Kamis, 30 April 2015

PELANGI KEHIDUPAN BMI HONG KONG



sumber www.wikiwand.com


Hong Kong, negeri bekas koloni Inggris yang menjadi salah satu tujuan ribuan Buruh Migrant Indonesia (BMI) mencari penghidupan. Ada banyak cerita ditorehkan, suka-duka, tawa dan tangisan, senyum dan air mata. Selama ini kita sering mendengar kisah kelam tentang kehidupan saudara-saudara kita di Hong Kong. Kematian dua BMI yang dimutilasi, kisah pilu Erwiana yang disiksa majikannya dan cerita cinta sepasang sejoli BMI perempuan yang memprihatinkan. Tetapi di balik itu, ada juga banyak kisah tentang kesuksesan, perjuangan, kerja keras, kesetiaan, kesabaran  dan harapan indah akan masa depan, laiknya sebuah pelangi yang bersinar di sela-sela rintiknya hujan. Indah sekali.

Saya mengenal Mbak Laras (bukan nama sebenarnya) hampir enam tahun lamanya. Tapi saya tidak pernah bertatap muka dengannya. Komunikasi kami terhubung lewat telepon dengan no +852********, nettalk dan Whattsap setiap harinya. Mbak Laras (42 tahun) berasal dari Ponorogo. Pendidikan formalnya adalah lulusan SMEA. Mbak Laras telah mengadu nasib di Hong Kong selama sembilan tahun. Ia tinggalkan anak dan suaminya dengan satu harapan yang mulia, mengubah kehidupan menjadi lebih baik.

Meninggalkan tanah air dan hangatnya kehidupan keluarga, bukanlah perkara mudah. Kehidupan megapolitan Hong Kong yang gemerlap dan kebebasannya yang di luar batas, menjadi tantangan tersendiri dalam menggapai cita-cita. Butuh pengendalian diri, kekuatan memegang prinsip, memilih pergaulan yang tepat dan kesetiaan yang tak tergoyahkan oleh jarak dan waktu, untuk bisa survive di negara yang terkenal sebagai salah satu surga belanja dunia.
Hong Kong dan kesibukannya

Di Hong Kong, Mbak Laras tinggal di daerah To Kwa Wan, Kowloon. Ia mengawali harinya setiap pagi tepat pukul 05.00 waktu Hong Kong (pukul 04.00 WIB). Aktifitas pertamanya adalah membersihkan diri dan bersiap menjalankan shalat subuh, satu rangkaian ibadah yang amat mudah ditinggalkan para BMI begitu menginjakkan kaki di negeri tidak bertuhan tersebut.
“Apapun kondisinya, saya berusaha untuk tidak meninggalkan shalat, dan beruntungnya majikan tidak melarang saya dalam menjalankannya.” terang Mbak Laras.
 
salah satu flat di Hong Kong
Kamar Mbak Laras

Mandi pagi bagi sebagian BMI bisa saja menjadi kebiasaan yang tidak dilakukan di Hong Kong, mereka hanya menggosok gigi, dan membersihkan diri secukupnya. Tidak mandi pagi bagi banyak orang Hong Kong seakan sudah menjadi kebiasaan. Hal ini disebabkan karena harga air yang sangat mahal di sana. Tagihan rekening air untuk dua orang selama dua bulan berkisar antara 500 -1000 Dolar Hong Kong (kurs Rp. 1600, sekitar Rp. 800.000 – Rp. 1.600.000).

Menyiapkan sarapan pagi untuk kedua majikan dan anak lelaki mereka satu-satunya yang berusia 15 tahun menjadi kegiatan rutin setelah itu. Menu hariannya adalah segelas susu dan sepotong roti/sandwich. Majikan laki-laki Mbak Laras bekerja di agen property, sedangkan sang istri beraktifitas di perusahaan travel. Keluarga sang majikan sangat toleran dan memperlakukan asisten rumah tangganya dengan baik.

Berbelanja keperluan ke pasar menjadi rutinitas selanjutnya. Ada list belanja yang harus disiapkan dan disesuaikan dengan menu masakan hari itu. Besarnya belanja disesuaikan dengan kemampuan tiap keluarga majikan. Bagi yang mampu, menghabiskan 100 - 150 $ HKD perhari sudah termasuk angka minimum. Menu wajib bagi keluarga majikan Mbak Laras setiap harinya adalah tersedianya sup. Bisa sup dari daging babi, daging sapi dan ayam juga olahan ikan segar. Dengan bijak Mbak Laras minta dispensasi ke majikan untuk menghidangkan sup daging babi seminggu dua kali saja, adapun hari lainnya adalah kombinasi dari sup daging sapi dan ayam. Majikan menyetujuinya dan tetap memberi ruang untuk Mbak Laras berkreasi dalam menu masakan setiap harinya.
 
Daftar Belanjaan, sumber : dokumen pribadi
Pedagang Kaki Lima Ala Hong Kong, sumber : dokumen pribadi
Pasar Sayur dan Buah, sumber : dokumen pribadi
Pasar Ikan, sumber : dokumen pribadi

Daging babi tetap menjadi satu masalah besar bagi Mbak Laras. Dari awal majikannya tahu kalau perempuan berhijab itu pantang mengkonsumsinya. Untuk peralatan makan pribadinya disendirikan, tidak bercampur dengan yang lain. Sekalipun begitu Mbak Laras sadar, tidak ada kondisi seratus persen di Hong Kong yang bebas dari najis baik kecil maupun besar, dibandingkan negeri yang berpenduduk mayoritas muslim seperti Indonesia. Tetapi itulah tantangannya, bagaimana kita tetap istikomah ditengah kondisi tersebut tanpa meninggalkan kewajiban dan tetap beribadah. Untuk mengantisipasinya sewaktu mandi Mbak Laras menggunakan sabun khusus yang berbahan lumpur, demi menjaga ketenangan hati dalam menjalankan ibadah hariannya.
 
sumber : dokumen pribadi
Dalam keseharian di rumah, Mbak Laras tetap bebas berhijab, tanpa ada larangan dari sang majikan. Anak majikan yang berusia remaja pun menghormati laiknya ibu kandungnya, karena dari kecil dalam asuhan Mbak Laras. Kekhawatiran adanya pelecehan seksual seperti yang biasa terjadi sebenarnya ada. Tapi semuanya tetap ia pasrahkan pada kekuasaan Allah. Perempuan mungil ini berprinsip dimanapun berada harus selalu menyandarkan diri pada-Nya, selalu berusaha berbuat kebaikan, maka akan selalu dijumpai kebaikan dalam bentuk lain. Ia Pasrahkan hidupnya dalam genggaman-Nya dan yakin akan jaminan keamanan dari Rabbnya.

Warga Hong Kong lebih memercayakan pengasuhan buah hatinya ke asisten rumah tangga yang berasal dari Indonesia, mereka menghindari tenaga kerja asal Filipina. Pertimbangan utamanya karena BMI Indonesia lebih sabar, mampu menjaga dan merawat anak-anak dengan penuh kelembutan. Alasan lainnya BMI kita jarang complain, dan sering menghindari keributan.

Meninggalkan suami dan anak lelaki semata wayang yang berusia 7 tahun waktu itu, tentu menjadi beban tersendiri bagi Mbak Laras. Masa awal meninggalkan buah hati dalam usia dini sering membuat tangis dan kesedihan yang berulang. Rasa itu sangat terasa di penampungan. Jauh dari keluarga, tinggal sendiri di negeri orang dengan gambaran kelam yang selalu menjadi buah bibir juga menciutkan hatinya. Beruntung ia memiliki suami dan keluarga besar yang sangat mendukung langkahnya, memberi support dan memiliki komitmen yang sama.

Saat ini, kemajuan teknologi sangat membantunya dalam berkomunikasi, telepon ke kampung halaman bisa dilakukan setiap saat. Perkembangan buah hati masih tetap bisa dipantau sekalipun tidak berada disisinya selama 24 jam. Peran orang tuanya juga tidak kecil, mengasuh dan memperhatikan tumbuh kembang cucu menggantikan peran ibu kandungnya. Setiap dua tahun sekali, dalam masa cuti, Mbak Laras baru bisa bersua dengan keluarga. Waktu singkat selama dua minggu itu ia manfaatkan untuk berkumpul dengan anak suami dan orang tua.

Ada satu hal yang sangat ia syukuri, dalam usaha memperbaiki ekonomi keluarga, sang suami juga berperan serta. Sebagai petani sawah dan buah melon, ketekunan dan keuletan serta kesetiaannya juga perlu mendapat acungan jempol. Sang suami tahu menempatkan diri, masih berperan sebagai kepala keluarga, dan tidak bertindak seenaknya seperti yang digambarkan dalam unggahan video oleh beberapa BMI Hong Kong di you tube beberapa waktu lalu yang terkenal dengan “Rumangsamu Penak”. Permasalahan keluarga tetap didiskusikan dan dicari solusi terbaik bersama istri, sekalipun terpisah jarak ribuan kilometer.

Perubahan ekonomi dan materi selama bekerja di luar negeri, juga tampak signifikan. Rumah keluarga telah berubah dari aslinya. Investasi tanah dan property, perhiasan dan hewan ternak sudah mencukupi. Saat ini selain menjadi petani, sang suami juga membuka usaha penyewaan mobil, dan usaha kos-kosan.
Istana Mbak Laras di Indonesia, sumber : dokumen pribadi
Kebun Melon, sumber : dokumen pribadi
PANEN MELON, sumber : dokumen pribadi

Waktu libur hari Minggu atau hari khusus bagi BMI Hong Kong banyak dihabiskan dengan berkumpul bersama teman-teman. Tapi tidak dengan perempuan satu ini. Setiap Ahad pagi, ia bergegas pergi Masjid Ammar and Osman Ramju Sadick Islamic Centre, Wan Chai untuk menghadiri pengajian rutin atau kegiatan keagamaan lainnya. Banyak juga BMI Hong Kong yang hadir. Mereka mendapat pelatihan-pelatihan, pengembangan diri, motivasi dan keterampilan untuk mempersiapkan diri pasca berhenti sebagai BMI. Bertemu dan bersosialisasi dengan rekan sedaerah atau lainnya tetap dilakukan, tetapi tetap dengan memperhatikan adab dan perilaku dari yang bersangkutan. Mbak Laras sadar, banyak teman-teman BMI yang meniru kebiasaan dan perilaku orang Hong Kong asli dalam mengekspresikan kebebasan yang berbeda jauh dengan budaya asli Indonesia.
Masjid Ammar, Wan Chai, sumber: dokumen pribadi

Mengatur keuangan secara ketat dan menghidari pemborosan juga menjadi perhatian serius dari perempuan ayu ini. Fakta yang terjadi di kalangan BMI Hong Kong menjadi pelajaran berharga baginya. Jeratan hutang bank hingga mengakibatkan terminate sangat ia hindari. Kebanyakan BMI Hong Kong yang terseret kasus bank ini adalah dengan berhutang di bank yang tidak sesuai dengan kemampuan untuk membayarnya, juga mudah percayanya seorang BMI menjadi saksi atas pengambilan hutang temannya. Begitu tidak bayar, akhirnya pihak bank melakukan penagihan dengan mengkonfirmasi pihak majikan yang bersangkutan. Kejadian ini berpotensi besar pada kemarahan majikan, dan akhirnya banyak BMI Hong Kong yang di terminate (pemutusan hubungan kerja dari pihak majikan).

Harga makanan Indonesia di Hong Kong, sumber : dokumen pribadi
  
Mbak Laras punya kesadaran yang tinggi bahwa ia tidak selamanya akan mengadu nasib di Hong Kong. Ini pun didasarkan pada beberapa pertimbangan dan fakta perubahan yang terjadi dalam kehidupan keluarganya. Ia tetap punya target, berapa tahun ke depan tetap mengais Dolar Hong Kong, dan untuk selanjutnya pulang ke Indonesia selamanya.
“Target saya untuk pulang adalah setelah anak saya selesai kuliah, dan semoga rencana ini dijabah Allah, karena saya sadar sebagai manusia boleh berencana, tapi kondisi akhir saya tetap yakin pada keputusan Allah.” Demikian penjelasan Mbak Laras.

Aktifitas di sore hingga malam hari adalah menyiapkan menu makan malam. Di Hong Kong ada kebiasaan positif diantara majikan dan asisten rumah tangganya. Kalau makan malam mereka biasanya makan bersama, dalam waktu yang sama dan di meja makan yang sama. Mbak Laras memasak sekitar pukul 18.00 hingga 19.00, dilanjut makan malam. Setelah itu beres-beres, dan mandi malam. Orang Hong Kong biasa hanya mandi malam sebelum tidur.

Di atas pukul sembilan malam adalah momen “me time” bagi Mbak Laras. Kebiasaan yang dilakukan adalah  shalat Isya dan tilawah Quran, membaca koran bahasa Indonesia serta kegiatan lainnya. Maksimal pukul sebelas malam, semua aktifitas berakhir.
Koran Hong Kong, menambah wawasan, sumber : dokumen pribadi


PENDAPAT PENULIS TENTANG BMI HONG KONG

Cerita kehidupan seorang Mbak Laras dengan semua perjuangan, perubahan hidup dan keberhasilan yang diraihnya menjadi penyeimbang pada berita-berita miring tentang BMI Hong Kong. Fakta yang dialami Mbak Laras juga banyak dialami BMI lainnnya, hanya saja tidak terekspos. Banyak yang menganggap kebaikan dari Sang Majikan dan keberhasilan yang diraih adalah sebuah keberuntungan semata. Sedangkan BMI lain yang mendapat perlakuan buruk dari majikan, mengalami kemunduran moral dan perilaku melenceng dari norma adalah ketidakberuntungan dari yang bersangkutan. Kedua pendapat ini sah-sah saja.

Dari yang saya dengar, saya amati dan juga berdasar wawancara langsung dengan sekitar 2500 BMI sejak 6 tahun yang lalu hingga saat ini, saya bisa sampaikan sebagai berikut :

  1. Terkait Masa Kerja
Ada sekitar 1500 BMI Hong Kong yang menghabiskan masa kerjanya lebih dari 5 tahun. Tentunya pencapaian secara materi sudah mengalami perubahan yang signifikan. Rumah yang berubah dari aslinya, perabot dan fasilitas rumah yang lengkap, tabungan, tanah, sawah, mobil, dan jenis investasi lainnya mereka punyai.
Ada satu pertanyaan saya ke mereka dan ini menjadi kegusaran hati saya selama ini, “Kok nggak balik ke Indonesia Mbak, sampai kapan mau tetap bekerja di Hong Kong?”
Jawaban mereka beragam, secara garis besarnya menyebut :
·       Belum Mbak, wong anak saya belum selesai sekolahnya, nanti kalau balik Indonesia nggak tuntas sekolah mereka. Sekarang ini semua mahal, kembali ke desa sama saja balik ke kondisi asal.
·      Belum mau balik, karena di sini enak cari duitnya, di Indonesia gaji asisten rumah tangga nggak ada nilainya, sedangkan kemampuan saya sangat minim. Saya yang lulusan SD atau SMP saja bisa angkat ekonomi keluarga.
·        Belum Mbak, lha kalau balik Indonesia saya kerja apa? Sudah di sini saja, wong majikan juga melarang saya pulang karena sudah bertahun-tahun dan ada kecocokan.  

Banyak fakor yang membuat mereka setiap dua tahun memperpanjang kontrak, dan belum menentukan sampai kapan mereka harus mengadu nasib di negeri orang. Menurut saya kondisi perekonomian tanah air yang lebih sulit dibandingkan Hong Kong dan belum tercapainya tujuan awal menjadi alasan utamanya.

  1. Terkait status pernikahan
Saya memang tidak punya angka pasti dari data yang saya punya, berapa dari mereka yang masih single dan berapa yang berstatus sebagai janda (mengalami kegagalan dalam perkawinan). Dan lagi-lagi ini kegusaran hati saya, mereka yang berstatus janda pada akhirnya mejadi penopang ekonomi keluarga. Banyak faktor yang mendorong tingginya angka perceraian baik sebelum atau sesudah menjadi BMI Hong Kong. Faktor ekonomi salah satunya yang mendominasi dan faktor orang ketiga atau terjadinya perselingkuhan.

Banyak dari mereka yang curhat ke saya (tanpa direncanakan sebelumnya), bahwa suami-suami di Indonesia tidak bertanggung jawab, meninggalkan kewajiban atau juga berpaling ke lain hati, dan ini menjadi pendorong untuk bekerja di Hong Kong. Rasa sakit hati ini juga banyak didasari keinginan untuk bisa menyekolahkan anak lebih tinggi, mengubah kehidupan asal yang susah, dan membayar hutang yang menumpuk sebelumnya.

Keputusan untuk terbang ke negeri orang dengan segala tantangannya, kesulitan bahasa, keminiman kemampuan tidak menjadi ketakutan bagi mereka. Adanya tujuan yang hendak dicapai mengalahkan segalanya dan menjadikan perempuan-perempuan luar biasa ini mempunyai tekat yang sangat besar untuk mengubah kehidupannya.

  1. Tingkat Pendidikan
Dari pengamatan saya, untuk mereka yang bekerja lebih dari 10 tahun, rata-rata usianya lebih dari 35 tahun. Tingkat pendidikan umumnya lulusan SD dan SMP. Sedikit sekali yang lulus SMA. Sedang yang punya masa kerja antara 5-10 tahun, sebagian besar lulusan SMP dan SMA.

Tingkat pendidikan ini juga mempengaruhi cara bersikap, bertutur kata, kekuatan memegang prinsip dan cara mengelola keuangan. Meski tidak ada data realnya. BMI Hong Kong yang lulusan SMA kebanyakan lebih aware dengan istilah-istilah bahasa saat ini. Mereka lebih luwes dalam bertutur kata, demikian juga yang lulusan SMP.

Saya pernah wawancara dengan BMI Hong Kong yang sudah berusia diatas 45 tahun, dan telah berada di sana selama lebih dari 15 tahun. Beliau tidak lulus SMP. Dari cara bicaranya sangat kaku, membentak-bentak dan sangat menunjukkan kalau berstatus “OKB” (Orang Kaya Baru), tetapi ini hanya saya jumpai dalam jumlah sangat kecil. Banyak juga dari mereka yang sangat halus dalam berbicara, sopan, dan terkesan baik. Mengajukan pertanyaan pun tidak membentak-bentak. Untuk BMI yang type-type seperti ini saya lebih mudah akrab dan banyak tahu tentang kehidupan mereka, meski wawancara saya berlangsung sangat singkat, hanya sekitar 2-3 menit.

  1. Asal Daerah
Selama kurang lebih enam tahun berinteraksi dengan BMI Hong Kong, saya dapat memetakan asal daerah mereka (bukan data resmi yang dipunyai Pemerintah). Jawa Timur menjadi propinsi terbesar asal BMI tersebut, dengan urutan Malang, Ponorogo, Banyuwangi, Blitar, Madiun, Kediri dan Tulungagung. Surabaya sebagai ibukota menyumbang hanya sebagian kecil dari BMI tersebut.
BMI asal Jawa Tengah berada di Kendal, Cilacap, Banyumas, Grobogan, Semarang dan Brebes. Untuk Jawa Barat didapati Indramayu, Subang, Cirebon, Karawang dan sedikit yang asal Bandung.

Dalam peraturan yang berlaku saat ini, BMI Hong Kong mendapatkan gaji perbulan sebesar 4.110 Dolar Hong Kong (sekitar enam jutaan dengan kurs rupiah). Penghasilan besar ini juga berbanding lurus dengan tingginya biaya hidup di sana. Gaji besar ini juga menjadi salah satu daya pemikat BMI berbondong-bondong ke negeri asal Jackie Chan ini.
Dolar Hong Kong, sumber : dokumen pribadi

Setiap bulan, ada antrian BMI asal- daerah tertentu yang sudah pasti berangkat ke Hong Kong. Dengan kondisi saat ini, mereka rata-rata berusia muda, dibawah 25 tahun. Umumnya profesi yang menjadi sasaran adalah asisten rumah tangga dan pengasuh anak/orang tua.

Goal-goal atau tujuan tertentulah yang menjadi daya dorong mereka untuk punya tekat besar berani meninggalkan suami, anak, atau orang tua. Kesulitan ekonomi, himpitan hutang, keinginan untuk menyekolahkan anak-anak setinggi mungkin menjadi daya dorong mereka untuk mengubah kondisi.     

Keinginan kuat meraih tujuan dan komitmen antara suami-istri, atau antara anak dan orangtua menjadi faktor utama BMI meraih keberhasilan. Ketekunan dan keuletan serta kesetiaan mereka harus juga berbanding lurus dengan ketekunan, keuletan serta kesetiaan yang ditunjukkan oleh suami dan orang tua di Indonesia. Kalau salah satu dari mereka “berpaling” dalam arti tidak jujur, menyalahgunakan kepercayaan, sudah pasti keberhasilan itu tidak terealisasi sepenuhnya, atau bahkan gagal.

Fenomena baru di kalangan BMI di Hong Kong yang banyak mengalami masalah “asmara terlarang”, hasil wawancara,mendengar dan   pengamatan saya sebagai berikut
  • Mereka yang terlibat cinta terlarang dengan tenaga kerja laki-laki asal Indonesia, Malaysia, Nepal dan Pakistan umumnya berkenalan lewat media sosial, bisa facebook, twitter, whattsap, line atau lainnya. Umumnya hanya mengaku-aku belum menikah/janda/duda. Dalam perkembangan selanjutnya mereka manfaatkan media sosial itu untuk kencan “terlarang”, kadang sama-sama di Hong Kong atau juga beda negara. Kemajuan teknologi menyumbang masalah baru bagi mereka yang tidak paham akan bahaya internet.
Kencan jarak jauh itu biasanya memanfaatkan video call, BMI cewek yang tidak waspada bisa terjebak dengan hasil foto telanjang mereka disimpan dan dijadikan senjata oleh oknum “laki-laki” tersebut untuk memeras dan menjadikannya mesin atm berjalan. Setiap bulan minta transfer uang, pulsa atau beli barang-barang. Kalau tidak dituruti mereka mengancam akan mengunggah foto “x” tersebut ke media sosial. BMI ini pun terjebak, kondisi seperti ini bisa mengakibatkan BMI tersebut dipecat majikan, dan juga menimbulkan masalah besar dengan keluarga dan suami di Indonesia, yang kadang berujung dengan perceraian.

Sebagai sesama perempuan, saya kagum dengan perjuangan rekan-rekan BMI di Hong Kong. Ada banyak pelajaran hidup yang bisa dipetik dari kehidupan mereka mencari penghidupan di negeri orang. Mereka tidak hanya sebagai pahlawan penghasil devisa, tapi lebih dari itu. Besarnya kesabaran, keberanian, ketekunan, kesetiaan, cinta yang tulus terhadap anak, suami dan keluarga mengalahkan ketakutannya. Mereka lemah secara fisik, tapi punya kekuatan memegang komitmen.

Cerita indah mereka yang seperti pelangi sebenarnya lebih besar dari potret negatif yang  selama ini kita dengar. Ada ribuan dari mereka yang berhasil mengangkat kehidupan keluarga dan  mengubah wajah desanya. Saya berharap Pemerintah lebih memberikan perhatian dan perlindungan pada mereka, memfasilitasi segala kepentingan mereka selama di negeri orang, sehingga kasus kelam seperti Erwiana (BMI yang disiksa majikannya) tidak terulang lagi di masa depan, juga kasus-kasus lainnya. Semoga apa yang saya sampaikan ini bermanfaat dan membuka pemikiran positif dan pandangan kita terhadap BMI khususnya di Hong Kong. Mohon maaf bila ada yang kurang berkenan.

Tulisan ini disertakan dalam “Lomba Blog Buruh Migrant Indonesia Bersama Melanie Subono”.

Sumber :
-          Wawancara langsung dengan BMI Hong Kong
-          Pengamatan pribadi
-          Dokumen Pribadi