Kamis, 23 Oktober 2014

ANAK INDONESIA HARUS MELEK FINANSIAL SEJAK DINI



ANAK MELEK FINANSIAL

Mengatur keuangan sekarang ini bukan hanya monopoli orang dewasa saja (baca: orang tua), tetapi kemampuan satu ini harus juga dimiliki oleh anak-anak. Orang tua yang melek finansial pasti menularkan kebiasaan baiknya ini kepada si buah hatinya. Melek finansial atau literasi keuangan adalah

kemampuan dalam membaca, memahami dan mengatur hal-hal yang berhubungan dengan masalah finansial atau keuangan.

Anak-anak adalah peniru yang terbaik, apapun yang dilakukan orang tuanya, pasti akan terduplikasi ke anak-anaknya. Ibu, sebagai madrasah awal mendapatkan pendidikan berperan penting dalam hal ini, tanpa juga mengesampingkan fungsi ayah. Ibu mengambil posisi strategis untuk menjadikan anak-anaknya sebagai generasi penerus yang handal, yang mampu mengatur keuangan dan kehidupannya untuk tercapainya kesejahteraan keluarga dalam skala kecil, dan kesejahteraan bangsa dan negara dalam skala yang lebih luas.
Mendidik anak-anak untuk mampu mengatur keuangan harus dilakukan sejak dini. Apalagi di zaman serba instan saat ini yang mengarahkan dan menawarkan pola hidup konsumtif dengan sangat gencar. Iklan-iklan yang berseliweran di televisi banyak juga mempengaruhi anak-anak untuk bergaya masa kini dengan amat mudahnya.

Sebagai orang tua membicarakan masalah uang, cara memperolehnya dan membelanjakannya bukanlah hal yang tabu. Di negara-negara maju, orang tua membicarakan masalah uang pada anak-anaknya adalah salah satu kategori yang dinilai sebagai indikasi negara itu melek finansial. Berdasar Financial Literacy and Education Summit yang diadakan di Chicago pada tahun 2012 menyebut Meksiko, Brazil, dan Amerika sebagai negara teratas yang keluarga-keluarganya banyak membicarakan masalah uang pada anak-anaknya. Orangtua di Meksiko bicara tentang uang setidaknya 41.7 hari dalam setahun, sementara Brazil 38.1 hari, dan Amerika perlu 25,8 hari dalam setahun.

Untuk kawasan Asia Pasifik, Hong Kong menduduki peringkat pertama sebagai kelompok yang anak mudanya paling paham finansial dalam hasil riset “Indeks Pemahaman Finansial Mastercard” (18/3/2014). Mereka berusia di kisaran 19-29 tahun. Parameter penilaiannya adalah pemahaman finansial, yaitu keterampilan pengelolaan keuangan, pengetahuan investasi, dan perencanaan finansial untuk menentukan tingkat ketrampilan pengelolaan keuangan dalam hal anggaran, tabungan, dan tanggung jawab atas penggunaan kredit.

Saya sempat berpikir kenapa Hong Kong? Bukan Tiongkok atau Jepang? Dari pengamatan sederhana saya yang saya dapat dari seorang Ibu asal Indonesia dan telah menjadi warga Negara Hong Kong, Selly menceritakan sebenarnya cara mendidik anak-anak Hong Kong tidak jauh beda dengan didikan para ibu di Indonesia. Cuma bedanya, ibu-ibu di Hong kong paham betul akan kondisi yang mereka hadapi, tingkat persaingan hidup yang tinggi di sana, harga yang sangat jauh beda dengan di tanah air dan tantangan untuk bisa memenuhi kebutuhan di banding dengan pendapatan, membuat mereka lebih “awas dan jeli” mendidik putra-putrinya.

Sebagai contoh Mbak Selly selalu melakukan pendekatan pada dua buah hatinya, pada waktu senggang untuk memasukkan prinsip-prinsip keuangan . Mereka diajak bicara dalam membeli barang-barang, mengutamakan yang bersifat kebutuhan di banding keinginan. Membuat buku tabungan bersama dengan nama anak dan orang tua sebagai pendamping setelah pesta tahun baru (Imlek). Hasil angpao yang lumayan besar (antara 1000 – 2000 dolar HK, 1 dolar HK setara Rp. 1400) ditabung di bank dengan melibatkan anak secara langsung.

Dalam pemberian uang saku, si sulung yang kelas 4 SD dan adiknya yang baru kelas 2 SD mendapat jatah yang sama, 10 dolar HK/hari. Umumnya digunakan sebagai uang jajan, dan harus ada yang ditabung di celengan. Kebiasaan mereka sudah makan di rumah sebelum berangkat ke sekolah, jadi uang saku selalu ada sisa yang akan mendapat tempat di celengan. Perempuan asal Pontianak yang sudah menetap lima belas tahun di Hong Kong ini memberi arahan kepada buah hatinya, kalau mau beli mainan atau kebutuhan mereka yang agak besar, uangnya bisa diambil dari tabungan mereka, karena orang tua tidak setiap saat bisa memenuhi kebutuhan itu. Lao Ping dan Sian kadang diajak untuk diskusi dan diajar untuk tahu betapa mahalnya hidup di Hong Kong.

Cerita Mbak Selly, membuat saya ingin berbagi cerita tentang kondisi sebuah negara yang sebelumnya sangat makmur dan termasuk negara dengan pendapatan per kapita tertinggi di dunia di awal tahun 1980, tapi harus mengalami kebangkrutan tidak lama setelah itu, karena salah menata keuangannya. Negara itu bernama Nauru.

Nauru, adalah negara kepulauan yang terletak sekitar 4000 km dari Sydney. Menjadi negara terkaya di dunia karena penemuan pupuk fosfat hasil dari kotoran burung di tahun 1960-an. Sejak itu dimulailah penambangan secara besar-besaran dan menghasilkan pemasukan yang tinggi bagi warganya.
Kaya mendadak ini mengubah pola hidup warganya. Gaya hidup mewah sudah menjadi kebiasaan, berlibur dan berbelanja barang-barang mewah seperti Lamborghini sudah umum terlihat. Warga Nauru, sudah tidak bisa membedakan mana itu kebutuhan dan mana keinginan. Setiap hari kebiasaannya berpesta, sehingga saat ini Nauru menjadi sebuah negara dengan tingkat obesitas tertinggi di dunia. (sumber : Merdeka.com)

Para orang tua tidak sempat mengajarkan bagaimana cara mengelola keuangan yang baik pada anak-anak mudanya. Mereka memberi contoh buruk dengan bentuk investasi yang tidak menghasilkan, seperti membangun Nauru House di Melbourne, hotel, pabrik fosfat di India dan Filipina yang kemudian tidak bertahan, dan saat ini Nauru tergantung pada Australia dalam hal hutang.

Kisah di atas memberi pelajaran berharga pada kita, para orang tua untuk mempersiapkan anak-anak yang handal dalam mengelola keuangan. Anak-anak inilah yang sepuluh atau dua puluh tahun lagi tampil di percaturan nasional sebagai calon-calon pemimpin bangsa. Negara ini tidak hanya memerlukan generasi penerus yang pintar secara intelektual, tapi harus juga mampu mengelola kekayaan alam Nusantara ini sebagai sumber pendapatan untuk kemakmuran rakyat secara keseluruhan. Pemimpin masa depan harus mampu mengelola keuangan negara, membayar hutang yang nilainya saat ini mencapai ribuan trilyun secara akumulatif, dan diharapkan mewariskan keuangan yang sehat, tidak besar pasak dari pada tiang, dan tidak menyiapkan kebangkrutan untuk generasi masa depan yang berhak hidup layak, makmur dan sejahtera.



Tahapan Mendidik Anak Melek Finansial

  1. Membuat anak paham dan mengerti akan pentingnya mengelola keuangan haruslah disesuaikan dengan usia dan perkembangan pengetahuannya. Pada tahap awal, di usia sekitar 3-5 tahun, kenalkan anak pada  bentuk uang secara sederhana. Pecahan uang koin 500 dan 1000 bisa digunakan untuk membeli jajanan di warung. Konsep jual beli mulai diperkenalkan pada mereka. Biarkan anak-anak yang menyerahkan uang ke kasir dan menerima kembaliannya. Tekankan prinsip membeli barang-barang sesuai kebutuhan. Kalaupun harganya dirasa tidak terjangkau, orang tua harus memberi penjelasan pada anak untuk bersabar lebih dulu dalam memilikinya, perlu menabung dulu untuk bisa membelinya di kemudian hari.
  2. Menginjak usia sekolah dasar, anak perlu tahu cara sederhana mengelola uang mereka, sekaligus menyisihkan untuk tabungan. Saat ini mulai diberikan uang saku secara harian, besarnya tentu disesuaikan dengan kebutuhan si anak. Utamanya untuk jajan, menabung dan membeli keperluan sekolah dalam nominal yang kecil. Biasakan anak untuk sarapan sebelum berangkat sekolah, sehingga uang untuk jajan tidak memakan porsi lebih besar. Anak perlu dibukakan tabungan di bank dengan nama orang tua sebagai pendamping, dengan mengikutkan anak secara aktif. Untuk sisa uang jajan bisa disimpan di celengan. Ajari anak untuk belajar dan tahu fungsi ATM sebagai tempat menitipkan uang, bukan mesin penghasil uang yang tak pernah habis.
Perkenalkan anak dengan mainan monopoli. Dengan bermain bersama teman-teman, anak-anak akan belajar tentang dasar-dasar keuangan. Di  Journal of College Teaching and Learning 4, memuat studi Shanklin, SB dan C. Ehlen pada tahun 2007, dimana permainan Monopoli digunakan untuk mengajarkan para mahasiswa tentang prinsip keuangan. Dalam permainan monopoli, anak akan diajar tentang :

·         Modal :
Modal awal yang didapat, diibaratkan adalah uang jajan yang didapat dari orang tua. Uang ini bisa dihabiskan untuk jajan dan sebagian ditabung.

·         Membaca Peluang 

Dalam permainan , ada daerah yang bisa dibeli bila pion pemain jatuh di kotak tersebut. Dari sini anak bisa menilai mana daerah yang mendatangkan untung banyak dengan memilikinya. Contoh penerapan di anak adalah mereka bisa membaca peluang dari barang atau alat tulis yang dimiliki yang banyak disukai oleh teman-temannya. Orang tua bisa menerangkan berapa banyak temannya yang suka alat tulis itu, hingga ada peluang untuk laris bila dia menjual ke teman-temannya.

·         Mengembangkan Uang
Anak diajar untuk berinvestasi sesuai kesanggupannya, dia bisa mengembangkan uang modal yang didapat dengan membeli property, hotel atau perusahaan. Penerapannya anak bisa diajar untuk menambah uang jajan dengan bisnis kecil-kecilan/wira usaha. Sekarang popular diperkenalkan “market day” di lingkungan sekolah-sekolah. Anak-anak diajar untuk berbisnis/berjualan dengan harga yang kecil terlebih dulu. Mulai alat tulis hingga makanan kecil.

·         Mengambil resiko
Setiap investasi yang ditanam akan ada resiko, baik besar atau kecil. Dari investasi itu punya potensi untuk menghasilkan uang yang lebih besar di masa mendatang.

·         Mengendalikan Pengeluaran
Saat uang jajan menipis, anak harus bersabar untuk memiliki sesuatu. Dia harus bisa mengutamakan barang yang menjadi kebutuhannya.

sumber : www.google.co.id

  1. Menginjak usia sekolah lanjutan untuk uang saku bisa diberikan secara periodik, mingguan atau bulanan. Di usia ini kebutuhan anak sudah mulai komplek, dari jajan, uang pulsa, membeli buku/alat tulis, uang transport dan lain-lain. Ajarkan anak untuk mulai membuat laporan keuangan sederhana. Anak sudah mulai punya perencanaan keuangan. Di usia ini perkenalkan anak dengan bentuk-bentuk kewirausahaan yang sederhana. Rangsang anak untuk punya jiwa mandiri, tidak mengandalkan keinginan untuk menjadi pegawai di masa-masa mendatang.

Ajakan Berhemat

Konsep keuangan dilihat dari sisi Islami itu mirip konsep makan. “Makanlah jika lapar dan berhentilah jika kenyang.” Hal ini sama dengan penuhi kebutuhan sesuai dengan yang kamu butuhkan dan hiduplah apa adanya. Dari sisi psikologi, mengajak anak berhemat itu perlu diajarkan :
  1. Pahami dirinya dan pahami kebutuhannya, anak perlu diajarkan “aku ini siapa, aku umur berapa, aku perempuan atau laki-laki, apa yang kubutuhkan.”
  2. Untuk apa aku memiliki sesuatu dan untuk apa aku membeli sesuatu.
  3. Kapan harus punya sesuatu dan harus membeli sesuatu itu apa?
  4. Ketika punya uang cukup atau lebih bukan hak kita semua karena ada sebagian adalah hak orang lain yang tidak mampu. Di sini diajarkan untuk beramal. Komposisi antara ZIS (zakat, sedekah dan Infak), investasi dan konsumsi adalah 10-10-80 dari pendapatan bulanan, 10% untuk ZIS, 10% untuk investasi dan 80% untuk konsumsi.

Tips Mengelola Keuangan Anak-anak
  
  1. Mengajak anak saat setor uang ke bank, bukan hanya ketika mengambil uang di ATM. Di sini anak akan paham bahwa kita bisa ambil uang dari ATM bersumber dari uang yang kita setor ke bank.
  2. Mengajarkan anak menetapkan tujuan dan menabung untuk merealisasikan tujuan tersebut.
  3. Memberikan pengertian tentang perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Orang tua tidak boleh terlalu royal pada anak dan tidak menganggap semua keinginan anak itu harus dipenuhi. Contoh nyatanya anak tidak perlu dibelikan gadget yang mahal yang tidak sesuai dengan usianya, atau menyerahkan begitu saja ATM kepada anak agar ia bisa mengambil uang kapan saja.
  4. Membuat pilihan, bukan pengorbanan.
  5. Menunjukkan perencanaan masa depan.
  6. Berbagi dengan orang lain/beramal.
  7. Mengatur waktu menonton televisi.
Anak-anak tidak harus terlalu lama berada di depan televisi, untuk menghindari paparan iklan yang begitu dahsyat menggoda agar mereka membeli sesuatu (bersifat konsumtif).

Sunlife dan Dukungan Untuk Generasi Muda Melek Finansial


PT. Sunlife Finansial Indonesia merupakan salah satu organisasi keuangan yang terpercaya, yang telah eksis di Indonesia sejak 1995. Aneka produk dan layanan keuangan seperti asuransi jiwa, pendidikan, kesehatan, dan perencanaan hari tua, lengkap tersedia untuk memenuhi kebutuhan keuangan masyarakat Indonesia.

Para orangtua dapat mempersiapkan dana pendidikan untuk putra-putri dengan berbagai macam bentuk pilihan. Ada Junior Study Plan, edu care,  asuransi rencana cerdas, rencana pintar, dan scholar in safe. PT. Sun life Finansial terdapat di 32 kota dengan lebih dari 61 kantor pemasaran akan memudahkan masyarakat mendapatkan informasi.

Dalam program pendidikan keuangan untuk anak dan generasi muda, PT. Sun Life Finansial Indonesia menyelenggarakan :

1. Maret 2013 diumumkannya kemitraan dengan universitas Ciputra Surabaya, untuk bersama mengadakan pelatihan melek finansial bertajuk ‘Financial Planning for Smart Entrepreneur’ bagi para mahasiswa dan anggota fakultas di universitas Ciputra Surabaya. Dalam hal ini Sun Life berupaya untuk membekali para calon wirausahawan muda Indonesia dengan keahlian perencanaan keuangan yang memadai agar kelak mereka dapat merencanakan dan menjalankan bisnis mereka sendiri dengan baik. Selain itu adalah pemberian beasiswa bagi para peserta yang ingin mengambil gelar perencanaan keuangan profesional dengan standard internasional seperti Registered Financial Planner (RFPTM) dan Certified Financial Planner (CFP®).

  1. September 2013, Sun Life dan CARE for the Nation meluncurkan program “Champion Teens Care for the Nation 2013” di Lampung, yang melibatkan sekitar 1000 siswa untuk mengembangkan ketrampilan kewirausahaan, sebagai kelanjutan dari program di tahun 2012.
  2. Desember 2012, menyerahkan secara simbolis bantuan pendidikan kepada dua sekolah dasar Negeri, yaitu SDN Karet Tengsin 15 dan 16, Jakarta berupa renovasi ruang perpustakaan, pengecatan sekolah, pembaruan furnitur, dan sarana olah raga.
  3. Oktober 2012, Sun Life mendukung CARE for the Nation, sebuah program komunitas yang dirancang untuk membantu generasi muda Indonesia untuk meningkatkan kemampuan melek finansial
Melalui program CARE for the Nation, James Gwee, bersama dengan manajemen dan karyawan Sun Life, melatih kurang lebih 40.000 siswa SMK, usia 16 dan 18, di sembilan provinsi di seluruh Indonesia yakni Sumatra Selatan, Jambi, Bangka Belitung, Sumatra Utara, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Bali, Jawa Tengah, dan area Jabodetabek, untuk menjadi wirausaha muda yang sukses. termasuk pemberian pelatihan yang berfokus untuk membantu para siswa membuat rencana bisnis, kemampuan pemasaran dan kemampuan penting lainnya yang dibutuhkan untuk mendirikan bisnis mikro.

Semoga di waktu-waktu mendatang, Sun Life Indonesia lebih banyak berkontribusi untuk kemajuan generasi penerus melalui kegitan-kegiatannya yang sangat bermanfaat. Sehingga pendidikan finansial bagi anak-anak Indonesia akan selalu berkesinambungan dengan melibatkan keluarga, masyarakat dan pemerintah. Amin.

Tulisan ini dibuat untuk disertakan dalam Sun Anugerah Caraka Kompetisi Menulis Blog 2014 yang diselenggarakan oleh Sun Life Financial Indonesia.

Referensi :
http://www.sunlife.co.id
Majalah Al Falah edisi 319, Oktober 2014
http://www.parentsindonesia.com/article.php?type=article&cat=feature&id=2300

1 komentar:

  1. wahh bisa ditiru itu mbak, akan saya jadikan langkah-langkah yang mbk tulis sebagai panduan untuk mengajari anak saya melek finansial. tapi saya bersyukur sih sudah mengajarkan anak untuk menabung sejak kecil hihihi

    BalasHapus