Senin, 22 September 2014

BELAJAR KETELADANAN DARI SEORANG NENEK PENJUAL EMPING



EMPING, sebutan untuk "popcorn jawa"


Emping…emping, emping…emping, suara khas milik seorang wanita tua penjual emping rutin saya dengar di minggu pagi. Dari kejauhan, suara itu terdengar sayup-sayup. Minggu-minggu sebelumnya saya belum berhasil menghentikan nenek penjual emping. Saya hanya bisa bernostalgia akan jajanan khas ini.
Sudah berpuluh tahun, jajanan ini tidak pernah saya jumpai.

Minggu pagi ini, mungkin sudah menjadi rezeki saya, sebelum nenek penjual emping melewati rumah, saya berhasil menghentikannya. Saya ingin membuktikan apa emping yang dulu saya nikmati sama dengan emping yang sekarang dijualnya. Dari balik pintu saya panggil nenek penjual emping. “Mbah…mbah, beli empingnya.” Rupanya nenek itu tidak mendengar dari mana asal suara yang memanggilnya. Pintu rumah saya masih terkunci, dengan tergesa-gesa saya cari kunci dan berharap penjual emping tidak berlalu seperti minggu-minggu sebelumnya.

Saya lihat dari balik kaca, nenek penjual emping berputar-putar mencari arah suara yang memanggilnya. Nenek itu berusaha masuk ke gang depan rumah, berharap suara yang terdengar berasal dari sana. Sebelum langkahnya menjauh, saya telah berhasil membuka pintu dan saya lebih keras memanggil nenek itu. “Mbah…mbah di sini mbah yang mau beli emping.”

Nenek itu melihat saya dan berputar menuju teras rumah. Saya melihat dengan jelas sosok wanita tua penjual emping ini. Dengan sigap dia turunkan dagangan dari gendongannya. Penampilannya sangat bersahaja,berumur sekitar enam puluh tahun ke atas, dengan rambut yang masih berwarna hitam legam. Keriput tampak di sana-sini, dalam balutan kebaya warna coklat yang sudah lusuh.

Masih tertegun, tiba-tiba nenek itu mengulurkan tangannya. “Nyuwun sepuro nggih Nak, wau Mbah mboten mireng (Minta maaf ya Nak, tadi Mbah nggak mendengar suaranya.” Saya gelagapan menyambut uluran tangan tulus itu. Saya jawab sambil saya jabat tangan itu, “Nggih Mbah…sami-sami (Ya Mbah…sama-sama).” Beliau menanyakan berapa emping yang saya beli, sambil memarut bagian kecil kelapa yang masih ada.

Saya jawab sedikit saja. Nenek itu memasukkan emping ke plastik kecil dengan senyum mengembang di bibirnya. Beliau berikan jajanan masa kecil itu dengan santun ke arah saya. Saya menerimanya dengan mengucap terima kasih. Saya berikan selembar uang lima ribuan ke nenek penjual emping, saya katakan nggak usah pakai kembalian. Wanita tua itu menerimanya dengan mimik sumringah. Tampak kebahagiaan di rona wajahnya yang polos tanpa bedak dan make up lainnya itu.

Beliau katakan, “Matur nuwun Nak… matur nuwun, mugi diparingi rezeki ingkang lancar, ugi kesehatan (Terima kasih Nak...terima kasih, semoga diberi rezeki yang lancar, juga kesehatan). Saya tertegun mendengar doanya dan mengucap amin, begitu tersadar. Saya pandangi nenek tua itu lebih dalam, begitu beranjak dari teras rumah dan hilang di tikungan gang.

Saya merenung dan tanpa sadar ada setitik air jatuh dari mata ini. Wanita tua itu mengajarkan ilmu hidup yang saat ini sudah jarang kita jumpai. Segera meminta maaf atas kesalahan dengan tulus, walaupun saya menilai hal ini bukan satu kesalahan yang dilakukan nenek penjual emping. Meminta maaf merupakan hal yang berat dilakukan saat ini, dan itu terjadi atas nama gengsi. Nenek ini usianya jauh lebih tua dari saya, tapi beliaunya merasa perlu meminta maaf atas tidak terdengarnya suara saya. Sepele, tapi tidak bagi nenek penjual emping.

Ilmu kedua yang beliau ajarkan adalah ungkapan rasa syukur atas rezeki yang didapat. Nilai yang kecil menurut saya, tapi lagi dan lagi, tidak bagi nenek ini. Beliau terima rezeki dari Allah dengan sangat gembira dan yang lebih menunjukkan sikap syukur itu dengan memohonkan doa bagi saya. Memohon kepada Allah semoga memberi kelancaran rezeki dan kesehatan. Ya Allah, Alhamdulillah, Engkau beri saya pelajaran lagi atas kejadian ini.

Seringkali kita lupa bersyukur atas rezeki yang di dapat. Bukan hanya kata Alhamdulillah yang terucap untuk mengungkapkan rasa syukur itu. Tapi harusnya lebih dari itu. Bagaimana kita dengan tulus memohon kebaikan atas rezeki yang di terima, meningkatkan mutu kebaikan kita di mata Allah dan di mata manusia.

Sosok nenek penjual emping sudah jarang kita temui di masa sekarang. Tetap mau berjuang, bekerja memenuhi kebutuhan hidup, yang menurut hitungan saya sangat jauh dari cukup. Dengan kalkulasi harga emping hanya seribu-dua ribu rupiah, mungkin kurang dari limapuluh ribu yang beliau terima. Tapi semangat anti meminta ada pada diri nenek penjual emping. Beliau tetap setia pada profesi dan kemampuan yang dia punya, meski berjalan ratusan meter. Tidak sebanding dengan kekuatan fisiknya. Beliau berjalan dari daerah Kupang hingga Kampung Malang menjajakan makanan masa kecil.

Semoga, kita yang lebih besar menerima rezeki tiap bulannya, tidak lupa akan arti bersyukur. Tidak gampang mengeluh bila mendapati rezeki kita berbeda dengan orang lain. Tidak merasa iri dan sakit hati, karena pada dasarnya rezeki bukan hanya berwujud materi semata. Seringkali kita lupa bahwa nikmat sehat, keharmonisan keluarga, ketenangan hidup dan kesempatan memperbaiki diri, menerima perbedaan dengan ikhlas juga merupakan wujud dari rezeki.

1 komentar:

  1. Teladan yang patut dicontoh...jangan susah mengucapkan kata maaf dan terima kasih...sederhana tapi begitu berarti ya mbak..

    BalasHapus