Senin, 05 Juni 2017

BUKBER RAMADHAN 1438 BERSAMA KOORDINATOR DONATUR YDSF



Seperti tahun-tahun sebelumnya di tiap Ramadhan, YDSF rutin menyelenggarakan kegiatan buka bersama Koordinator donatur. Tahun ini mengambil tempat di depan kantor YDSF, Graha Zakat I di Jalan Gubeng Kertajaya 8C/17 Surabaya, pada hari Ahad, 4 Juni 2017.



Dihadiri sekitar seratus orang Koordinator donatur, acara sore itu di buka dengan lantunan ayat suci Al-Quran yang dibawakan oleh Bapak Sarino, salah satu Jungut YDSF. Selanjutnya disambung dengan sambutan dari Direktur YDSF, Bapak Jauhari Sani. Mewakili Pengurus dan Management YDSF, beliau sampaikan rasa terima kasih atas kehadiran koordinator donatur dan beberapa undangan dari pihak lain. 



Beliau sampaikan, dalam menyambut Ramadhan 1438 H ini, YDSF telah siap dengan gerai-gerai yang berada di beberapa event dan beberapa Mall di Surabaya, yang secara aktif akan “jemput bola” melayani donatur dan masyarakat.

YDSF yang telah berdiri selama 30 tahun, berusaha untuk lebih amanah dan professional mengelola dana umat untuk disampaikan kembali ke umat. Baru-baru ini bersama lembaga lain YDSF telah membangun kembali Masjid di Pidie, wilayah Aceh yang menghabiskan dana sekitar 124 juta rupiah.

Pada tahun ini YDSF meluncurkan “Program Ramadhan Berbagi” , berupa 10.000 paket takjil keliling, 10.000 paket buka puasa, wakaf 2.000 mushaf Al Qur-an, 5.000 paket sahur on the road, Santunan 2.000 guru Al Qur-an dan sekolah Islam serta Sedekah kurma untuk Desa. 



Bapak Arief Prasojo, selaku Ketua Fundrising YDSF mengatakan selama ini “charity” YDSF diberikan secara langsung, untuk saat ini ada beberapa perubahan, diantaranya program diberikan pada komunitas. Contohnya Sekolah Pena Bangsa yang membidik beberapa sekolah yang sebelumnya dinilai “pinggiran” karena fasilitas, sarana prasarana, juga mutu guru yang minim. Perlahan selama tiga tahun terakhir ini bersama KPI dan  Ummi Foundation, sekolah-sekolah tersebut dibenahi dengan penekanan pada :
1.      Kualitas mengaji anak didik
2.      Paham Shalat beserta artinya dan
3.      Anak-anak diedukasi untuk cinta dan bersih lingkungan.

Alhamdulillah hasilnya nyata dari 9 sekolah yang bekerjasama, beberapa diantaranya mengalami over kapasitas untuk pendaftaran murid baru. Padahal sebelumnya sekolah itu tidak menjadi unggulan. Dengan aggaran sekitar 90 juta rupiah per tahun, sekolah-sekolah Islam tersebut secara bertahap telah mengalami perubahan yang dinilai positif.

Program lainnya yang sedang dijalankan adalah “Sekolah Sahabat” , Sekolah-sekolah Islam yang middle up bermitra dengan sekolah-sekolah Islam yang “kurang”. Membantu sarana dan prasarana sekolah tersebut. Yang sudah direalisasikan adalah antara SDI Al-Falah Tropodo dengan beberapa SD/MI di Bangkalan. Bulan kemarin telah didirikan Perpustakaan di SD/MI di Bangkalan. Diharapkan tindak lanjut program ini lebih meluas dan banyak menjangkau sekolah-sekolah Islam lainnya.

Kajian Parenting bersama Ust. Bagus Sanyoto



Acara selanjutnya adalah kajian singkat Parenting yang menghadirkan Psikolog Bagus Sanyoto. Beberapa saat yang hadir diajak untuk “waspada” akan bahaya penggunaan gadget di kalangan anak-anak. Beliau menguraikan bahaya kecanduan penggunaan gadget yang melemahkan kinerja otak dan alat indra lainnya. Demikian juga bahaya gadget pada hubungan orang tua dan anak dan perkembangan fisik, mental serta spiritualnya.

Moment Ramadhan hendaknya kita jadikan sebagai  bulan “Back to Allah”. Kurangi penggunaan HP untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya. Bangun komunikasi dengan anak dan anggota keluarga lainnya. Otak, mata, telinga, mulut, hati, hidung, tangan kembalikan pada fungsi fitrahnya.

Pada bulan Ramadhan ini, hendaknya kita terapkan 4 Re :
1.      Re-train, latihan lagi. Semua indra dilatih untuk kembali ke “normal”
2.      Re- Fresh, Ada pencerahan baru bila puasanya benar
3.      Re-Ward dari Allah, bila puasanya dijalankan dengan sepenuh keimanan
4.      Re-Born, Diri bagaikan terlahir kembali, Fitrah menjadi suci.

Kajian singkat ini diharapkan dapat membawa perubahan sikap pada orang tua yang saat ini pun mereka telah menjadi korban “gadget”. 



Adzan Maghrib yang berkumandang menandai datangnya waktu berbuka, dan mengakhiri kajian yang disampaikan oleh sang pemateri. Semua yang hadir segera membatalkan puasa dengan air putih dan kurma, dan bersiap untuk shalat Maghrib.