Minggu, 03 September 2017

Yang Dilakukan Nenek Ini, Menendang Perasaan "Malu" Kita


Nenek Sulikah


Malam itu, malam 10 Dzulhijah, seiring dilantunkannya gema takbir di seluruh penjuru. Ada bukti ketaatan dan kepatuhan dari makhluk Allah yang sudah uzur dari segi usia. Bagi yang melihatnya, ada yang memandangnya biasa saja, tapi banyak juga yang diam-diam dalam hatinya, takjub dan merasa malu, tersindir atau perasaan lain, yang terpendam dalam hati.

Lama saya pun mengamati kegiatan nenek Sulikah, yang saya tahu namanya karena kebetulan malam ini, beliau shalat isya di samping saya. Dengan keterbatasan fisik, tubuh sudah bungkuk (maaf sebelumnya), jalan pun tertatih-tatih, tapi ada cerita belIau yang sangat menggugah perasaan.

Jalan pun harus hati-hati


Nenek yang berusia 70 tahun ini, setiap harinya istiqomah shalat maghrib - isya, dan subuh di masjid Al Falah, Surabaya. Kebiasaan ini sudah beliau lakukan sejak lamaaaaaa, sejak masih muda. Menarik, pernyataan beliau bahwa shalat berjamaah itu amanah dari ibu beliau, dan beliau tunaikan hingga saat ini.

Bagaimana beliau bisa shalat berjamaah secara rutin? Sedang kediaman beliau di Dinoyo tengah 44a berjarak kurang lebih 2 km dengan masjid Al Falah? Ternyata ada becak langganan yang siap mengantar pergi dan pulang dengan ongkos dua puluh ribu. Berarti seharinya beliau habiskan empat puluh ribu. Dari mana uangnya? Jawaban nenek ini bikin saya "mbrebes mili", dari Allah swt, jawab beliau secara singkat.

"Di rumah tinggal sama siapa, Nek?", lagi-lagi jawabannya bikin saya melongo.
"Sama Allah, mbak."
Subhanallah, saya tertegun. Jawaban itu demikian yakinnya. Tiada kebimbangan dan kegusaran di raut wajah beliau. Semuanya terlihat sangat normal.
Beliau menambahkan, dulu pernah menikah, dijodohkan orang tua. Sebulan kemudian, beliau hamil, tapi keguguran. Dan sejak itu suaminya pergi tanpa kabar. Orang tua meninggal, dan beliau memutuskan hidup seorang diri hingga kini. Ada dua saudaranya di Surabaya, dan hanya seorang adiknya yang rutin mengunjungi beliau.

Ada cerita lain dari beliau yang bikin saya kembali terdiam. Sewaktu pamit pulang, beliau mampir di ruang kantor masjid. Beliau mengambil kotak "Sari Kedelai", yang berisi 60 bungkus minuman populer itu. Kotak itu telah kosong, karena isinya sudah habis dibagikan ke jamaah lainnya secara GRATIS, untuk buka puasa. 

Menurut teman, selain sari kedelai beliau kadang membawa kerupuk. Apa yang bisa ya itu yang dibawa, dibagikan ke jamaah yang lain. Dalam kehidupan yang bersahaja, Nenek Sulikah ternyata amat "kaya" hati. Satu sifat yang langka yang dimiliki orang-orang saat ini. 


 
Beliau pamit pulang, karena sudah mengantuk. Beliau setiap harinya bangun pukul 02.30 wib untuk shalat tahajud dan bersiap berangkat shalat subuh berjamaah di Al Falah. Bila tidak ada becak, karena masih larut malam, beliau berjalan kaki menuju masjid. 

Ya..... Allah, malam ini, di malam takbir selepas banyak umatmu menjalankan puasa Arafah, bagi saya, Allah tunjukkan kebesarannya. Nenek Sulikah menghiasi pemikiran saya malam ini. Diri yang masih sehat, tidak sakit, jauh lebih sempurna dari Nenek Sulikah. Tapi semangat di diri ini masih sangaaaat jauh dari beliau. Saya percaya masih banyak kisah-kisah orang hebat yang ditulis makhluk langit lebih baik dari kebanyakan orang yang sempurna secara fisik. Bisa jadi kita hanya menang " casing" diri. Hanya menang penampilan. Tapi semangat menghamba ke Allah masih kalah jauuuuuuhhhhh. Ya Allah, matur nuwun, saya diijinkan untuk bisa berguru singkat pada perempuan luar biasa ini. Terima kasih Ya Allah!

Menunggu Becak

4 komentar:

  1. Subhanallah..Semoga Nenek Sulikah selalu diberi kesehatan dan selalu dalam penjagaan-Nya..Aamiin.
    Senang bisa baca kisah inspiratif ini..
    Semoga kita semua bisa meneladaninya ya Mbak..

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus