Jumat, 23 Oktober 2015

DAKWAH BIL QALAM (DAKWAH LEWAT TULISAN)



sumber : dakwah.pelajar.blogspot.com


Dakwah adalah tindakan untuk mengajak, menyeru dan menunjukkan seseorang untuk berbuat kebajikan. Selama ini kita beranggapan bahwa tugas untuk berdakwah itu ada di tangan ustadz/kyai atau mubaligh. Padahal tiap pribadi muslim, termasuk kita  mempunyai tugas yang sama. Nah, lho??

“Nggak pede, nggak punya ilmunya, nggak mungkinlah, atau belum waktunya adalah serentetan jawaban yang akan kita kemukakan. Lantas, apa yang membuat kita mau memulainya?? Apakah nunggu pede dulu, nunggu ilmunya segunung atau nunggu kalau nanti sudah pantas. Berapa banyak waktu yang terlewat bila menunggu semua itu ada pada diri kita? Kita lah, umat muslim yang mengemban tugas mulia itu untuk tetap membuat Islam tegak dan lebih meluas menjadi rahmatan lil alamiin.

Rasululullah bersabda “Siapa yang menunjukkan jalan hidayah, ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikuti seruan dakwahnya, tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.” (HR. Ibnu Majah)

Firman Allah dalam Qs Al-“Asr (1-3)
Demi masa(1). Sungguh, manusia berada dalam kerugian(2). Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran(3).

Dakwah bil Qalam atau dakwah lewat pena (dalam hal ini tulisan) menjadi salah satu jalan menyebarkan Islam. Bukankah sejak awal Islam adalah agama yang mengajarkan baca-tulis. Di akhir perang Badar, Rasululullah membebaskan tawanan perang yang mau mengajarkan tulis menulis di kalangan sahabat dan putra-putranya. Semangat ini direspon dengan sangat antusias oleh Sahabat-sahabat saat itu. Terbukti dengan produktifnya penulisan ayat-ayat Qur’an dan hadits Nabi Muhammad SAWdalam lembaran-lembaran. Dari sinilah kita tetap bisa membaca Qur’an, hadits dan kitab-kitab yang ditulis oleh ulama pada jamannya.

Relevansinya dengan kondisi saat ini di mana ada keterbatasan waktu dan kesempatan bila dakwah dilakukan lewat lisan. Berkembangnya media sosial/internet yang diakses 61% masyarakat kota di Indonesia dan hasil survey yang dilakukan oleh Gfk dan Geogle menyebutkan rata-rata butuh waktu 5,5 jam perhari untuk mereka“pelototi ponsel” membuat kesempatan tersendiri. Lewat tulisan, dakwah berkembang lebih luas lagi menembus ruang, waktu, usia dan jarak. Dan menuntut peran kita untuk lebih aktif memperkenalkannya kepada keluarga, anak, saudara, teman dekat, tetangga dan teman agar  aktifitas ini berujung pada hal-hal yang positif.

Apa yang bisa kita tulis? Tentunya materi atau hal-hal yang kita kuasai, jangan menulis di luar kemampuan kita. Islam tidak terbatas pada materi-materi ritual, tetapi bisa lebih luas menyangkut motivasi, kehidupan sosial atau ekonomi atau hal-hal kecil yang mampu menginspirasi orang lain untuk berubah dan mau berbuat kebaikan.

Tulisan bersifat lebih tahan lama, selama dia tercatat dalam wadahnya (buku/kitab/web) tentu kebaikan yang terkandung di dalamnya akan tetap mengalir selama ada yang membacanya. Ini juga bisa disebut sebagai amal jariyah berupa ilmu yang akan membuat orang lain terinspirasi dan memutuskan untuk berubah. Tulisan ini tetap ada sekalipun kita sudah tiada. Gajah saja mati meninggalkan gading, sedang manusia tiada harusnya meninggalkan apa? Tentunya amal baik yang dikenang banyak orang.

Jangan menunda untuk memulai satu hal kecil yang bernilai kebaikan. Niatkan semata-mata untuk memperoleh rahmat dan ridho Allah SWT. Mulai saat ini untuk mau menuliskan pengalaman, pengetahuan dan hal-hal kecil atau besar yang dirasa punya nilai positif untuk orang lain. Jangan disimpan dalam hati/pikiran atau buku diary saja, ayo tuliskan dan sebarkan. Semoga bermanfaat.

Minggu, 04 Oktober 2015

MEMBENTUK KELUARGA CANTIK MULIA




Bertempat di hall Bank Permata, jalan Panglima Sudirman Surabaya, seminar parenting yang menghadirkan Bunda Kastini S. Karpan diadakan pada Minggu, 4 Oktober 2015. Peserta berdatangan sejak sebelum acara dimulai. Acara ini didukung oleh Yayasan Yatim Mandiri dan Travel umroh dan Haji Mabrur Mandiri.
Bunda Kastini S. Sarpan adalah motivator parenting Cantik Mulia yang telah banyak memberi pencerahan pada perempuan, calon ibu dan juga sudah menjadi ibu. Perempuan cantik berhijab ini menyapa hadirin yang hadir dengan gaya “khas dan gayeng”. Sekali pun sudah bercucu tiga, beliau masih energik dan tampil lebih muda dari usianya.


Dalam materi awal, beliau mengilustrasikan banyaknya perempuan yang selalu galau, uring-uringan, jengkel dan marah berkepanjangan bila anak-anaknya melakukan kesalahan. Mengapa selalu marah? Mengapa tidak tersenyum Bunda? Bila mendapati putra-putri melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak Bunda? Setiap rumah tangga, pasti mendambakan kebahagiaan yang seutuhnya, terjalin diantara sesama anggota dan bersifat “lama”, tidak semu. Kebahagiaan itu harus berlanjut sampai ke surga.

Firman Allah dalam surat At-Tahrim ayat 6 :
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dank eras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Ayat di atas memerintahkan kita untuk selalu menjaga baik secara pribadi atau keluarga untuk melindungi diri dari api neraka.

Dalam surat At-tagabun ayat 14, Allah berfirman :
“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Penjelasannya : Kadang istri atau anak dapat menjerumuskan suami atau bapaknya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama.


3 Prinsip utama Parenting

Dalam keluarga, untuk mewujudkan anak-anak yang soleh-solehah, sesuai dambaan orang tua, harus memiliki 3 prinsip :

  1. Anak adalah harta yang paling berharga
Anak adalah asset masa depan bagi orang tua, melebihi harta karun. Mengapa? Karena anak-anak kita lah yang mendoakan kita setelah kita mati, dan doa itu yang kita perlukan, bukan harta dunia.
Saat kita memiliki emas dan asset berharga lainnya, kita pasti menyimpannya di tempat yang aman, menjaganya dan berusaha untuk mempertahankan agar tidak hilang. Tetapi di saat kita memiliki anak, mengapa kita lebih memercayakan pengasuhannya kepada seorang pembantu? Siapa yang lebih berharga? Anak atau harta kita itu.

  1. Setiap Ibu dan Ayah akan ditanya tentang anaknya.
Bagaimana kita mengasuh anak, apa yang kita ajarkan pada anak-anak kita dan bagaimana hasil akhir anak kita, tentulah akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah. Karena anak itu amanah. Maka orang tua harus lakukan hal apapun terhadap anak demi menyelamatkan anak dari api neraka.

  1. Anak bukan miniatur dari orang dewasa.
Apa yang dimaui orang tua belum tentu sesuai dengan keinginan anak. Jangan terlalu memaksakan kehendak pada anak-anak kita. Orang tua harus tahu cara mendidik dan berkomunikasi pada anak. Memilih sekolah, menentukan hal-hal penting lainnya haruslah sesuai dengan kemampuan dan keinginan anak, orang tua harus bisa mengarahkan dan menjadi penengah terbaik.      .

Keluarga yang tenang, bagai di surga Baiti-jannati, adalah kondisi dimana diantara anggota keluarga ada keterikatan hati, sama-sama berupaya mewujudkan ketenangan keluarga, orang tua dan anak saling mendukung dan berusaha mewujudkan tujuan akhir, bahagia di akherat dan dunia.

Bunda Kastini S. Kaspan memaparkan 3 langkah untuk mewujudkan keluarga Baiti-Jannati :

  1. Samakan Visi Keluarga
Visi dalam berkeluarga harus dimulai di saat sebelum menikah.
Visi adalah pandangan/angan-angan/ cita-cita/ target yang akan diraih hingga akherat menjadi akhirnya. Antara orang tua dan anak harus ada komunikasi sejak awal/kecil dalam menetapkan visi orang tua dan anak. Biasakan berbicara dengan anak, menjelaskan pada mereka tentang visi keluarga. Hal ini sangat jarang dilakukan orang tua di sekitar kita. Membangun visi bisa dimulai di meja makan, di saat-saat rekreasi  keluarga atau di saat luang dengan melibatkan semua anggota keluarga.

Visi itu harus ditetapkan, antara visi akherat dan visi dunia.

Dalam Surat Al-Qashash : 77, Allah berfirman :
“ Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlan kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklan (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.

Antara akhirat dan dunia, dahulukanlah akhirat, karena dunia akan mengikuti apa yang kita usahakan untuk akhirat. Kalau disuruh memilih antara mendahulukan akhirat atau dunia, ayat di atas dengan jelas memberi tuntunan untuk kita. DAHULUKAN URUSAN AKHIRAT.

Visi Akhirat : Masuk surga bersama Nabi Muhammad SAW dan ummahatul mukminin. Tempat paling terhormat dengan seluruh keluarga, anak dan cucu dan semua saudara se-iman dan Islam.

Visi dunia : Aku ingin diriku menjadi orang shaleh, anakku pun jadi anak sholeh, mempunyai anak penghafal quran, dan lain-lain.

  1. Rencanakan aksi strategis.
Antara orang tua dan anak harus memulai rencana-rencana dengan tepat. Mulai dengan memilih sekolah dan pendidikan pendukung yang tepat.
Aksi strategis itu :

1.      Aksi yang membuat kita bekerja dengan keras. Ada motivasi besar yang mendorong kerja keras itu terwujud.
2.      Aksi yang membuat kita bekerja dengan cerdas
3.  Aksi yang membuat kita bekerja dengan ikhlas. Kerja ikhlas melibatkan Allah, ada ketergantungan dan meminta kepada zat yang mempunyai kekuasaan.

3.Jalankan aksi sebagai a Team

“Together everyone achieve more”

Saling bekerjasama antara satu anggota keluarga dengan yang lainnya . Jangan jadikan anak-anak kita sebagai generasi “home service”, generasi yang lemah, yang mintanya dilayani, sebagai gambaran, anak yang sudah bisa makan sendiri secara umur tapi tetap disuapi, dalam bersekolah tetap diantar, sewaktu besar tetap dipenuhi dengan segala kemudahan tanpa harus mengusahakannya sendiri. Jangan jadikan anak-anak manja dengan segala fasilitas yang ada. Orangtua harus melahirkan generasi mandiri yang mampu mengatasi segala permasalahan hidup, tanpa menggantungkan kemampuan orang tua. Mereka harus punya “life skill”, kemampuan untuk bertahan hidup.

Sebagai kata penutup, Bunda Kastini berpesan kepada semua yang hadir untuk selalu mengupayakan hal-hal yang terbaik untuk keluarganya. Bekali anak-anak dengan ilmu agama. Jangan lupakan, bahwa orang tua bertanggung jawab akan apa yang terjadi pada keluarganya.

Mulai sekarang, ajak anak-anak untuk tahu visi pribadinya, apapun profesinya nanti, jadikan surga sebagai tujuan akhirnya.