Sabtu, 18 Oktober 2014

MENIKMATI LONTONG BALAP DI MALL DENGAN HARGA KAKI LIMA




Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan jalan-jalan di Mall di wilayah selatan Surabaya. Mall yang berdiri di atas lahan kosong bekas bangunan darurat pasar wonokromo yang terbakar,
Royal Plaza namanya. Sehabis kajian hari Minggu, saya beserta teman menuju tekape dengan naik angkutan kota, meninggalkan motor masing-masing di masjid Al-Falah.

Seperti biasa, jalanan padat merayap. Beruntung kemacetan kota pahlawan ini tidak separah Jakarta. Jarak yang tidak terlalu jauh itu berhasil kami tempuh dengan waktu sekitar lima belas menit.
Tujuan awal, kami langsung menuju lantai paling atas tempat aneka kuliner yang menawarkan berbagai rasa dan bentuk. Mata sempat celingak-celinguk menyesuaikan menu yang sesuai di lidah dengan harga di kantong. Sepakat, kami bertiga masuk ke tempat yang menjual Lontong Balap, makanan khas Surabaya yang melegenda.

Menu ini terdiri dari beberapa irisan lontong, sambal petis, kecambah/taoge, dan lentho (terbuat dari kacang kedelai). Tempat yang saya masuki ternyata cabang dari Lontong Balap Pak Gendut yang sebelumnya berjualan secara kaki lima di depan bioskop Garuda di jalan Kranggan, Surabaya. Banyak orang yang kenal dengan tempat ini, sebelum tergusur karena pembangunan kota.

Saya ingat beberapa tahun yang lalu, lontong balap Pak Gendut ini masih berharga sekitar dua ribu lima ratus rupiah, belum termasuk sate kerang. Cukup murah untuk menikmati makanan khas satu ini. Semenjak krismon, saya nggak pernah lagi datang ke jalan Kranggan, karena agak jauh jaraknya dari kantor.
Melihat tampilan jualannya sekarang, saya juga merasa bangga, ternyata makanan yang bisa dibilang tradisional ini sekarang “naik kelas”. Bisa dinikmati warga Surabaya di mall dengan harga yang ringan di kantong. Seporsi dengan lentho dihargai tiga belas ribu rupiah, di tambah es jeruk manis nggak sampai dua puluh ribu rupiah. Belum lagi tempatnya yang bersih dan nyaman, sekelas dengan aneka kuliner luaran yang sekarang ini menjamur.

Lontong Balap Pak Gendut ini ada juga di jalan Prof. Moestopo (seberang kantor PDAM Surabaya). Di ruko ini merupakan pindahan dari jalan Kranggan yang telah ada sejak tahun 1976. Mungkin sekarang yang meneruskan adalah anak dari Pak Gendut. Semoga ke depannya akan banyak kuliner tradisional yang naik kelas, diperdagangkan di mall-mall mewah, sejajar dengan kuliner asal luar negeri. 

4 komentar:

  1. Jadi tau apa itu lontong surabaya..mirip ketoprak jakarta yaa..:)

    BalasHapus
  2. uhm.....perlu dicoba nih

    BalasHapus
  3. dari pd ketoprak ya mending lontong balap, enak

    BalasHapus