Sabtu, 01 November 2014

MENGUBAH HOBI MENJADI PROFESI





Sejak kecil saya suka membaca dan menulis. Bacaan yang biasa saya konsumsi adalah buku-buku yang ada di perpustakaan sekolah, majalah anak-anak, komik dan koran. Untuk majalah anak-anak kudapat dari lapak penjual koran dan majalah bekas yang ada di pasar sore Pandegiling, Surabaya. Ibu biasa membelinya seharga dua ratus lima puluh rupiah waktu itu. Sekalipun tidak baru, saya sudah sangat senang. Untuk koran pagi, biasa dibaca waktu menunggu teman SD  berangkat sekolah. Ayahnya berlangganan, dan biasanya saya berangkat lebih awal agar  ada cukup waktu untuk membacanya. Waktu itu kesenangan saya membaca novel yang dibuat secara bersambung di salah satu koran terkenal di kotaku. Judul novel yang masih aku ingat adalah “Kepeng Perak”.

Suka membaca, biasanya dibarengi dengan suka menulis. Waktu SD saya senang sekali dengan kegiatan mengarang. Untuk tugas mengarang yang di berikan oleh guru selalu terselesaikan dengan cepat. Tema yang menjadi favorit adalah tentang liburan, perlunya menjaga kelestarian alam, keuntungan menabung, dan tema lain yang berhubungan dengan kebaikan. Dongeng tentang binatang juga salah satu kegemaran saya.

Menginjak usia SMP, hobi membaca tetap berlanjut, tetapi untuk menulis dan mengarang sudah jarang saya lakukan. Koran pagi tetap dibaca, kali ini didapat dari tetangga samping rumah. Beliau berbaik hati untuk meminjami korannya setiap hari seusai sekolah. Majalah remaja yang trend waktu itu saya baca dari hasil meminjam milik teman sekolah. Lumayan, tidak ketinggalan informasi dan berita, sekalipun tidak pernah berlangganan koran dan majalah.

Prestasi di bidang kepenulisan pernah saya raih, waktu itu menjadi juara satu dalam lomba menulis pada event bulan bahasa yang diadakan SMAN 2 Surabaya. Apresiasinya berupa bea siswa selama enam bulan. Alhamdulillah, hadiah itu mengurangi beban orang tua. Selepas lulus SMA, kegiatan tulis menulis praktis berhenti, saya sibuk dengan pekerjaan di salah satu perusahaan swasta di Surabaya. Tetapi saya sempat menyabet prestasi sebagai juara tiga lomba menulis yang di adakan perusahaan di tempat kerja. Kegiatan itu bersifat nasional, karena melibatkan seluruh cabang perusahaan. Saya dapat hadiah berupa kompor gas. Senang sekali rasanya, bukan pada nilai nominalnya, tapi pada kepuasan hati. Ternyata saya juga bisa menulis.

Sekalipun jarang menulis, tapi kesukaan membaca tidak berhenti. Saya tetap membaca apa saja yang bisa dibaca, dari pengetahuan tentang agama, motivasi, gaya hidup, kesehatan, politik, hiburan, olah raga, acara liburan dan lainnya. Keuntungan besar yang didapat dari kegemaran membaca adalah bertambahnya wawasan, pengetahuan,  pengembangan diri, kemampuan beradaptasi dan bersosialisasi dengan berbagai kalangan. Kita tidak “kuper” dengan hal-hal baru yang terjadi, mengetahui peristiwa-peristiwa yang lagi trend di sekeliling kita. Banyak membaca membuat referensi kita pada hal-hal baru lebih up to date.

Di tahun 2011, tanpa sengaja saya membaca sebuah buku motivasi milik HRD Manager di kantor. Buku itu tandas dibaca dalam dua hari. Isi buku itu membuat kepala pusing dan ada “ sesuatu “ yang bergolak di dada. Saya ingin menjadi penulis, suatu kegiatan dan kegemaran yang sudah lama saya lupakan dan tinggalkan. Hati tergerak untuk memulainya saat itu juga. Saya berpikir, betapa hebatnya seorang penulis, mampu menularkan virus-virus positif dan kebaikan pada banyak orang. Membuat orang lain bertambah wawasan, pengetahuan, kemandirian, keimanan , bahkan mampu mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik.

Terlambatkah saya memulainya? Ternyata di dunia ini, tidak ada kata terlambat untuk hal-hal apapun yang dipandang baik dan positif. Saya mulai mempersiapkan diri untuk menjadi seorang penulis. Persiapan mental dan teknis. Mental meliputi kesediaan diri untuk rendah hati, bersikap optimis, berperilaku aktif, selalu berpikiran positif , dan mau belajar dari penulis-penulis lain baik yang masih pemula atau yang lebih senior. Kesediaan untuk meluangkan waktu untuk membaca banyak hal, baik dari buku, majalah, berita, pengalaman, dan pengamatan. Untuk hal-hal teknis di dapat dari mengikuti pelatihan-pelatihan menulis baik secara online atau lewat buku, berteman dengan penulis-penulis lewat situs jejaring sosial. Mempersiapkan sarana dan fasilitas menulis, ada komputer atau laptop, kalau pun belum tersedia bisa lewat warnet. Semua yang sebelumnya menjadi hambatanku untuk menulis secara perlahan bisa diatasi. Yang penting ada kemauan yang kuat, bahasa kerennya ada impian yang hendak kita raih. Inshaa Allah, hambatan akan terselesaikan dengan energi positif yang kita ciptakan. Kemauan dan keyakinan harus selaras kita munculkan untuk meraih cita-cita kita.

Awal memulai menulis, saya belum punya laptop. Sempat berpikir keras bagaimana bisa memiliki laptop impian itu. Tapi Allah memang Maha Mendengar, keinginan kuat itu direspon Allah lewat kebaikan hati teman kantor. Mbak Yana menjadi pahlawan pertama di bidang kepenulisan. Mbak Yana rela pinjamkan uangnya untuk membeli laptop sederhana seharga dua juta rupiah diawal tahun 2012. Pertolongan itu memuluskan langkah saya untuk menekuni dunia tulis menulis.

Dalam menulis, hasil sekecil apapun wajib disyukuri. Proses pembelajaran dari huruf ke huruf, kata demi kata, dan rangkaian kalimat yang tercipta, dari halaman satu ke halaman dua dan seterusnya, menciptakan rasa bahagia dan “sesuatu” banget. Ada rasa tidak percaya pada awalnya, ternyata dengan usaha dan kemauan serta kesabaran diri menikmati “kesulitan dan hambatan” dalam menulis, pasti akan berujung pada kata-kata akhir dalam sebuah karya tulis.  


Kesediaan diri untuk menerima kritikan juga sangat diperlukan dalam membentuk karakter positif untuk menjadi seorang penulis. Tulisan yang berhasil saya selesaikan seringkali menjadi bahan diskusi di antara teman-teman kantor. Saya memerlukan mereka untuk menilai karya-karya itu. Apa yang kurang dalam tulisan,mereka sampaikan dengan jujur, dan dengan senang hati diterima sebagai masukan mereka untuk kesempurnaan naskah tulisan itu. 

Dari awal, dalam memantapkan niat untuk menjadi seorang penulis, saya berkeinginan menuliskan sesuatu hal yang bermanfaat untuk diri sendiri dan banyak orang. Ada keinginan orang yang membaca tulisan itu akan terinspirasi melakukan kebaikan dan sesuatu yang bermanfaat, tanpa bermaksud menggurui. Pengalaman hidup yang terjadi, kebaikan dan keburukan yang sering di jumpai, dan kisah-kisah yang terekam dalam pengamatan dan pemikiran banyak menjadi bahan yang akan diramu menjadi sebuah tulisan. Dalam hal ini saya masih banyak belajar, membaca dari berbagai literatur, berguru pada orang-orang yang kompeten, dan terutama berguru pada kehidupan.  

Alhamdulillah, dengan banyak belajar, hasil manis teraih. Tulisan perdana berhasil menjadi naskah pilihan pada sayembara  yang diselenggarakan salah satu penerbit. Dan satu bulan kemudian, dua naskah berhasil menjadi juara ketiga dan nominator naskah religi Islami, yang sudah  dibukukan oleh penerbit yang berkantor di Yogyakarta. Untuk langkah selanjutnya saya ingin menulis di majalah wanita, majalah anak atau koran yang banyak menawarkan peluang menulis bagi masyarakat umum. 

Saat ini, saya telah punya blog pribadi sebagai media menulis. Beberapa buku dan pelatihan online tentang blog banyak membantu untuk mengembangkan blog sederhana itu. Dan dari lomba blog yang diselenggarakan beberapa pihak saya berhasil menjadi pemenang, diantaranya lomba blog yang diadakan PLN dan Biofarmaka IPB. Juara 2 dan juara 1 berhasil terukir, dengan judul Yuk, Dukung PLN Bersih dan Melestarikan Jamu, Memajukan Budaya Bangsa Indonesia. Blog itu punya nama www.sulistyoriniberbagi.com. Tapi nggak sedikit juga tulisan itu yang gagal menjadi yang terbaik. Saya tidak boleh berputus asa, sebab dari kegagalan itu kita bisa ambil pelajaran dan hikmahnya. Gagal dan sukses itu dua kata yang selalu beriringan, dalam kesuksesan yang diraih, pasti ada pernah mengalami kegagalan. 

Apresiasi dari pihak lain atas tulisan itu tidak menjadikan diri sombong dan berbesar hati. Masih banyak kekurangan dari karya yang saya hasilkan. Tapi setidaknya, dengan prestasi yang kita raih itu menjadikan kita terpacu untuk lebih memperbaiki diri. Membuat diri kita lebih haus akan ilmu, kebaikan dan keinginan untuk lebih bermanfaat pada kehidupan, sekecil apapun. Prestasi itu aku nilai sebagai jalan alternatif untuk lebih percaya diri, lebih rendah hati untuk menerima ilmu-Nya yang Maha Luas. Saya merasa menjadi pribadi yang sangat bergantung pada kekuasaan Tuhan, karena dengan ijin-Nya dan kuasa-Nya, saya bisa melewati step demi step untuk menjadi pribadi yang saya inginkan. 

Kesulitan membagi waktu? Mementingkan kerja atau pilihan menjadi penulis? Dari awal, kegiatan menulis untuk waktu sekarang masih menjadi kegiatan sampingan, karena masih terikat waktu sebagai karyawan di sebuah perusahaan swasta di Surabaya. Waktu menulis tidak menjadi halangan berarti bagi saya dalam menjalankan tugas sehari-hari sebagai seorang pegawai. Jam kerja dari pukul 08.30 WIB hingga sekitar pukul 18.00 WIB wajib saya selesaikan sebagai seorang karyawan dengan sebaik-baiknya. Waktu di luar itu bebas untuk aktifitas menulis atau mengerjakan kegiatan yang lain. Intinya dalam menulis harus dijalani dengan senang dan enjoy, tidak ada keterpaksaan atau keberatan dalam melakoninya. Inshaa Allah, dengan ini kita menjadi pribadi yang merdeka dalam menentukan kesenangan dan hobi. 

Waktu yang biasa saya gunakan untuk menulis selepas Isya, sehabis makan malam, atau sesudah menjalankan shalat subuh. Pikiran lebih fresh dan bersih menuangkan ide dan meramu tulisan menjadi sebuah karya yang bisa dinikmati. Untuk waktu-waktu ke depan, saya berkeinginan bila tenaga ini sudah tidak diperlukan lagi di perusahaan tempat saat ini  bekerja, saya  telah merintis sesuatu yang bisa dipersiapkan sebagai kegiatan utama setelah pensiun (tidak bekerja lagi). Waktu tidak harus dibiarkan berlalu dengan percuma. Harus ada sesuatu kebaikan yang dihasilkan dan disebar dalam setiap waktu yang saya lalui. 

Setelah pensiun (tidak menjadi pegawai kantoran lagi) saya berkeyakinan akan menjadi seorang penulis yang produktif, karena waktu lebih memungkinkan. Saya ingin lebih banyak bersedekah dengan ilmu dan kebaikan yang telah Tuhan beri. Bukankah orang terbaik adalah orang yang paling bermanfaat untuk orang lain? Kata-kata ini yang sangat mempengaruhi keinginan saya untuk menjadi seorang penulis. Ada banyak hal yang bisa diberi, ada banyak kebaikan yang bisa dibagi. 

Semoga seiring berjalannya waktu, saya mampu mewujudkan impian ini, sanggup merealisasikan hal yang sebelumnya terkubur hampir dua puluh tahun. Saya berterima kasih pada seorang penulis yang melahirkan berjuta kebaikan pada apa yang telah ia tulis dan ia tularkan pada banyak orang. Saya merasa Tuhan telah memberi waktu yang tepat dan indah pada kehidupan ini. Saya diberi kemudahan, kesabaran, kekuatan dan jalan yang berliku untuk akhirnya sampai pada keputusan akhir ini. Saya menjadi seorang “Penulis”. Semoga niat dan cita-cita yang dirintis ini menjadi sesuatu yang diberkahi dan nantinya menjadi sesuatu yang bisa saya gunakan untuk jalan berbuat kebaikan pada kehidupan dan penghidupan. Amin Ya Rabbal Alamin.
  
Baca juga di sini , mengapa DP untuk rumah dam mobil dibatasi hingga 30%, dan mengapa krismon 98 menyisakan trauma panjang bagi Bangsa ini.

10 komentar:

  1. Hebat, dari menulis bisa dapet beasiswa dan mnegurangi beban ortu. Keren banget.

    BalasHapus
  2. Saya yakin, mbak Rini bakal jadi penulis yg hebat, hasil tulisannya selama ini bagus2...pokoknya mantaab deh..:)

    BalasHapus
  3. Wah keren banget mba Rini yang bisa menginspirasi para wanita untuk lebih maju menggapai mimpi.

    BalasHapus
  4. Terima kasih, saya berkeyakinan tidak ada yang tidak mungkin di lakukan sekalipun dalam kondisi yang dipandang tidak memungkinkan. Perjalanan hidp saya banyak mengajarkan arti sabar yang harus selalu kita punya,arti ikhlas dan harus berlapang dada.

    BalasHapus
  5. Saya melihat beberapa persamaan yang dialami oleh Mbak Rini, bila Mbak Rini pernah sekali melihat dan membaca salah satu buku HRD Manager di perusahaan tempat Mbak Rini bekerja dan ini mampu membuat seorang Rini bergerak, saya melihat dan membaca buku milik HRD Manager setiap hari kebetulan saya berprofesi menjadi sekretaris beliau. Saya harus lebih banyak tergerak lagi karena apa yang saya terima melebih dari yang Mbak Rini terima. Dalam buku yang ditulis beliau berjudull "Menyibak Rahasia Dunia Kecil Dalam Pikiran" juga pernah disampaikan bahwa orang yang sukses bukanlah orang yang memiliki jabatan atau gaji yang tinggi, orang yang sukses itu adalah orang yang mampu mendatangkan kemanfaatan untuk orang lain. Dan saya secara langsung melihat hasil praktek beliau dari kalimat tersebut, Sungguh mengejutkan tidak ada yang tidak mungkin. Semoga Mbak Rini mampu membuat pribadi dirinya untuk bermanfaat lebih untuk orang lain. Aminnnn

    BalasHapus
  6. wah bisa jadi inspirasi yang bagus mb

    BalasHapus
  7. Wah keren banget mba Rini yang bisa menginspirasi para wanita untuk lebih maju menggapai mimpi.

    BalasHapus
  8. Balasan
    1. Iya setuju banget :D Kalo punya hoobi yang bisa menghasilkan emang mantap banget rasanya ::D Semangat ga akan putus

      Hapus