Senin, 28 September 2015

TEBAR QURBAN KE PELOSOK DESA BERSAMA YDSF dan FK2D



Idul Qurban tahun ini terasa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kali ini bersama rombongan koordinator donatur YDSF yang berjumlah 30 orang, saya mengikuti tebar daging qurban di pelosok desa di kecamatan Wonosalam, Jombang pada hari tasyrik, Sabtu, 26 September 2015. Demi kelancaran acara, sebelumnya sudah minta ijin tidak masuk kerja.

Ba’da shalat Subuh semua peserta sudah berkumpul di Masjid Al Falah. Sempat molor beberapa saat, tepat pukul 05.40 WIB, bus mini warna biru membawa rombongan meluncur ke tujuan, daerah sentra durian di Jombang. Sebelumnya sempat beberapa saat berhenti untuk membawa peserta yang sengaja naik dari beberapa titik, seperti daerah by pass Krian dan Terminal Mojokerto.

Alhamdulillah, tepat pukul 08.20 WIB rombongan tiba di Islamic Centre Wonosalam yang dikomandoi Ustad Faizin, dai muda yang membawa banyak perubahan di sekitar kecamatan Wonosalam. Bangunan hijau berlantai dua ini menjadi pusat dakwah dan pendidikan. Selama menunggu satu mobil lagi dari Surabaya, kami di jamu aneka makanan ringan.

Tepat pukul 09.00 WIB kami dipersilahkan ke asrama putra yang terletak kurang lebih 100 m dari pondok putri untuk menyaksikan secara langsung pemotongan 2 ekor sapi. Sebelumnya telah dilaksanakan pemotongan 11 ekor kambing hasil dari qurban para donatur YDSF. Suasana asri membuat para peserta sejenak melupakan kebisingan kota Surabaya.





Ustadz Faizin selaku ketua panitia memberi arahan peserta pembagian daging qurban. Rombongan di bagi 2 kelompok yang bertugas membagi daging qurban di wilayah desa Jarak (berjarak sekitar 15 km) dan Kampung Baru/Aceh (warga trans dari Aceh yang telah di beri tanah oleh pihak Perhutani).


Team ke Desa Jarak

Saya masuk kelompok pertama yang bertugas ke dua dusun di desa Jarak, Wonosalam, Jombang. Sekalipun hanya berjarak 15 km dari ICW, waktu tempuh yang kami jalani sekitar 30 menit dengan bus mini. Akses jalan awalnya mulus, mendekati lokasi, jalanan kadang beraspal mulus diselingi jalan makadam. Di kanan kiri hutan dengan aneka pohon durian, cengkeh, dan pohon sengon. Rumah penduduk pun kian jarang. Ternyata dusun yang kami tuju berada di perbatasan wilayah hutan di pegunungan Arjuna





Di ketinggian tersebut signal HP tidak ada, kanan kiri jurang menganga dengan keindahannya. Bus berhenti di ujung dusun Tegalrejo. Sempat terjadi insiden kecil, karena bus tidak bisa putar balik, harus mundur dengan arahan warga setempat yang paham kondisi jalan. Alhamdulillah, kondisi bisa di atasi dengan bantuan warga yang datang tanpa dikomando.


Sejenak beristirahat di mushala dusun untuk shalat Dhuhur. Suguhan teh hangat dari warga setempat membuat energi peserta yang sempat turun karena kelelahan seolah muncul lagi. Pembagian di lanjutkan dengan jalanan menanjak dan dalam kondisi pembangunan di sana-sini.



Dusun Tegalrejo terletak di paling ujung wilayah desa Jarak. Hanya sekitar 60 kepala keluarga yang bermukim di dusun ini. Kondisi warganya banyak yang berkekurangan. Bahkan tak jarang sewaktu pembagian daging qurban, sebagian warganya tidak menerima karena jangkauan wilayahnya. Sedang yang menerima pembagian daging pun biasanya tak lebih dari 300 gram. Banyak koordinator donatur YDSF yang menitikkan air mata melihat ketimpangan yang ada. Umumnya bapak-ibu koordinator mengaku mendapat pembagian daging qurban lebih besar dari itu. Ucapan syukur pun tak henti di panjatkan karena berkesempatan melihat secara langsung kondisi saudara-saudara kita yang berkekurangan, dan merasakan kebahagiaan begitu rombongan kami datang.

Sebelum waktu Ashar, rombongan telah tiba kembali di Islamic Centre Wonosalam, di lanjut dengan makan siang. Setelah beberapa saat berdiskusi antara pengurus FK2D (Forum Komunikasi Koordinator Donatur) dengan peserta lainnya, di putuskan untuk kembali ke Surabaya setelah shalat Ashar.

Dari beberapa koordinator donatur YDSF yang sempat berbincang dengan saya, umumnya mengatakan setuju untuk program seperti ini di lanjut di tahun-tahun mendatang. Mereka pun berterima kasih kepada YDSF yang telah memberi kesempatan untuk bersama-sama melihat secara langsung pembagian daging qurban di pelosok desa. Kalau di wilayah kota, umumnya pembagian daging itu berlimpah dan bahkan bisa di katakan berlebih. Pelosok desa lebih membutuhkan dan lebih tepat sasaran dalam pembagian daging qurban. Semoga di tahun mendatang para pequrban lebih memercayakan hewan qurbannya ke YDSF, sehingga banyak warga pelosok desa di wilayah lain juga menikmati daging qurban. Aamiin