Jumat, 10 Oktober 2014

BANYUWANGI, SUNSET OF JAVA



PULAU MERAH, SALAH SATU IKON BANYUWANGI


Banyuwangi, dijuluki juga sebagai Sunset of Java terletak di ujung timur pulau Jawa berhasil saya kunjungi beberapa waktu yang lalu. Lewat paket wisata dakwah dan sosial yang diadakan salah satu Yayasan pengumpul infak dan sedekah dari masyarakat umum,
berangkatlah saya dengan rombongan dua bus selama dua hari. Perjalanan darat dari Surabaya ke Banyuwangi lewat jalur selatan memakan waktu kurang lebih tujuh jam. Lebih lama dua jam dari biasanya. Kemacetan waktu liburan seolah menjadi alasan klasik.

Banyuwangi, tanah subur di bagian timur Pulau Jawa yang berbatasan secara laut dengan pulau Bali. Kabupaten ini merupakan salah satu kabupaten terluas di pulau Jawa. Wilayahnya terdiri dari daratan, pegunungan dan laut, sangat indah dan komplit untuk tujuan wisata.

Rombongan kami tiba sehabis subuh di sisi selatan  kabupaten Banyuwangi. Lokasi yang menjadi tujuan kami adalah Pondok Pesantren Darussalam, Masjid Agung Baiturrahman dan Pulau Merah.

  1. Pondok Pesantren Darussalam, Blok Agung Banyuwangi

Wisata dakwah dan sosial kami kali ini berkunjung ke Ponpes Darussalam di Blok Agung, kecamatan Tegalsari Banyuwangi. Pesantren yang cukup besar di selatan Banyuwangi ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Dengan santriwan santriwati yang mukim sekitar 4604 orang dan berasal dari Sabang sampai Merauke. Pesantren tradisional ini pun mengadopsi kurikulum sekolah negeri hingga berbasis Internasional. Didukung oleh tenaga pengajar lulusan Sarjana dan paham agama, sehingga banyak melahirkan lulusan-lulusan yang berkualitas tinggi.

Pengasuh Ponpes saat ini adalah  KH. Hisyam Syafa’at, putra pertama KH. Mochtar Syafa’at, pendiri Ponpes Darussalam di tahun 1951. Beliau bercerita dulunya di tempat Pospes ini berdiri adalah hutan belukar dan tempat mistis. Ayahandanya yang pernah mondok di Ponpes Tebu ireng pada tahun 1930-1936 berusaha mengembangkan dakwah Islam dengan segala keterbatasan. Secara bertahap, dakwah Islam berhasil dikembangkan di wilayah ini, sehingga banyak orang tertarik dan memeluk Islam.

Saat ini, potensi ekonomi masyarakat setempat bertumbuh seiring dengan perkembangan Ponpes yang menempati lahan seluas 5-6 hektar. Di setiap rumah penduduk pasti dibagian depan dibangun semacam warung atau toko. Mereka mengembangkan bermacam usaha seperti toko kebutuhan sehari-hari, warung kuliner, bengkel atau menjual aneka asesories.

Kami juga mengunjungi Pesantren Yatim Darul Aytam, yang dipimpin KH. Ahmad Khusyairi Syafa’at, adik kandung KH. Hisyam Syafa’at. Tempatnya tidak jauh dari Ponpes Darussalam. Di sini dikembangkan juga sarana pendidikan umum hingga SMP. Ada sekitar 162 anak yatim yang tinggal di Pesantren Yatim ini.


  1. Masjid Agung Baiturrahman

Masjid berwarna hijau dan tampak agung ini berdiri di tepi Jalan Sudirman, di pusat kota Banyuwangi. Di depannya tampak alun-alun kota, jalanan masih tampak lengang karena hujan sehabis Subuh. Kebersihan dan keasrian kota tampak di depan mata. Menurut riwayatnya Masjid ini berdiri pada tanggal 7 Desember 1773, tepat 240 tahun yang lalu. Didirikan oleh Mas Alit atau Raden Tumenggung Wiroguno I yang merupakan Bupati Banyuwangi pertama. Dibangun untuk menampung para punggawa-punggawa Blambangan melakukan shalat lima waktu berjamaah. Masjid ini telah mengalami beberapa kali perubahan dan renovasi demi mengikuti perkembangan zaman.  
           
Waktu rombongan kami datang, sedang berlangsung acara Pengajian Ad-Dhuha     yang dimulai tepat pukul tujuh pagi. Pada kesempatan itu masih berlangsung pekan peringatan/ harlah ke-240 tahun masjid Agung Baiturrahman. Jamaah laki-laki dan perempuan kebanyakan berbaju gamis warna putih. Posisi jamaah laki-laki di deretan depan dan perempuan di barisan belakang. Beberapa LCD ukuran 32” terpasang di dinding untuk memudahkan jamaah melihat secara langsung podium utama dan ustadz yang memberi tausiah. Ada juga beberapa orang jamaah perempuan yang menempati ruang lantai 2 yang memang dikhususkan untuk jamaah wanita dalam kesehariannya. Bangunan Masjid ini didominasi warna hijau tua dan muda yang saling melengkapi keindahan satu sama lain. Lampu gantung ukuran besar banyak terpasang di beberapa sudut ruangan.

Satu yang unik dari Masjid Baiturrahman ini adalah adanya mushaf Qur’an   ukuran raksasa yang terletak di salah satu sudutnya. Berwarna hijau tua dengan ukuran 1,5 x 2 meter. Penulis Qur’an raksasa ini adalah Drs. H. Abdul Karim dari Yapip Bustanul Ma’mur Genteng, Banyuwangi. Ikon wisata religi Islam ini banyak menyedot perhatian jamaah yang datang dan berusaha mengabadikan momen dengan kamera ponsel atau kamera saku.

Di hari Minggu berawan itu juga digelar acara wisuda santriwan dan santriwati   cilik pengkhatam Al-Quran sekecamatan kota. Aneka becak dan sepeda hias beraneka warna memenuhi jalan kota menuju gedung Islamic Centre yang lokasinya tidak jauh dari Masjid. Mereka diarak dengan kawalan mobil patroli polisi. Anak-anak berumur 7-8 tahun itu tampak lucu dengan baju toga layaknya sarjana betulan.


  1. Pulau Merah

Menjelang siang rombongan wisata dakwah dan sosial kami bergerak ke arah selatan Banyuwangi, menuju kawasan Pulau Merah. Berjarak kurang lebih 70 km dari kota, dan 25 km dari Genteng, Banyuwangi. Ditempuh kurang lebih 1-2 jam perjalanan darat. Sebelum tiba di pantai, terlihat pemandangan alam yang indah, terdapat berhektar-hektar budidaya tanaman buah naga. Di kanan-kiri jalan terdapat aliran sungai dengan arusnya yang cukup deras.

Pulau Merah ini kondisinya masih sepi, hanya beberapa turis lokal, belum tampak akses penginapan atau hotel yang berdiri. Waktu kami tiba hanya tampak beberapa turis Jepang yang bersantai di warung. Jalan menuju pantai masih merupakan jalan desa yang tidak terlalu lebar, tetapi kondisinya sudah mulus. Masuk lokasi pantai atau pulau Merah tidak keluar uang sepeserpun alias gratis. Pengunjung pantai ini kebanyakan masih turis lokal, rencananya di tahun 2014 akan dibuka bagi turis asing, dan sarana/fasilitas pendukung akan dibangun bertahap.

Pulau Merah adalah berupa pantai pasir putih dengan garis pantai sepanjang 3 km, dan ada gugusan pulau seperti bukit yang berada di tengah lautan. Pulau itu tidak berpenghuni. Pantainya masih bersih terawat. Ombak pantai ini cocok digunakan untuk berselancar, dengan airnya yang berwarna kebiruan. Di pinggir pantai kita bisa menikmati keindahan dengan menyewa tempat bersantai dengan harga sepuluh ribu rupiah perjamnya. Kalau mau berselancar bisa menyewa papan selancar di warung-warung pinggir pantai.

Menikmati keindahan pantai dapat dilakukan juga dengan berjalan menyusuri garis pantai. Kita dapat menyeberangi sungai kecil berpasir yang membelah pantai, sambil mencari kerang atau hewan pantai. Mandi di pinggir pantai sambil bermain air juga dilakukan beberapa orang tua dan anak-anaknya. Mereka berlarian dan berkejaran diterjang ombak yang tidak seberapa tinggi di pinggir pantai. Tidak ada larangan untuk mandi atau berselancar di Pantai Merah ini.

Puas menikmati keindahan pantai, tentunya membuat perut keroncongan minta diisi. Banyak warung atau depot makanan di sepanjang pantai ini. Umumnya menyediakan aneka ikan bakar, bakso, soto atau aneka penyetan dengan harga terjangkau. Warung-warung penjual minuman ringan dan snack banyak juga berjajar di pinggir pantai.

Bagi anda yang muslim, tidak perlu khawatir berwisata di Pulau Merah ini. Sepanjang perjalanan banyak masjid atau mushala warga, dan di dekat lokasi parkir mobil tersedia mushola dengan tempat wudhu dan toilet yang cukup bersih.

Di lokasi parkir, banyak berkeliaran anjing-anjing rumahan. Menurut warga setempat, anjing ini sengaja dipelihara untuk menjaga keamanan barang dan warung milik penduduk setempat. Karena banyak terjadi pencurian yang melibatkan orang di luar wilayah Pulau Merah. Tetapi anjing-anjing ini tidak mengganggu turis lokal atau mancanegara yang datang.

Datang berselancar di pantai ini paling tepat di bulan April-September. Ombaknya mendukung untuk kegiatan sport yang memacu adrenalin ini. Bulan Mei 2013 kemarin pantai ini menjadi satu ajang perhelatan Selancar Internasional. Menurut penduduk lokal, keindahan sunset pantai ini sangat terkenal. Sayangnya waktu rombongan kami datang, gerimis disertai hujan lebat turut mewarnai, sehingga yang tampak hanya kabut di ujung bukit. Tetapi kondisi ini tidak mengurangi keindahan pantai dan membuat kepuasan tersendiri.


  1. Tempat Menginap
Kebetulan sewaktu kami ke Banyuwangi tidak menginap di hotel atau losmen. Tetapi untuk referensi, tempat penginapan banyak berada di pusat kota Banyuwangi dengan harga terjangkau. Ada dormitory yang baru diresmikan September 2013 dengan tarif Rp 50.000 per malam di Jalan Ahmad Yani, Banyuwangi. Untuk kelas yang lebih bagus ada beberapa hotel dengan harga per malam antara Rp 150.000 hingga Rp 500.000. Pilihan tinggal di kantong kita, mau ala backpacker atau turis sungguhan.

  1. Pusat Oleh-oleh
Berwisata ke suatu tempat, tak lengkap rasanya kalau tidak berbelanja oleh-oleh. Di Banyuwangi, banyak tempat berjualan oleh-oleh berupa makanan atau jajanan khas. Di pasar-pasar tradisional atau tempat-tempat khusus di pinggir jalan banyak melayani pembelian oleh-oleh ini. Yang sekarang banyak berkembang, tempat atau pusat oleh-oleh banyak dibangun seperti yang ada di Bali. Model one stop shopping khusus oleh-oleh banyak berdiri di pinggir jalan. Dilengkapi dengan resto, rest area, fasilitas wifi dan lokasi parkir mobil atau bus yang cukup luas. Harganya pun sangat terjangkau, tidak beda jauh dengan pasar-pasar tradisional. Harga aneka jajanan berkisar Rp 5.000 hingga Rp 50.000.

Kita bisa membeli aneka jajanan khas Banyuwangi seperti bagiak, manisan cerme, manisan waluh, dodol wijen, aneka pisang sale juga tape dan pisang. Selain itu aneka kerajinan, lampu hias, juga kain batik khas banyuwangi seharga Rp 100.000 an ada juga di tempat ini. Di waktu-waktu yang ditentukan di rest area sering juga digelar tari-tarian khas Banyuwangi seperti Gandrung Banyuwangi. Kita dapat menikmati budaya Banyuwangi yang sedikit beda dengan wilayah lain di pulau Jawa, karena unsur budaya Banyuwangi banyak dipengaruhi oleh budaya Bali. Sering kita mendengar kampung Osing, bahasa Osing dan tarian Osing yang merupakan budaya khas Banyuwangi. Bahasa Osing juga sangat jauh beda dengan bahasa Jawa. Bahasa Osing lebih mirip dengan bahasa Bali.


Dijuluki juga sebagai tanah Blambangan, Banyuwangi kini tengah bersolek untuk berkembang menjadi satu tujuan wisata yang diminati masyarakat. Kearifan lokal sangat terasa, dari keramahan penduduknya dan aneka ragam budayanya. Semoga Banyuwangi kedepan menjadi satu pilihan tujuan wisata yang layak diperhitungkan selain Bali.

1 komentar:

  1. Ternyata banyak tempat yang asik untuk di kunjungi di Banyuwangi ya...

    BalasHapus