Sabtu, 27 September 2014

PEREMPUAN MELEK FINANSIAL UNTUK MASA DEPAN YANG SEJAHTERA



Berbicara tentang melek finansial, ingatan saya melayang pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Adalah Ibu Rodiah Asmara, seorang perempuan asal Sunda yang sudah saya anggap seperti ibu kandung sendiri. Beliau banyak bercerita tentang kehidupan rumah tangga dan cara mengelola keuangan keluarga di masa mudanya.
Suami beliau adalah sorang anggota TNI AL aktif waktu itu, dan sering tugas berlayar meninggalkan istri dan kelima anak yang masih kecil-kecil.

Perempuan ayu itu bercerita, menjadi seorang ibu, dengan kelima anak dan istri dari seorang anggota TNI harus benar-benar pandai mengatur keuangan. Gaji yang diterima haruslah cukup untuk kebutuhan selama satu bulan, dengan tambahan beras jatah dan sabun cuci batangan, bisa dipastikan tidak ada penghasilan tambahan dengan profesi suami yang harus benar-benar mengabdi, dan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas segalanya. 

Beliau punya cara dalam membukukan pemasukan dan pengeluaran keuangan keluarga. Dalam buku yang cukup ketebalannya, beliau garis ditengah dan membuat kolom yang sangat sederhana. Kolom itu berisi pemasukan dan pengeluaran. Dalam kolom pemasukan beliau tulis dari atas ke bawah jenis-jenis pemasukan dan tanggalnya serta nilainya dalam rupiah. Untuk kolom pengeluaran jenis-jenis keluarnya uang untuk keperluan dan kebutuhan apa saja dengan detil beliau tulis, lengkap tanggal dikeluarkannya dan nilainya berapa.


Perempuan yang hanya mengenyam pendidikan formal setingkat SMP dan lahir di tahun 1941 itu rupanya cukup cerdas. Dengan segala  keterbatasan, beliau telah terapkan sesuatu yang sangat jarang dilakukan oleh ibu rumah tangga kala itu. Beliau harus hitung dengan detil, berapa pengeluaran untuk lauk-pauk hariannya, keperluan putra-putrinya sekolah dan dengan pintar beliau siapkan keuangan jika sewaktu-waktu ada si kecil yang harus ke dokter, sedang si Bapak sedang berlayar ke luar pulau.

Untuk menabung dengan besarnya gaji yang ada, rasanya susah dilakukan. Dengan kecerdikannya, beliau selalu sisihkan setiap harinya “sejumput” demi “sejumput” beras jatah untuk disisihkan di lain tempat. Beliau menabung beras jatah dengan harapan pada suatu waktu tertentu, beliau bisa “memanen” beras itu dan menjualnya. Uang hasil penjualan itu, beliau sisihkan di dompet lain sebagai tabungan, yang akan dipergunakan dalam keadaan mendesak dan tidak diharapkan.

“Sebagai perempuan dan Ibu, kita harus pintar, cerdas dan mampu menjadi manager keuangan yang handal. Dengan keuangan yang terkelola, keluarga juga akan harmonis, karena sang nahkoda kapal (suami) akan lebih tenang dalam mencari penghasilan, tidak khawatir terjadi sesuatu pada rumah tangganya dan mempercayakan segala sesuatunya kepada istrinya.” Demikian pesan beliau yang masih saya ingat hingga sekarang.
******

Keluarga ibarat suatu perusahaan dalam skala kecil. Ada pimpinan perusahaan dalam keluarga di sebut Bapak/ayah. Posisi keuangan yang dikepalai manager keuangan dipegang peranannya oleh seorang ibu. Bila dalam perusahaan pembukuan keuangannya berbentuk laporan keuangan yang tiap bulannya harus disajikan dalam kondisi laba atau rugi. Dalam keluarga, pembukuan keuangan juga semestinya ada, mungkin bentuknya saja yang lebih sederhana. Ibu atau istri yang selayaknya mengatur dan mengelola keuangan keluarga disesuaikan dengan fungsi dan tugasnya sebagai partner aktif seorang suami.

Tetapi, sudahkah itu ada dalam kehidupan rumah tangga kita? Ataukah kita sebagai manager keuangan tidak menjalankan tugas sesuai dengan amanah yang kita emban? Bisa dipastikan, keluarga akan mengalami masalah keuangan yang kronis nantinya.

Melek Finansial

Jujur, bahasa melek finansial agaknya menjadi sesuatu yang asing di telinga perempuan Indonesia. Dari beberapa teman perempuan di kantor yang saya tanya, mereka umumnya menggelengkan kepala begitu saya tanya apa itu melek finansial.

Melek finansial atau literasi keuangan adalah kemampuan dalam membaca, memahami dan mengatur hal-hal yang berhubungan dengan masalah finansial atau keuangan. Kemampuan mengelola keuangan dalam keluarga Indonesia, menurut hasil survey sebesar 51,1% diatur oleh istri. Sementara survey lainnya menyebut angka berbeda, sekitar 89% di kelola oleh istri. Sedang data lain menyebut jumlah perempuan Indonesia yang memiliki rencana keuangan dan pensiun yang matang hanya 26%. Yang mempunyai kemampuan melek literasi keuangan dari data yang diambil di 20 propinsi menyebutkan angka yang lebih kecil sekitar 2.18%.

Angka-angka diatas memberi gambaran rendahnya tingkat literasi keuangan di Indonesia. Untuk negara lain di dunia ini berdasar Financial Literacy and Education Summit yang diadakan di Chicago pada tahun 2012 menyebut Brazil, Meksiko, Australia, USA dan Kanada yang menempati peringkat atas untuk survey penduduknya yang melek keuangan. 

Penilain yang digunakan atau kategori melek finansial adalah :
  1. Kemampuan mengatur anggaran rumah tangga, urutan peringkatnya dipegang Brazil, Jepang dan Australia.
  2. Kemampuan mempersiapkan dana darurat (dana cadangan untuk hal-hal yang tidak diinginkan) : Hong Kong dan Taiwan. Lebih 70% dari sample survey menjawab punya dana darurat yang berkisar jumlah tiga bulan gaji.
  3. Pendidikan keuangan untuk anak, dipegang Meksiko dan Brazil. Faktanya orang tua membicarakan masalah keuangan dengan anaknya setidaknya perlu 41,7 hari dalam setahun.
Banyak dari negara-negara yang dinilai, tidak paham dasar-dasar pengelolaan keuangan, seperti membuat anggaran, adanya tabungan, pencatatan hutang dan belanja yang bertanggung jawab. Indonesia sendiri berada pada peringkat bawah dengan skor 21,7, berada jauh dibawah Thailand dan Malaysia yang mempunyai skor diatas 40.

PEREMPUAN MELEK FINANSIAL/KEUANGAN

Mengapa perempuan juga  dituntut untuk melek finansial? Kenapa tidak hanya dibebankan pada laki-laki sebagai kepala keluarga? Pertanyaan ini harus dijawab berdasarkan data, bahwa :
  1. Perempuan secara jumlah mencapai 59,7% dari penduduk Indonesia. Angka ini tidaklah kecil. Jumlah perempuan juga memegang peranan dalam pencapaian kemakmuran keluarga-keluarga Indonesia.
  2. Perempuan atau istri menjadi tokoh sentral dalam pengelolan keuangan keluarga. Tidak mungkin tanggung jawab ini dipegang secara penuh oleh suami. Istri adalah partner/mitra terdekat suami. Istri yang mempunyai kecerdasan dalam mengelola keuangan keluarga akan mengantar keluarga pada kebahagiaan dan kesejahteraan, karena antara kebutuhan dan keperluan akan terpenuhi secara baik. Dengan pertimbangan kebutuhan akan mendapat skala prioritas untuk dipenuhi, disesuaikan dengan kemampuan keuangan yang ada.
  3. Perempuan atau istri/ibu menjadi madrasah/sekolah awal bagi kehidupan putra-putrinya. Seorang ibu yang cermat dan cerdas akan melahirkan generasi penerus atau anak-anak yang cerdas pula. Seorang ibu yang pandai mengelola keuangan keluarga akan memberikan dan menularkan kepandaiannya itu pada anak-anaknya. Dan ini sebagai modal tersedianya generasi penerus yang nantinya juga melek finansial.
  4. Pada akhirnya akan tercipta suatu kondisi yang harmoni dalam kehidupan keluarga-keluarga Indonesia. Masing-masing keluarga yang punya kemandirian finansial akan menciptakan stabilitas keamanan dan ekonomi dalam negara tersebut. Ini sebagai modal untuk meraih kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara keseluruhan.
Tantangan yang dihadapi dalam terealisasinya kondisi perempuan yang melek finansial adalah rendahnya pendidikan (edukasi) dan tingkat sosialisasi.Banyak dari istri atau perempuan yang tidak paham atau bahkan tidak berpikir mengapa harus melek finansial. Ilmu melek finansial memang tidak diajarkan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Semua diserahkan pada individu pribadi masing-masing perempuan dalam hal pengelolaan keuangan keluarga. Perempuan yang terbiasa hidup boros sejak kecil, menganggap uang yang diperoleh harus habis dipakai untuk memenuhi kebutuhan dan keperluan hidupnya, tanpa ada sisa untuk dipakai sebagai cadangan. Siap-siap saja mengalami penderitaan berkepanjangan bagi lelaki yang mendapat seorang istri type ini.

Berikut adalah beberapa alasan yang menyebabkan perempuan mengalami buta finansial, menurut Lois P. Frankel dalam bukunya : Nice Girls Don't Get Rich, beberapa kesalahan perempuan dalam mengelola uang :
-   Merasa tidak memiliki waktu untuk belajar investasi/memusatkan perhatian pada masalah-masalah finansial mereka.
-        Perempuan tidak tertarik pada masalah-masalah finansial.
-   Mereka belajar dari ibu mereka bahwa “tidak banyak bicara” tentang uang akan membuat mereka kelihatan lebih menarik bagi laki-laki.

                          PENGETAHUAN FINANSIAL PEREMPUAN SECARA UMUM



Sebagai perempuan, beberapa upaya yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan pengetahuan finansial adalah sebagai berikut :
  1. Membiasakan membaca sesuatu tentang uang. Perempuan harus memaksa diri untuk banyak membaca majalah bisnis, mendengarkan radio, atau browsing di internet tentang hal-hal tersebut. Intinya harus ada upaya dengan sadar untuk membanjiri diri dengan informasi yang positif tentang keuangan. Alihkan kebiasaan membaca atau menonton hal-hal yang bersifat gosip dan tidak menambah wawasan diri, hanya menyuburkan kebiasaan untuk membicarakan aib orang lain.
  2. Membiasakan diri untuk berbicara, menanyakan atau berdiskusi dengan orang yang tahu lebih banyak tentang keuangan. Jangan bersikap pasif dan menutup diri terhadap permasalahan keuangan pribadi dan keluarga. Tanamkan sikap pasti ada jalan terhadap permasalahan yang ada, sepanjang kita tidak berdiam diri dan mendiamkan masalah itu berlalu dengan sendirinya.
  3. Memulai menabung sejak dini, meskipun nilainya kecil. Paksa diri untuk bisa menyimpan uang sebesar 5-10% dari total penghasilan kita. Hindari diri dari sikap konsumtif terhadap barang-barang yang sering menggoda iman untuk memilikinya. Apalagi dalam usaha memiliki itu kita berhutang. Harus benar-benar dihindari dan dijauhi.
Perempuan sebagai makhluk yang menjadi sasaran iklan produk-produk fashion, gadget atau barang konsumtif lainnya, harus membiasakan diri sejak muda atau sebelum menikah untuk memiliki perencanaan keuangannya secara pribadi. Ini sebagai modal untuk melangkah dengan mudah dan terbiasa mempunyai rencana keuangan bila sudah menjadi istri dan ibu bagi anak-anak. 

Setelah menikah, tantangan yang dihadapi perempuan semakin komplek dan rumit. Jangan menyerahkan semua pengelolaan keuangan pada suami. Kita harus berkaca pada kisah Barbara Stanny dalam bukunya “Prince charming isn’t coming : How women get smart about money (Putnam, Penguin, 1997), yang mengisahkan perempuan itu mewarisi berjuta-juta dolar dari ayahnya, Richard Block, seorang pemilik konsultan pajak terkenal. Semua uang diserahkannya kepada suaminya yang senang berjudi. Singkat cerita, setelah 10 tahun perkawinan berjalan, ia kehilangan semua harta warisannya.
Kemampuan memiliki ilmu mengatur keuangan bukan hal yang tabu, malah harus dimiliki oleh seorang perempuan. Tidak peduli dia seorang ibu rumah tangga, pedagang kelontong, pedagang sayur, pemilik butik, pemilik toko online atau pengusaha wanita yang sukses. Semua memiliki hak yang sama untuk maju, menikmati masa kini dan menjalani masa depan dengan nyaman, tanpa bergantung pada suami atau anak-anak nantinya.

Menurut Safir Senduk, seorang ahli perencanaan keuangan, seorang perempuan harus mempunyai 3 komponen  dalam mengatur keuangan keluarga :

  1. Punya Sistem
Sistem keuangan harus dirancang sedemikian rupa, diantaranya uang yang masuk (pemasukan) harus digunakan untuk membayar pengeluaran-pengeluaran rutin, seperti biaya sekolah, belanja baik harian atau bulanan, arisan, listrik, air dan lain-lain. Yang perlu dicermati, bahwa pengeluaran tidak boleh lebih dari pemasukan.
Untuk pengeluaran yang sifatnya tidak rutin, seperti sakit, beli kado, ada saudara datang, harus diambilkan dari uang tabungan. Kalau tidak punya tabungan, upaya cerdasnya adalah dengan menyisihkan uang belanja yang ditabung meski jumlahnya sedikit.

  1. Pilih investasi yang tepat.
Ada tiga bentuk investasi yang bisa dipilih :
-        Investasi Produk Keuangan : deposito, obligasi, saham, reksadana/valas
-        Investasi asset berwujud emas, tanah, property dan barang koleksi.
-        Berbisnis atau buka usaha.

  1. Atur Pengeluaran.
Pengeluaran harus diatur berdasar skala prioritas. Mana kebutuhan yang harus didahulukan dan mana keinginan yang bisa ditunda dalam upaya pemenuhannya. Yang terpenting di sini adalah bentuk keras pada diri untuk menjauhi sikap boros, dan menganggap uang selalu ada untuk kita.

Perempuan, Investasi dan Sun Life Financial Indonesia (Sun Life)

Krisis ekonomi di tahun 1998 dan 2008, memberi banyak pelajaran pada kehidupan keluarga di Indonesia untuk mempersiapkan diri lebih sigap di bidang keuangan. Banyak ketidakpastian dan kondisi yang berubah sangat cepat, yang mengancam kehidupan keluarga Indonesia. PHK mendadak, kecelakaan kerja atau kematian yang siap menjemput sewaktu-waktu, yang bisa memporak-porandakan kondisi harmonis dari satu keluarga. 

Ada 4 prinsip yang harus diketahui perempuan agar cerdas mempersiapkan masa depannya :

  1. Berapa besarnya dana yang harus ditabung
Sebagai istri dan ibu yang paham seluk beluk keuangan keluarga, akan tahu berapa besarnya uang yang harus disimpan. Besaran ini bisa didiskusikan dengan suami untuk menjadi dana simpanan. Besaran ini menentukan rencana dan bentuk investasi macam apa yang akan diambil agar kehidupan masa pensiun tercapai.

  1. Rencanakan Pensiun Pribadi
Jangan tergantung dengan pasangan dan anak-anak. Biasakan diri untuk menabung secara konsisten dan disiplin dari muda.

  1. Produksikan uang tiada habis
  2. Pelajari dengan seksama jenis investasinya.
     
Kita mengenal berbagai macam perusahaan yang bergerak di bidang investasi keuangan , salah satunya adalah PT. Sun Life Financial Indonesia (Sun Life) yang berdiri sejak 140 tahun yang lalu dan berpusat di Toronto, Canada. Di Indonesia perusahaan ini telah beroperasi sejak 1995 dalam melayani dan memberikan aneka layanan dan produk jasa keuangan. Selama hampir 20 tahun  masyarakat atas kebutuhan investasi di masa kini dan masa mendatang.

Produk yang ditawarkan beraneka ragam, meliputi Proteksi, Simpanan dan Investasi, Riders, Bancassurance, dan Sun Life financial Syariah. Sun Life Indonesia tidak hanya memberi layanan asuransi kesehatan dan jiwa, tapi juga sudah meliputi tabungan dan investasi yang menguntungkan dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pribadi. Sun Life Indonesia pun turut mendukung CARE for the Nation, program yang diperuntukkan dan dirancang untuk membantu generasi muda dalam meningkatkan kemampuan melek finansial.

Beberapa penghargaan dari Karim Consulting Indonesia 2013 dan 2014 di raih PT. Sun Life financial yang menduduki Peringkat 1 The Best Risk Management Islamic Life Insurance dengan aset di bawah Rp 150 miliar, dan peringkat ke 3 untuk The Profitable Insurance dengan aset di bawah Rp 150 miliar.



Dalam menentukan investasi yang akan dipilih, pastikan langkah awalnya melengkapi diri dengan pengetahuan dan selanjutnya adalah tindakan. Ada strategi yang harus dijalankan dalam menentukan/merencanakan investasi :
  • Harus tahu mau punya aturan seperti apa? Dari awal ditentukan mau punya tujuan mengatur investasi atau mengatur lalu lintas keuangan.
  • Mengetahui tujuan finansial.
  • Perhatikan seksama produk investasi. Perlu wawasan finansial, pastikan lebih dulu sesuai kebutuhan, jangan menentukan jenis investasi karena terpaksa, ikut-ikutan atau menuruti kemauan agent asuransi/investasi. Harus ada rasa paham dan mengerti, baru tentukan produknya seperti apa.

Dukungan untuk gerakan perempuan melek finansial

Sebagai blogger dan seorang perempuan, saya turut mendukung gerakan melek finansial bagi perempuan Indonesia ini, dengan langkah-langkah :
  1. Perempuan melek finansial harus diwujudkan bersama antara Pemerintah dan masyarakat Indonesia sendiri, mengingat potensi yang dimiliki perempuan Indonesia sangat besar, sebagai istri/ibu dan pihak yang dianggap paling bertanggung jawab melahirkan generasi penerus yang juga melek finansial.
  2. Gerakan literasi keuangan harus disosialisasikan sejak dini kepada perempuan Indonesia. Melalui Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, peluncuran buku saku keuangan bagi perempuan dalam memahami karakteristik, layanan dan produk lembaga jasa keuangan harus segera diwujudkan.
  3. Buku saku itu bisa dibagikan gratis kepada perempuan yang akan menikah (lewat) di lembaga perkawinan.  
  4. Pemberian edukasi mengenai melek finansial bisa dilakukan lewat kader-kader PKK yang ada di wilayah masing-masing. Setidaknya ada pendampingan dari pegawai atau organisasi yang terkait dengan Kementrian PPPA yang telah mendapat pelatihan modul materi keuangan yang terintegrasi. Pelatihan ini gratis dan berkelanjutan, dan tidak harus memakan waktu hingga berjam-jam atau seharian.
  5. Sosialisasi aktif lewat media televisi, melalui spot iklan pendek dan mengena di hati perempuan. Media online yang akhir-akhir ini menjadi suatu bentuk kegandrungan baru juga bisa disasar. Otoritas Jasa Keuangan dan Kementrian PPPA bisa bekerjasama meluncurkan aplikasi online di smart phone yang mengakses informasi materi keuangan dan materi jasa keuangan atau investasi bagi perempuan.
  6. Untuk perempuan yang bekerja di luar negeri, sosialisasi mengenai keuangan menjadi satu keharusan. Fakta membuktikan banyak dari Buruh Migran Indonesia (BMI) tersebut yang tidak paham sama sekali tentang tata cara kelola keuangannya. Banyak diantara mereka terjerat utang bank di luar negeri karena budaya konsumtif yang tidak terkendali. Sementara dana untuk tabungan tidak dipersiapkan dari awal, hingga kondisi memprihatinkan kerap mereka jumpai sepulang dari luar negeri. Menjadikan mereka kembali lagi berangkat ke luar negeri, karena tidak adanya bentuk investasi. Sosialisasi ini bisa dilakukan dengan bentuk kerjasama yang aktif antara Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, OJK dan agen pemberangkatan TKI tersebut.
Demikian enam langkah yang perlu dilakukan sebagai upaya membuat kesadaran perempuan untuk melek finansial lebih cepat terwujud. Sehingga kesejahteraan mereka lebih mudah diraih, baik di masa kini atau di masa depan. Perempuan yang sejahtera merupakan komponen untuk meraih kesejahteraan bangsa dan masyarakat Indonesia. Sehingga diharapkan Indonesia menjadi satu negara yang kuat, makmur dan sejahtera, baik di lingkup ASEAN atau dunia. Amin.

Tulisan ini dibuat untuk disertakan dalam Sun Anugerah Caraka Kompetisi Menulis Blog 2014 yang diselenggarakan oleh Sun Life Financial Indonesia.



Referensi :

http://www.sunlife.co.id/indonesia/About+us/Sun+Life+Financial+Indonesia?vgnLocale=in_ID




 

3 komentar:

  1. Makasih sharenya mbak...kita memang perlu melek finansial ya..:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya Mbak, awalnya saya juga belum paham banget istilah melek finansial. Perempuan tidak harus mempercayakan urusan keuangan 100% ke pasangan, harus ada pemahaman dan wawasan secara pribadi.

      Hapus
  2. Perempuan Melek (Sadar) Financial memang merupakan sebuah tuntutan kewajiban yang harus dimiliki oleh setiap perempuan di Indonesia. Budaya di Indonesia secara umum menempatkan perempuan sebagai pengelola keuangan keluarga. Semakin pandai perempuan mengelola keuangan keluarga, maka semakin sejahtera keluarganya. Begitu juga sebaliknya. Situasi dan kondisi kebutuhan keluarga dan perekonomian yang berkembang saat ini menuntut perempuan untuk trampil dan cekatan dalam mengelola keuangan keluarga demi kesejahteraan keluarga.
    Tulisan yang ditulis dan diuraikan oleh Sulistyorini di atas bisa menjadi referensi untuk mengembangkan wawasan bagi para perempuan untuk menyadari posisi pentingnya sebagai pengelola keuangan keluarga yang sudah menjadi tuntutan jaman. Selamat, semoga berhasil untuk penulis dan para perempuan Indonesia

    BalasHapus