tenang dan ceria kembali. Dia kembali bersekolah dan menjalani hari-harinya seperti semula.
 
Thico di antara teman-teman klub bolanya. Sumber : foto pribadi
 
***

Kisah “school bullying” marak terjadi di berbagai daerah di Indonesia, dengan intensitas/kadar yang rendah hingga “membuat sesak dada” para orangtua. Dari yang berakibat minder, menarik diri dari pergaulan, stres dan depresi hingga (maaf) bunuh diri. Anak-anak kita rentan untuk bisa mengatasi perselisihan yang timbul dengan berakhir pada kondisi yang “wajar” menurut orang tua. Mereka yang mengalami umumnya menyembunyikan informasi itu dari orangtuanya.

Di Indonesia, data berdasarkan hasil riset Lembaga Swadaya Masyarakat  Plan International dan International Center for Research on Woman (ICRW), menemukan bahwa 7 dari 10 anak di Indonesia terkena tindak kekerasan di sekolah. Dan Menurut hasil kajian Konsorsium Nasional  Pengembangan Sekolah Karakter pada 2014, terjadi bullying verbal maupun bullying psikologis / mental di hampir setiap sekolah di Indonesia.



Sumber : Channel Youtube Bimbingan & Konseling UNJ 2015


Faktor-faktor psikososial yang menyebabkan bullying adalah :
1. Perilaku membangkang karena pengaruh teman yang nakal.
2. Sikap kurang serius di sekolah.
3. Miskin kontrol diri sehingga bertindak agresif dan impulsive.
4. Kurang yakin untuk bertindak tegas (asertif) terhadap bullying.

Asertivitas menurut pendapat Townend yaitu memiliki kepercayaan diri, bersikap positif pada diri sendiri dan orang lain dengan cara berkata terbuka, spontan dan jujur. Asertivitas bukanlah mendapatkan apa yang diinginkan dengan mengorbankan orang lain, namun dengan sikap terbuka tanpa merugikan orang lain sehingga perilaku ini dapat mengurangi tekanan emosional atau beban masalah yang dihadapi anak atau remaja.

Perilaku asertif tersebut, tanpa mengesampingkan peran ibu, didapat seorang anak dari ayahnya. Ayahlah seharusnya yang menjadi pengajar utama. Sebagai Kepala Sekolah dalam keluarga, dan ibunya sebagai guru.

Masalah-masalah anak yang terjadi di era kekinian, menurut ulama terkenal, Ibnu Qoyyim dalam kitab Tuhfatul Maudud I/242 MS, beliau tegas menyatakan bahwa penyebab utama rusaknya generasi hari ini karena ayah. “Betapa  banyak orang yang menyengsarakan anaknya, buah hatinya di dunia dan diakhirat karena ia tidak memperhatikannya, tidak mendidiknya dan memfasilitasi keinginannya, sementara dia mengira telah memuliakannya, padahal dia telah merendahkannya. Dia juga mengira telah menyayanginya padahal dia telah mendzaliminya. Maka hilanglah bagiannya pada anak itu di dunia dan di akhirat.

Ayah telah berlaku abai terhadap 3 hal : tidak memperhatikan, tidak mendidik dan memfasilitasi keinginan anak. Pendapat ulama 7 abad yang lalu terhadap sikap abainya seorang ayah, dibuktikan pada hasil penelitian di era kekinian yang dilakukan oleh Mellanie Mallers, seorang asisten profesor di California State University di Fullerton. Mallers dan teamnya meneliti 912 pria dewasa dan wanita, berusia antara 25 sampai 74 tahun tentang tingkat stres mereka selama delapan hari. Hasil penelitiannya disampaikan pada konvensi tahunan American Psychological Association di San Diego yang menyatakan pria yang cenderung bereaksi negatif terhadap stres setiap hari melaporkan bahwa sebagai anak-anak, “Mereka sangat sedikit memperoleh kehangatan dari ayah mereka, sedikit dukungan dan kasih sayang. Ayah tidak hadir secara fisik maupun psikis bagi mereka dan tidak membuat mereka percaya diri,” kata Mallers, “They weren’tinvolved in their lives overall (Mereka para ayah, tidak terlibat dalam kehidupan mereka secara keseluruhan).”

Senada dengan Mallers, Bunda Elly Risman, psikolog anak kenamaan dalam menjawab pertanyaan mengapa anak-anak sekarang nakalnya kelewatan? Berita bullying selalu ada setiap hari di berbagai media. Beliau berkesimpulan bahwa Indonesia is the fatherless country, yang berarti Indonesia bukanlah negara janda, tetapi banyak ayah hadir secara fisik tetapi mereka tidak hadir secara emosional dan spiritual dalam waktu dan jumlah yang cukup di hadapan anak. Ayah bagi mereka hanya bisa ditemui di pagi hari atau malam hari saat mereka sibuk persiapan sekolah atau saat mereka bersiap untuk istirahat malam. Hal ini sudah dijawab lewat penelitian Benry Miller di Amerika Serikat yag menunjukkan bahwa waktu efektif antara seorang anak dan ayahnya adalah 19 menit sehari atau hanya di akhir pekan saja. Kita tentu terhenyak dengan nineteen minutes father tersebut, apa yang bisa didapat, Ayah?

 “Satu Ayah lebih berharga dari 100 guru di sekolah.” (George Herbert)

Peran Ayah dalam mengatasi “School Bullying”

Anak-anak yang sering terlibat dalam school bullying dideteksi memiliki ciri-ciri :
  1. Kurang memiliki empati pada orang lain
  2. Punya kebutuhan tinggi untuk mendominasi dan mengendalikan anak lain untuk menuruti kehendaknya
  3. Impulsif dan sulit mengendalikan kemarahan.

Sedang anak-anak yang menjadi korban bullying, mempunyai beberapa tanda seperti :
  1. Sulit tidur
  2. Sulit berkonsentrasi di kelas atau dalam kegiatan apapun
  3. Sering buat alasan untuk bolos sekolah (mengeluh sakit perut, pusing, dan sebagainya)
  4. Tiba-tiba menjauh dari aktifitas yang disukai sebelumnya
  5. Tampak gelisah, lesu, muram, putus asa, hilang percaya diri, cemas dan menutup diri dari orang-orang sekitar.

Dari pelaku school bullying atau korban, sama-sama memerlukan perhatian dari orang-orang terdekatnya. Deteksi dini terhadap perilaku anak-anak menjadi kewajiban utama para ayah dan ibu. Tidak ada seorang ayah dan ibu yang rela buah hatinya menjadi korban school bullying, terlebih menjadi pelaku.

Ada untaian kalimat-kalimat pengingat, yang menjadikan peran ayah sangat penting pada proses penyelenggaraan pendidikan ananda, dalam pencegahan tindakan school bullying :
1.      Jika anakmu berbohong, itu karena engkau menghukumnya terlalu berat.
2.      Jika anakmu tertutup, itu karena engkau terlalu sibuk.
3.      Jika anakmu tidak percaya diri, itu karena engkau tidak memberi dia semangat.
4.      Jika anakmu kurang berbicara, itu karena engkau tidak mengajaknya berbicara.
5.      Jika anakmu mencuri, itu karena engkau tidak mengajarinya memberi.
6.      Jika anakmu pengecut, itu karena engkau selalu membelanya.
7.      Jika anakmu tidak menghargai orang lain, itu karena engkau berbicara terlalu keras padanya.
8.      Jika anakmu pemarah, itu karena engkau kurang memujinya.
9.      Jika anakmu suka berbicara pedas, itu karena engkau tidak berbagi dengannya.
10.  Jika anakmu mengasari orang lain, itu karena engkau suka melakukan kekerasan terhadapnya.
11.  Jika anakmu lemah, itu karena engkau suka mengancamnya.
12.  Jika anakmu cemburu, itu karena engkau menelantarkannya.
13.  Jika anakmu mengganggumu, itu karena engkau kurang mencium dan memeluknya.
14.  Jika anakmu tidak mematuhimu, itu karena engkau menuntut terlalu banyak padanya.

Ayah! Biasakanlah untuk :
  1. Membangunkan anakmu dengan usapan lembut di wajahnya, tepukan kasih sayang pada tubuhnya dan suara yang santun di pendengarannya. Bangunkan ia untuk engkau ajak menghadapkan wajahnya pada Sang pemilik kehidupan dalam menjalani hari-hari yang engkau ajarkan penuh kebaikan, kebahagiaan dan harapan yang terbentang untuk diwujudkan.
Sambut anak-anak di pagi hari dengan senyum tulus dari ayah ibunya. Senyum yang keluar dari hati akan membuat anak-anak merasa nyaman.

Tahukah Ayah-Ibu :
Hubungan yang kuat membentuk anak-anak yang lebih percaya diri. Menurut para peneliti di Universitas Minnesota, anak-anak yang membentuk ikatan kuat dengan para pengasuh yang hangat dan responsif lebih mudah menghadapi masa-masa sulit daripada anak-anak yang tidak memiliki hubungan seperti itu, Anak-anak yang memiliki dukungan juga memiliki rasa ingin tahu yang lebih besar, dapat bergaul lebih baik dengan anak-anak lain, dan memiliki prestasi yang lebih baik di sekolah.  (Sumber : The first Year Last Forever (Beverly Hills, CA: I Am Your Child Campaign, The Reiner Foundation,1997)

Seorang ilmuwan Prof. James V. Mc Connell, mengatakan “Orang yang tersenyum, memiliki kecenderungan mampu dalam mengatasi, mengajar, dan juga menjual dengan lebih efektif dan juga membesarkan anak-anak yang lebih bahagia.”

Sumber : samaratulqalbi.blogspot.com

  1. Awali setiap paginya dengan dialog-dialog pembuka pintu semangat, dengan panggilan yang terbaik, “Duhai, anak ayah yang soleh-solehah/ pintar/ rajin/terhebat.” Ajak anak bicara tentang kegiatan yang dilakukan hari ini, Ayah yang hangat pada anak-anak, janganlah pelit untuk bicara, apalagi disebut ayah yang bisu, karena anak-anak tidak pernah berbicara dengan ayahnya. Banyak alasan yang dilontarkan, “Tidak ada waktu lah, terlalu sibuklah, tidak pentinglah berbicara pada anak-anak, dan alasan lainnya.”

Ayah yang “bisu atau setengah bisu” harus segera mengubah diri. Dialog-dialog yang dibangun antara anak dan ayah akan membuat anak merasa diperhatikan, diberi ruang untuk mengemukakan pendapatnya.  Bila tidak biasa, mulai sekarang biasakanlah, Ayah! Tidak ada waktu terlambat untuk membuat anak-anakmu nyaman berada di dekatmu, wahai para Ayah!

Tahukah Ayah Ibu :
Di antara faktor pembentuk kepercayaan diri anak, dan menumbuhkan semangat hidup pada dirinya adalah dengan cara memanggilnya dengan panggilan yang paling disukainya atau dengan sifat baik yang dimilikinya.

  1. Tak lupa selalu usap kepala anak-anak dengan lembut, atau peluk hangat anak meski hanya beberapa detik. Usap juga punggung anak-anak untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya. Berbicara tentang rahasia dahsyatnya pelukan, hasil sejumlah penelitian dipaparkan oleh Melly Puspita  Sari, dalam “The Miracle of Hug” menunjukkan kalau pelukan antara orangtua dan anak dapat meningkatkan kecerdasan otak, merangsang keluarnya hormon oksitosin yang memberikan perasaan tenang pada anak, serta memberi dampak positif pada perkembangan anak.

Dr. Nadja Reissland dari Jurusan Psikologi di Durham University mengatakan ada lima langkah sentuhan yang akan membantu merangsang tumbuh kembang otak pada anak-anak, mulai dari menyentuh, menggendong, memeluk, mencium hingga memijatnya. Sentuhan akan meminimalisir produksi hormon kortisol, yang diproduksi saat anak mengalami stres. Produksi hormone kortisol yang meningkat akan juga meningkatkan risiko terganggunya jaringan otak pada hippocampus (bagian otak yang menyimpan ingatan). Dengan banyak memberinya sentuhan akan membantu tumbuh kembang otaknya.

Pelukan hangat sang Ayah. Sumber : Kwonryu.wordpress.com

  1. Ayah ,hindari berbicara dengan anak menggunakan 12 gaya popular yang umumnya tidak    disukai anak, yaitu memerintah, menyalahkan, meremehkan, membandingkan, mencap/label, mengancam, menasehati pada saat yang tidak tepat, membohongi, menghibur, mengeritik, menyindir dan menganalisa.  
Tahukah Ayah Ibu :
Para pakar psikologi yang menangani riset di National Institute of Mental Health (Institut Kesehatan Mental Nasional) mendapati bahwa cara yang digunakan oleh para orangtua untuk mendisiplinkan seorang anak memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan batin anak tersebut. Metode ini jauh lebih sukses dibandingkan melakukan ancaman atau hukuman badan.

Intimidasi bukan ‘sekadar bagian dari pertumbuhan anak.” Digoda, disakiti, dikasari, diancam dan dihina, atau melakukan hal-hal seperti itu terhadap orang lain, tidak dapat dibenarkan. Dengan bantuan orang dewasa yang peduli, anak-anak dapat saling menghargai, saling dukung dan menemukan cara-cara positif untuk menyelesaikan konflik. ( Sumber : Alian L Beane, Ph.D., The Bully Fre Classroom (Minneapolis: Free Spirit Publishing, 1999).

  1. Ayah, dalam mendisiplinkan anak, jauhi sikap-sikap yang mengedepankan kekerasan. Jauhi bentakan dan hukuman fisik berupa pukulan dan tamparan. Banyak orang tua yang menjadikan anak sebagai ajang balas dendam, karena di masa kecilnya mengalami kekerasan akan menjadikan anak sebagai obyek untuk melampiaskan amarah dan kekesalan. Kekerasan baik verbal atau fisik akan dengan mudah diduplikasi anak-anak. Mereka mempunyai contoh paling dekat dan paling riil untuk melampiaskan emosi dengan meniru cara-cara orang tuanya. Anak-anak yang menjadi pelaku bullying banyak mencontoh tindakan kekerasan tersebut dalam berinteraksi dengan teman-temannya di sekolah.

Tahukah Ayah Ibu :
Menurut penelitian yang dilakukan oleh American Psychological Association, ada orang yang merasa yakin bahwa anak-anak kadang harus dipukul pantatnya. Mereka berpendapat bahwa pemukulan pantat merupakan sebuah cara untuk menjadikan anak berperilaku baik, tetapi riset membuktikan bahwa memberikan hadiah untuk perilaku yang benar jauh lebih baik daripada menghukum tindakan yang negatif. Di samping itu, anak-anak yang dipukul pantatnya memiliki kecenderungan untuk menguasai orang lain saat mereka besar nanti. Daripada memukul pantat anak-anak, orang dewasa dapat menggunakan skorsing atau bentuk disiplin lain yang lebih manusiawi.
Sumber : schoolofpsrenting.id


  1. Ayah berikut ibu harus selalu memonitor juga perilaku diri masing-masing agar tidak  kontra dengan apa yang diajarkan ke anak. Mengarahkan anak untuk berbicara jujur, sedang ayah atau ibu sering juga berkata dusta. Anak-anak akan merekam dengan detil apa yang dikatakan oleh orangtuanya dan membandingkan dengan kenyataan yang terjadi.

Kebiasaan untuk meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan harus benar-benar ditanamkan ke jiwa anak-anak. Tidak mudah melakukannya memang. Anak-anak akan melakukannya, bila selalu didorong dan diingatkan oleh orangtua di sekitarnya.

  1. Ayah, dampingi anak-anak ketika menghadapi masalah, baik di rumah atau di sekolah. Anak seringkali stres, depresi atau tidah tahan diri bukan karena beban beratnya, tetapi lamanya mereka menahan beban berat itu. Ayah dan ibu jangan biasa mentake-over masalah anak, tetapi anak-anak harus dilibatkan juga dalam merencanakan solusi dan membuat prioritasnya.

Ada pendapat dari Prof Ir Mohammad Nuh yang menyatakan 20-30 tahun ke depan tantangan masalah kehidupan yang semakin kompleks akan naik tajam 35 kali lipat dari kondisi saat ini. Anak-anak harus punya fighting spirit, mental survival yang tangguh. Kecerdasan daya tahan yang baik (Adversity quotient, AQ) harus dimiliki anak-anak, dan ini diajarkan oleh ayahnya.

  1. Ayah dan Ibu, tumbuhkanlah sikap peduli pada hak anak. Orangtua jangan egois,
menganggap semua yang terbaik untuk anak ditentukan dari sudut pandang orangtua.   Orangtua dianggap yang berhak menentukan jadwal anak, pemenuhan keinginan anak secara mutlak, tanpa memperhatikan apa yang dimaui anak.

Ketidakmampuan anak menerima perlakuan dari orangtuanya yang menganggap ia tidak berharga, di tunjukkan oleh anak-anak ke lingkungannya. Anak jadi tidak percaya diri, kecil hati, minder dan merasa terbelakang. Dan inilah penyebab ia tidak mampu bersikap positif saat mengalami school bullying.

 Berikut beberapa isian tes kepribadian pada anak yaitu FSCT (Foreer Sentence CompletionTest)
 yang menunjukkan keinginan anak-anak  pada orangtuanya. Seringkali ini tidak diketahui
dan membuat anak memendam perasaan tanpa ia mampu untuk mengungkapkan langsung ke ayah dan ibunya :
 “Saya harap ibu saya tidak marah dan baik sama saya.”
“Saya ingin melarikan diri kalau ayah marah.”
“Saya takut akan ibu marah.”
“Saya ingin ayahku setiap hari tersenyum.”
“Saya ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus.”

Ayah, ingatlah pada sebuah seruan:
To respect Child Rights is an Obligation not a choice, “Menghormati hak anak adalah kewajiban, bukan pilihan.”

Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya. Tetapi para orangtua tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para orangtua harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat yang baik. 
Era kekinian, yang ditandai dengan berubahnya arus informasi secara cepat dan tanpa bisa dibendung, mempunyai pengaruh baik positif atau negatif pada anak-anak. Tak pelak juga mempengaruhi pada kegiatan belajar mengajarnya di sekolah. Anak-anak yang mempunyai orangtua penuh perhatian, selalu terlibat positif pada kegiatan anak, peduli akan terselenggaranya pendidikan anak dengan baik, akan menghasilkan anak-anak yang positif, punya empati tinggi, dan akan melalui rangkaian demi rangkaian proses pendidikan dengan penuh keceriaan dan tanpa perlakuan kekerasan ke sesamanya.
#sahabatkeluarga


Tulisan ini disertakan dalam Lomba Blog Pendidikan Keluarga yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Paud Dan Pendidikan Masyarakat Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga dengan tema “ Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan di Era Kekinian.”

Sumber referensi :
Huda, Misbahul , Bukan Sekadar Ayah Biasa (Bina Qalam Indonesia, Surabaya, 2016)

Jolene L. Roehlkepartain dan Nancy Leffert, Ph.D, Apa yang Dibutuhkan Anak-anak Agar Sukses (Interaksara)

Pentingnya Membangun Komunikasi Efektif Orangtua – Sekolah https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4918


Tidak ada komentar:

Posting Komentar