Minggu, 05 Oktober 2014

MENDAPAT HADIAH UMROH GRATIS





Bulan Juni tahun 2012, sahabat lamaku menunaikan ibadah umroh ke tanah suci. Selama hampir delapan belas hari ia habiskan waktu untuk beribadah di dua kota yang disucikan umat Islam, Makkah dan Madinah. Pulang ke tanah air, ia sempat mengontakku dan mengundangku untuk datang bersilaturahmi
ke rumahnya. Tapi sayang, aku berhalangan datang karena sesuatu hal, aku sempat minta maaf padanya.

Lewat seorang teman lama, ia sempat titipkan oleh-oleh berupa kerudung pashmina warna hitam untukku. Sempat terselip kata-kata yang membuatku tersentak, “Kapan nyusul untuk beribadah di Baitullah?” Kalimat pendek yang membuat dadaku bergemuruh. Ternyata aku telah mengubur mimpi lamaku karena kesibukan dan permasalahan dunia.

Ya, sebelumnya aku pernah bercerita padanya tentang mimpiku untuk beribadah di Tanah Haram. Enam tahun yang lalu, sewaktu musim haji tahun 2006, aku bermimpi akan berangkat haji. Aku sudah berpakaian layaknya jamaah calon haji dan menenteng tas bawaan, tapi ternyata aku tertinggal di bus sendirian, rombongan lainnya sudah berangkat. Aku terbangun dengan asa yang terpendam, bahwa suatu waktu aku akan bersujud di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dengan ijin dari Allah SWT.

Sahabatku sempat berkirim sms meyakinkanku untuk menetapkan niat kembali untuk datang ke tanah suci, seraya berpesan agar aku banyak-banyak membaca shalawat Nabi sehabis shalat fardhu dan shalat malam. Tak kusia-siakan nasihatnya, sehabis shalat lima waktu, shalat Tahajjud dan shalat Dhuha kulantunkan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Kutata ulang ibadah-ibadahku kepada-Nya. Aku berusaha shalat tepat waktu dan sebisa mungkin berjamaah dengan teman-teman sekantor. Ada satu petunjuk yang sangat gamblang yang kuterima, lewat salah satu acara talk show di televisi swasta yang menampilkan salah satu ustadz yang kukagumi. Beliau menyampaikan satu doa yang langsung kuterapkan dalam lantunan permohonanku kepada-Nya. “Ya Allah, panggil saya untuk beribadah ke tanah suci, ke Baitullah secepat-cepatnya, tahun ini juga.”

Antara shalat, doa, dzikir dan sedekah semampuku, aku berusaha merayu Allah untuk mengijinkanku menjadi salah satu tamu-Nya. Pesan ustadz tersebut juga aku share pada teman-teman kantorku untuk berdoa juga agar dipanggil menjadi tamu-Nya. Ramadhan tahun kemarin, bisa dipastikan kami selalu shalat berjamaah, datang kantor dengan cek clock berupa shalat Dhuha, membaca Qur’an, buka puasa bareng-bareng walau hanya dengan seteguk teh hangat dan gorengan.

Tanggal 5 Oktober 2012, tepat satu tahun berpulangnya adik perempuanku. Hari itu satu tahun sebelumnya, keluarga besarku berduka. Siang setelah istirahat, aku dipanggil Bapak pimpinan tempatku bekerja bersama tiga orang teman yang lain. Berita mengejutkan kuterima, sampai gemetaran kakiku. Pimpinan berniat memberangkatkan kami umroh tahun depan dengan biaya dari perusahaan. Beberapa detik jantungku seolah berhenti mendadak. Alhamdulillah Ya Allah, Engkau telah menjawab doa-doaku, Engkau ijinkan aku untuk menjadi tamu-Mu di Baitullah. Walau keberangkatan kami belum dipastikan tanggal dan bulannya, aku tetap positif thingking, aku tetap memohon kebaikan dari-Nya. Aku yakin akan berangkat ke tanah suci dalam waktu terbaik.

Doa-doa tetap aku panjatkan, tak berkurang sedikitpun. Garansi dari Allah telah aku terima, niat harus tetap kujaga. Pembekalan diri kusiapkan sedini mungkin, banyak membaca hal-hal yang berkaitan dengan umroh, ikut manasik gratis yang diadakan travel umroh, meski belum tahu pasti kapan berangkatnya. Nikmat lain kuterima, aku mendapat kesempatan mengikuti kursus pendalaman Qur’an secara gratis dari salah satu Yayasan pengumpul dana sosial. Aku mengambil kelas tadarus Qur’an mulai awal. Satu minggu dua kali selama empat bulan aku menimba ilmu, mempelajari bacaan, tajwid dan hukum membaca Qur’an, sambil sesekali bertanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan umroh.

Satu periode kursus telah selesai tepat di pertengahan Desember tahun 2012 kemarin. Berita yang mengejutkan kuterima siang itu. Sepulangnya pimpinan dari luar negeri, beliau memberitahu bahwa keberangkatan umroh kami berempat harus secepatnya dipersiapkan. Aku disarankan mengurus paspor berikut dokumen-dokumen kependudukan lainnya. Seharian kami berburu informasi travel yang akan kami gunakan. Menjelang sore, satu keputusan bulat kami ambil. Travel umroh berhasil kami hubungi dan akan didatangi langsung di hari berikutnya.

Ada satu hal yang membuatku merasa tidak nyaman. Ternyata teman-teman kantor yang biasa shalat berjamaah lainnya belum mendapat kesempatan seperti yang kami dapatkan. Ada perasaan bersalah di hati kecilku. Tapi segera aku perbaiki sikapku, aku berdoa dalam hati semoga rekan-rekan yang lain juga mendapat panggilan yang sama dari-Nya. Syukur Alhamdulillah kuucapkan tiada henti, hanya dalam sehari, Bapak pimpinan berubah keputusan. Lewat beliau, Allah mengijinkan teman-teman yang lain mendapat kesempatan yang sama, hanya berbeda waktu pemberangkatan. Kebahagiaan meliputi keluarga besar perusahaan kami. Sujud syukur kami panjatkan, atas keputusan yang ajaib ini.  

Rombongan kecil yang dijadwalkan berangkat lebih awal terdiri dari empat orang wanita. Rencananya awal Februari 2013 kami berangkat menggunakan travel yang telah disepakati bersama. Periode selanjutnya juga terdiri dari empat orang semuanya pria dan berangkat di bulan Maret. Periode ketiga dijadwalkan berangkat bulan Juni 2013.

Berbagai ujian aku hadapi pada masa persiapan awal keberangkatan ini. Dari pengurusan paspor yang terhalang libur cuti bersama menghadapi natal dan tahun baru 2013, hingga kendala penambahan tiga nama di paspor itu. Untuk penambahan nama, persyaratan yang diajukan pihak Imigrasi haruslah ada surat keterangan dari pihak kelurahan menyangkut keterangan nama ayah dan kakek dari pihak ayah. Untuk mendapat surat keterangan itu diperlukan akte kelahiran. Sejak kecil kedua orangtuaku belum mengurus surat itu. Pihak kelurahan tempatku tinggal sempat menolak permohonanku karena ketiadaan dokumen itu. Aku sempat down, berbagai lobi dicoba oleh ibu dan pamanku, tetapi tidak berhasil. Hampir setengah jam waktu berlalu tanpa keputusan berarti. Di kantor, aku hanya bisa berdoa dan berharap Allah memberi ijin-Nya untuk ibu dan pamanku mendapat kemudahan. Berkali-kali teleponku tidak dibalas. Beberapa menit kemudian ibu memberitahuku kalau surat itu berhasil didapatkan atas rekomendasi Bapak Lurah yang berhasil ditemui ibu. Yup, satu masalah selesai, aku lebih bersemangat untuk meniti hari-hari selama persiapan keberangkatan.

Paspor dengan tiga nama selesai pada waktu yang mepet dengan deadline dari travel. Itupun atas bantuan petugas Imigrasi yang berbaik hati membantuku hingga selesai satu hari sebelum masa yang dijadwalkan. Aku sedikit lega, tapi tetap waspada dan bersiap-siap mendapat kabar yang tidak diinginkan. Benar saja, ujian belum selesai, sehari selanjutnya aku mendapat kabar kemungkinan permohonan visaku dan visa seorang teman lainnya ditolak oleh Kedutaan Arab Saudi karena dokumen kami tidak dilengkapi akte kelahiran. Kebingungan melanda kami, bayangan tidak jadi berangkat umroh menari-nari dipikiranku. Segera kuhubungi pihak travel, berharap ada opsi lain sebagai pengganti akte kelahiran tersebut. Jawabannya sangat diplomatis, mereka akan tetap usahakan selesai dengan jaminan yang hanya lima puluh persen. Segera kutunaikan shalat Ashar dengan doa yang lebih spesifik, “Beri kemudahan pada apa yang menjadi kesulitanku untuk menjadi tamu-Mu Ya Rabb. Jadikan ini sebagai moment kami untuk tetap menyalakan niat kami hingga kami sampai di Baitullah.” Kutelepon ibuku, kuminta doa dari beliau untuk kelancaran masalah kali ini.

“Inshaa Allah kamu akan tetap berangkat, jadikan ini semua sebagai penguji kesabaran dan kemantapan langkahmu. Ibu akan selalu berdoa untuk  kelancaran dan kemudahanmu.” Suara ibu di ujung telepon menenangkanku.

Detik demi detik aku lewati dengan ketegangan, bercampur dengan rasa optimis untuk berangkat sesuai jadwal. Dua hari berlalu, hingga di suatu siang sewaktu kami selesai menunaikan shalat Dhuhur berjamaah, kabar baik itu datang. Permohonan visa umroh kami berdua lolos tanpa akte kelahiran. Alhamdulillah Ya Allah, Engkau tunjukkan kebesaran-Mu kesekian kali. Aku lebih yakin dan percaya, jika Engkau tetapkan aku di salah satu daftar tamu yang Engkau undang ke Baitullah, kesulitan apapun yang menghadang adalah salah satu cara menguji keteguhan niat dan langkahku.

Akhirnya kami berangkat ke Tanah Haram dengan kemudahan dan kembali dengan selamat di bulan Februari 2013. Dan berhasil menunaikan ibadah umroh dengan asa terpendam untuk kembali lagi berhaji dengan izin-Nya. Semoga terwujud dalam waktu yang tidak lama lagi. Amin. 



2 komentar:

  1. aku akan bertanya hal yang sama, kapan yah aku diundang kesana ?

    BalasHapus