Sabtu, 01 November 2014

MENGUBAH HOBI MENJADI PROFESI





Sejak kecil saya suka membaca dan menulis. Bacaan yang biasa saya konsumsi adalah buku-buku yang ada di perpustakaan sekolah, majalah anak-anak, komik dan koran. Untuk majalah anak-anak kudapat dari lapak penjual koran dan majalah bekas yang ada di pasar sore Pandegiling, Surabaya. Ibu biasa membelinya seharga dua ratus lima puluh rupiah waktu itu. Sekalipun tidak baru, saya sudah sangat senang. Untuk koran pagi, biasa dibaca waktu menunggu teman SD  berangkat sekolah. Ayahnya berlangganan, dan biasanya saya berangkat lebih awal agar  ada cukup waktu untuk membacanya. Waktu itu kesenangan saya membaca novel yang dibuat secara bersambung di salah satu koran terkenal di kotaku. Judul novel yang masih aku ingat adalah “Kepeng Perak”.

Suka membaca, biasanya dibarengi dengan suka menulis. Waktu SD saya senang sekali dengan kegiatan mengarang. Untuk tugas mengarang yang di berikan oleh guru selalu terselesaikan dengan cepat. Tema yang menjadi favorit adalah tentang liburan, perlunya menjaga kelestarian alam, keuntungan menabung, dan tema lain yang berhubungan dengan kebaikan. Dongeng tentang binatang juga salah satu kegemaran saya.

Menginjak usia SMP, hobi membaca tetap berlanjut, tetapi untuk menulis dan mengarang sudah jarang saya lakukan. Koran pagi tetap dibaca, kali ini didapat dari tetangga samping rumah. Beliau berbaik hati untuk meminjami korannya setiap hari seusai sekolah. Majalah remaja yang trend waktu itu saya baca dari hasil meminjam milik teman sekolah. Lumayan, tidak ketinggalan informasi dan berita, sekalipun tidak pernah berlangganan koran dan majalah.

Prestasi di bidang kepenulisan pernah saya raih, waktu itu menjadi juara satu dalam lomba menulis pada event bulan bahasa yang diadakan SMAN 2 Surabaya. Apresiasinya berupa bea siswa selama enam bulan. Alhamdulillah, hadiah itu mengurangi beban orang tua. Selepas lulus SMA, kegiatan tulis menulis praktis berhenti, saya sibuk dengan pekerjaan di salah satu perusahaan swasta di Surabaya. Tetapi saya sempat menyabet prestasi sebagai juara tiga lomba menulis yang di adakan perusahaan di tempat kerja. Kegiatan itu bersifat nasional, karena melibatkan seluruh cabang perusahaan. Saya dapat hadiah berupa kompor gas. Senang sekali rasanya, bukan pada nilai nominalnya, tapi pada kepuasan hati. Ternyata saya juga bisa menulis.

Sekalipun jarang menulis, tapi kesukaan membaca tidak berhenti. Saya tetap membaca apa saja yang bisa dibaca, dari pengetahuan tentang agama, motivasi, gaya hidup, kesehatan, politik, hiburan, olah raga, acara liburan dan lainnya. Keuntungan besar yang didapat dari kegemaran membaca adalah bertambahnya wawasan, pengetahuan,  pengembangan diri, kemampuan beradaptasi dan bersosialisasi dengan berbagai kalangan. Kita tidak “kuper” dengan hal-hal baru yang terjadi, mengetahui peristiwa-peristiwa yang lagi trend di sekeliling kita. Banyak membaca membuat referensi kita pada hal-hal baru lebih up to date.

Di tahun 2011, tanpa sengaja saya membaca sebuah buku motivasi milik HRD Manager di kantor. Buku itu tandas dibaca dalam dua hari. Isi buku itu membuat kepala pusing dan ada “ sesuatu “ yang bergolak di dada. Saya ingin menjadi penulis, suatu kegiatan dan kegemaran yang sudah lama saya lupakan dan tinggalkan. Hati tergerak untuk memulainya saat itu juga. Saya berpikir, betapa hebatnya seorang penulis, mampu menularkan virus-virus positif dan kebaikan pada banyak orang. Membuat orang lain bertambah wawasan, pengetahuan, kemandirian, keimanan , bahkan mampu mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik.

Terlambatkah saya memulainya? Ternyata di dunia ini, tidak ada kata terlambat untuk hal-hal apapun yang dipandang baik dan positif. Saya mulai mempersiapkan diri untuk menjadi seorang penulis. Persiapan mental dan teknis. Mental meliputi kesediaan diri untuk rendah hati, bersikap optimis, berperilaku aktif, selalu berpikiran positif , dan mau belajar dari penulis-penulis lain baik yang masih pemula atau yang lebih senior. Kesediaan untuk meluangkan waktu untuk membaca banyak hal, baik dari buku, majalah, berita, pengalaman, dan pengamatan. Untuk hal-hal teknis di dapat dari mengikuti pelatihan-pelatihan menulis baik secara online atau lewat buku, berteman dengan penulis-penulis lewat situs jejaring sosial. Mempersiapkan sarana dan fasilitas menulis, ada komputer atau laptop, kalau pun belum tersedia bisa lewat warnet. Semua yang sebelumnya menjadi hambatanku untuk menulis secara perlahan bisa diatasi. Yang penting ada kemauan yang kuat, bahasa kerennya ada impian yang hendak kita raih. Inshaa Allah, hambatan akan terselesaikan dengan energi positif yang kita ciptakan. Kemauan dan keyakinan harus selaras kita munculkan untuk meraih cita-cita kita.

Awal memulai menulis, saya belum punya laptop. Sempat berpikir keras bagaimana bisa memiliki laptop impian itu. Tapi Allah memang Maha Mendengar, keinginan kuat itu direspon Allah lewat kebaikan hati teman kantor. Mbak Yana menjadi pahlawan pertama di bidang kepenulisan. Mbak Yana rela pinjamkan uangnya untuk membeli laptop sederhana seharga dua juta rupiah diawal tahun 2012. Pertolongan itu memuluskan langkah saya untuk menekuni dunia tulis menulis.

Dalam menulis, hasil sekecil apapun wajib disyukuri. Proses pembelajaran dari huruf ke huruf, kata demi kata, dan rangkaian kalimat yang tercipta, dari halaman satu ke halaman dua dan seterusnya, menciptakan rasa bahagia dan “sesuatu” banget. Ada rasa tidak percaya pada awalnya, ternyata dengan usaha dan kemauan serta kesabaran diri menikmati “kesulitan dan hambatan” dalam menulis, pasti akan berujung pada kata-kata akhir dalam sebuah karya tulis.  


Kesediaan diri untuk menerima kritikan juga sangat diperlukan dalam membentuk karakter positif untuk menjadi seorang penulis. Tulisan yang berhasil saya selesaikan seringkali menjadi bahan diskusi di antara teman-teman kantor. Saya memerlukan mereka untuk menilai karya-karya itu. Apa yang kurang dalam tulisan,mereka sampaikan dengan jujur, dan dengan senang hati diterima sebagai masukan mereka untuk kesempurnaan naskah tulisan itu. 

Dari awal, dalam memantapkan niat untuk menjadi seorang penulis, saya berkeinginan menuliskan sesuatu hal yang bermanfaat untuk diri sendiri dan banyak orang. Ada keinginan orang yang membaca tulisan itu akan terinspirasi melakukan kebaikan dan sesuatu yang bermanfaat, tanpa bermaksud menggurui. Pengalaman hidup yang terjadi, kebaikan dan keburukan yang sering di jumpai, dan kisah-kisah yang terekam dalam pengamatan dan pemikiran banyak menjadi bahan yang akan diramu menjadi sebuah tulisan. Dalam hal ini saya masih banyak belajar, membaca dari berbagai literatur, berguru pada orang-orang yang kompeten, dan terutama berguru pada kehidupan.  

Alhamdulillah, dengan banyak belajar, hasil manis teraih. Tulisan perdana berhasil menjadi naskah pilihan pada sayembara  yang diselenggarakan salah satu penerbit. Dan satu bulan kemudian, dua naskah berhasil menjadi juara ketiga dan nominator naskah religi Islami, yang sudah  dibukukan oleh penerbit yang berkantor di Yogyakarta. Untuk langkah selanjutnya saya ingin menulis di majalah wanita, majalah anak atau koran yang banyak menawarkan peluang menulis bagi masyarakat umum. 

Saat ini, saya telah punya blog pribadi sebagai media menulis. Beberapa buku dan pelatihan online tentang blog banyak membantu untuk mengembangkan blog sederhana itu. Dan dari lomba blog yang diselenggarakan beberapa pihak saya berhasil menjadi pemenang, diantaranya lomba blog yang diadakan PLN dan Biofarmaka IPB. Juara 2 dan juara 1 berhasil terukir, dengan judul Yuk, Dukung PLN Bersih dan Melestarikan Jamu, Memajukan Budaya Bangsa Indonesia. Blog itu punya nama www.sulistyoriniberbagi.com. Tapi nggak sedikit juga tulisan itu yang gagal menjadi yang terbaik. Saya tidak boleh berputus asa, sebab dari kegagalan itu kita bisa ambil pelajaran dan hikmahnya. Gagal dan sukses itu dua kata yang selalu beriringan, dalam kesuksesan yang diraih, pasti ada pernah mengalami kegagalan. 

Apresiasi dari pihak lain atas tulisan itu tidak menjadikan diri sombong dan berbesar hati. Masih banyak kekurangan dari karya yang saya hasilkan. Tapi setidaknya, dengan prestasi yang kita raih itu menjadikan kita terpacu untuk lebih memperbaiki diri. Membuat diri kita lebih haus akan ilmu, kebaikan dan keinginan untuk lebih bermanfaat pada kehidupan, sekecil apapun. Prestasi itu aku nilai sebagai jalan alternatif untuk lebih percaya diri, lebih rendah hati untuk menerima ilmu-Nya yang Maha Luas. Saya merasa menjadi pribadi yang sangat bergantung pada kekuasaan Tuhan, karena dengan ijin-Nya dan kuasa-Nya, saya bisa melewati step demi step untuk menjadi pribadi yang saya inginkan. 

Kesulitan membagi waktu? Mementingkan kerja atau pilihan menjadi penulis? Dari awal, kegiatan menulis untuk waktu sekarang masih menjadi kegiatan sampingan, karena masih terikat waktu sebagai karyawan di sebuah perusahaan swasta di Surabaya. Waktu menulis tidak menjadi halangan berarti bagi saya dalam menjalankan tugas sehari-hari sebagai seorang pegawai. Jam kerja dari pukul 08.30 WIB hingga sekitar pukul 18.00 WIB wajib saya selesaikan sebagai seorang karyawan dengan sebaik-baiknya. Waktu di luar itu bebas untuk aktifitas menulis atau mengerjakan kegiatan yang lain. Intinya dalam menulis harus dijalani dengan senang dan enjoy, tidak ada keterpaksaan atau keberatan dalam melakoninya. Inshaa Allah, dengan ini kita menjadi pribadi yang merdeka dalam menentukan kesenangan dan hobi. 

Waktu yang biasa saya gunakan untuk menulis selepas Isya, sehabis makan malam, atau sesudah menjalankan shalat subuh. Pikiran lebih fresh dan bersih menuangkan ide dan meramu tulisan menjadi sebuah karya yang bisa dinikmati. Untuk waktu-waktu ke depan, saya berkeinginan bila tenaga ini sudah tidak diperlukan lagi di perusahaan tempat saat ini  bekerja, saya  telah merintis sesuatu yang bisa dipersiapkan sebagai kegiatan utama setelah pensiun (tidak bekerja lagi). Waktu tidak harus dibiarkan berlalu dengan percuma. Harus ada sesuatu kebaikan yang dihasilkan dan disebar dalam setiap waktu yang saya lalui. 

Setelah pensiun (tidak menjadi pegawai kantoran lagi) saya berkeyakinan akan menjadi seorang penulis yang produktif, karena waktu lebih memungkinkan. Saya ingin lebih banyak bersedekah dengan ilmu dan kebaikan yang telah Tuhan beri. Bukankah orang terbaik adalah orang yang paling bermanfaat untuk orang lain? Kata-kata ini yang sangat mempengaruhi keinginan saya untuk menjadi seorang penulis. Ada banyak hal yang bisa diberi, ada banyak kebaikan yang bisa dibagi. 

Semoga seiring berjalannya waktu, saya mampu mewujudkan impian ini, sanggup merealisasikan hal yang sebelumnya terkubur hampir dua puluh tahun. Saya berterima kasih pada seorang penulis yang melahirkan berjuta kebaikan pada apa yang telah ia tulis dan ia tularkan pada banyak orang. Saya merasa Tuhan telah memberi waktu yang tepat dan indah pada kehidupan ini. Saya diberi kemudahan, kesabaran, kekuatan dan jalan yang berliku untuk akhirnya sampai pada keputusan akhir ini. Saya menjadi seorang “Penulis”. Semoga niat dan cita-cita yang dirintis ini menjadi sesuatu yang diberkahi dan nantinya menjadi sesuatu yang bisa saya gunakan untuk jalan berbuat kebaikan pada kehidupan dan penghidupan. Amin Ya Rabbal Alamin.
  
Baca juga di sini , mengapa DP untuk rumah dam mobil dibatasi hingga 30%, dan mengapa krismon 98 menyisakan trauma panjang bagi Bangsa ini.

Selasa, 28 Oktober 2014

PERCEPATAN PEMBANGUNAN KUALITAS KESEHATAN BERBASIS PERDESAAN DI DAERAH TERTINGGAL UNTUK INDONESIA HEBAT




Beberapa hari yang lalu, tidak sengaja saya lihat acara semacam breaking news yang menampilkan potret daerah tertinggal di salah satu televise berita swasta. Waktu itu menampilkan satu daerah di kabupaten Gayo Lues, di Propinsi Nangroe Aceh Darusalam. Ternyata potret daerah tertinggal itu bagai bumi dengan langit kondisinya di banding daerah lainnya di Indonesia. Fakta ketimpangan atau perbedaan itu terlalu jauh jaraknya. Saya bersyukur melihat tayangan itu walau berlangsung tidak terlalu lama. Dan tulisan ini berhasil saya buat atas ketidaksengajaan nonton acara yang dipersembahkan oleh Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal tersebut.

Hari-hari menjelang deadline tulisan, Indonesia dihadapkan pada detik-detik pengumuman calon menteri yang akan bertugas mendampingi Presiden terpilih, Bapak Joko Widodo. Saya sempat berpikir, apakah Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal akan dihapus atau hanya berganti nama? Dan alhamdulillah, pada 26 Oktober 2014 pukul 17.30 WIB telah diumumkan nama-nama menteri yang didaulat untuk menjadi pembantu-pembantu beliau. Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal tetap dipertahankan dalam komposisi “Kabinet Kerja”, hanya bertambah nama menjadi Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, dipimpin oleh Bapak Marwan Ja’far, politisi asal Partai Kebangkitan Bangsa yang juga kolega sang Menteri sebelumnya, Bapak Helmy  Faishal Zaini.

Sang Menteri Perintis Perdesaan Sehat

Menteri Penerus Perdesaan Sehat

Berbicara tentang daerah tertinggal, kita harus paham dulu apa itu daerah tertinggal, faktor apa yang menjadikannya tertinggal? Daerah tertinggal adalah daerah Kabupaten yang masyarakat serta wilayahnya relatif kurang berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala nasional. Suatu daerah dikategorikan sebagai daerah tertinggal, karena beberapa faktor penyebab, antara lain:
  1. Geografis. Umumnya secara geografis daerah tertinggal relatif sulit dijangkau karena letaknya yang jauh di pedalaman, perbukitan/ pegunungan, kepulauan, pesisir, dan pulau-pulau terpencil atau karena faktor geomorfologis lainnya sehingga sulit dijangkau oleh jaringan baik transportasi maupun media komunikasi.
  2. Sumberdaya Alam. Beberapa daerah tertinggal tidak memiliki potensi sumberdaya alam, daerah yang memiliki sumberdaya alam yang besar namun lingkungan sekitarnya merupakan daerah yang dilindungi atau tidak dapat dieksploitasi, dan daerah tertinggal akibat pemanfaatan sumberdaya alam yang berlebihan.
  3. Sumberdaya Manusia. Pada umumnya masyarakat di daerah tertinggal mempunyai tingkat pendidikan, pengetahuan, dan keterampilan yang relatif rendah serta kelembagaan adat yang belum berkembang.
  4. Prasarana dan Sarana. Keterbatasan prasarana dan sarana komunikasi, transportasi, air bersih, irigasi, kesehatan, pendidikan, dan pelayanan lainnya yang menyebabkan masyarakat di daerah tertinggal tersebut mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas ekonomi dan sosial.
  5. Daerah Terisolasi, Rawan Konflik dan Rawan Bencana.  Daerah tertinggal secara fisik lokasinya amat terisolasi, disamping itu seringnya suatu daerah mengalami konflik sosial bencana alam seperti gempa bumi, kekeringan dan banjir, dan dapat menyebabkan terganggunya kegiatan pembangunan sosial dan ekonomi.
Menurut data Kemeneg PDT, ada 183 daerah di Indonesia yang dikategorikan daerah tertinggal. Propinsi Papua menempati peringkat pertama dengan 27 daerahnya yang masih masuk daerah tertinggal, disusul oleh Nusa Tenggara Timur dengan 20 daerah.

sumber : id.slidesshare.net
Slogan Indonesia Hebat yang beberapa bulan ini akrab di telinga masyarakat Indonesia, menurut saya tidak hanya menjadi slogan yang tanpa arti. Ada kerja berat yang disandang rakyat dan bangsa ini untuk mensejajarkan kehebatan Indonesia dengan negara-negara lain. “Kabinet Kerja” yang dipimpin oleh Bapak Joko Widodo harus bekerja lebih keras untuk mampu mewujudkan itu. Ada harapan yang besar dari rakyat Indonesia untuk melihat perubahan yang signifikan dalam hidup dan kehidupannya, terutama oleh saudara-saudara kita yang mendiami wilayah yang tertinggal, terluar dan pasca konflik yang memiliki luas wilayah 56 % dari luas Indonesia dan jumlah penduduknya 20% dari total penduduk.

Indonesia tentunya ingin sejajar dengan Negara-negara maju di dunia seperti Norwegia (yang Indeks Pembangunan Manusianya mencapai skor (0,965), Islandia (0,960), Australia (0,957), Republik Irlandia (0,956) dan Swedia (0,951). Untuk kawasan Asia, Jepang menempati urutan pertama dengan IPM mencapai 0,949, selanjutnya Hong Kong (IPM 0,927) dan terakhir Negara tetangga yang belakangan ini sempat berseteru dengan Indonesia, Singapura (IPM 0,916). Indonesia sendiri IPM nya mencapai 0,629 (bedanya masih jauuuhh). Dari data badan pusat statistic, prediksi Angka Harapan Hidup di tahun 2015, Australia mencapai 82,1 tahun, Singapura 81,3 tahun dan Indonesia sendiri mencapai 70 tahun.

Angka Harapan Hidup itu adalah perkiraan jumlah tahun hidup dari individu yang berdiam di suatu wilayah dari sekelompok makhluk hidup tertentu.
Indeks Pembangunan Manusia atau Human Development Index (HDI) adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup,melek huruf, pendidikan dan standart hidup untuk semua negara di seluruh dunia.

Indonesia sendiri mempunyai potensi untuk menjadi Hebat dalam arti sebenarnya. Di tahun 2025-2030 Indonesia dilaporkan usia produktifnya akan menjadi yang terbesar se-Asia Tenggara, asal dikelola dengan benar. Dikelola bagaimana untuk menjadi terbaik, haruslah mengenyam pendidikan, memiliki ilmu pengetahuan, menguasai ketrampilan dan kompetensi yang memadai, dan ini akan menjadi demografi bonus. Kalau dibiarkan saja potensi ini akan menjadi demografi disaster bagi Indonesia, karena Indonesia hanya akan menjadi pasar bagi produk negara-negara lain.

Kemajuan Negara di lihat dari Kemajuan Desa

Melihat geliat kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Yogjakarta, Bandung dan Medan yang sudah sangat maju dibanding daerah lain, dengan masyarakatnya yang melesat bak anak panah, meninggalkan kondisi saudara-saudaranya yang diibaratkan busur panah itu sendiri. Kemajuan beberapa daerah ini bukan merupakan indikasi dari kemajuan Indonesia secara keseluruhan. Secara fakta ada ketimpangan yang sangat besar antara kondisi kota-kota tersebut dengan wilayah yang masuk kategori tertinggal, terluar dan pasca konflik.

Dari 183 daerah atau kabupaten yang masuk daerah tertinggal, ada 158 daerah yang masuk prioritas untuk mendapatkan perubahan secara cepat dilihat dari IPM yang berada di bawah rata-rata nasional dan jauh dari pencapaian 2014 yaitu IPM dibawah 72,2 dan AHH dibawah 68,8 tahun. Dari 158 daerah tertinggal itu terdiri dari 2491 wilayah desa/wilayah puskesmas, 24.095 desa dan 10.759.005 rumah tangga.

Upaya untuk mempercepat pembangunan di daerah tertinggal, deputi Sumber Daya di Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal melaksanakan kegiatan Perdesaan Sehat yang sudah dicanangkan di Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat bersama Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) pada 20 Desember 2012. Untuk mendukung kebijakan Perdesaan Sehat  ini dikeluarkan Peraturan Menteri PDT no 1 tahun 2013 tentang : Pedoman Pembangunan Perdesaan Sehat di Daerah Teringgal.

Program perdesaan Sehat ini sesuai dengan UUD 1945 yang mengamanatkan bahwa kesehatan adalah hak azasi manusia, dan sesuai pasal 34 ayat 3 yang menyatakan :

Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.

Dan ditegaskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005 – 2025, sebelumnya kita kenal dengan Garis Besar Haluan Negara (sewaktu jaman Orde Baru), untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas dan punya daya saing, maka kesehatan, pendidikan dan peningkatan daya beli menjadi faktor penting untuk meningkatkan kualitas SDM dan Indeks Pembangunan Manusia Indonesia. Ini sejalan dengan terwujudnya Indonesia hebat di masa-masa mendatang.

Alhamdulillah, pada “Kabinet Kerja” pimpinan Joko Widodo dan Jusuf Kalla, perhatian pada desa dan pembangunan di daerah tertinggal tetap menjadi salah satu prioritas, sehingga diharapkan program Perdesaan Sehat ini tetap berkelanjutan, walau pemerintahan berganti pimpinan. Sekalipun baru berjalan dua tahun, program ini akan membawa perubahan signifikan pada percepatan pembangunan kesehatan di daerah tertinggal.

Lima Pilar Perdesaan Sehat

Masalah-masalah yang dihadapi oleh daerah tertinggal di bidang kesehatan adalah :
  • Masih tingginya angka kematian Ibu (AKI)
  • Masih tingginya Angka Kematian Bayi
  • Kurangnya fasilitas kesehatan yang memadai
  • Rendahnya kualitas Sumber daya kesehatan
  • Kurangnya tenaga dokter Puskesmas
  • Kurangnya tenaga bidan desa
  • Rendahnya akses air minum dan sanitasi bagi rumah tangga
  • Terjadinya Gizi buruk pada ibu hamil dan menyusui
                                    
Masalah-masalah kesehatan di atas dikerucutkan menjadi lima fokus yang harus ditindaklanjuti dalam program Perdesaan Sehat, yang dilaksanakan di daerah tertinggal.
 
  1. Tercukupinya jumlah Dokter Puskesmas bagi setiap puskesmas;
Saat ini konsentrasi dokter ada di 9 propinsi, sementara 24 lainnya masih di bawah standart. Idealnya kebutuhan dokter itu 40/100 ribu penduduk, tapi fakta yang terjadi, angka itu masih jauh dari sasaran pencapaian.

  1. Tercukupinya  Bidan Desa bagi setiap desa;
Jumlah bidan di daerah tertinggal saat ini 30.340 orang, sedang di daerah non tertinggal 89.453 orang. Jumlah bidan desa dibandingkan dengan jumlah desa di daerah tertinggal sebesar 0,263. Perbandingan bidan per 1.000 penduduk untuk daerah tertinggal (0,824) lebih besar jika dibandingkan dengan non daerah tertinggal (0,659). Setiap bidan di daerah tertinggal melayani lebih banyak penduduk dengan cakupan wilayah kerja yang luas. (Sumber  PODES 2011)

  1. Tersedianya  Air Bersih bagi setiap rumah tangga.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pekerjaan Umum 2012, sampai akhir tahun lalu baru 58,05 persen masyarakat mendapatkan akses air minum layak. target Millenium Development Goals (MDGs) 2015,  68,87 persen penduduk harus mendapatkan akses air minum layak. Data capaian ini masih jauh dari target, dan harus mendapat perhatian dari semua pihak.

  1. Tersedianya Sanitasi bagi setiap rumah tangga,
Menurut data Riset Kesehatan Desa tahun 2013, hanya 59,8% rumah tangga di Indonesia yang punya akses tempat buang air yang layak. Nusa Tenggara Timur, Gorontalo,  Sulawesi Barat dan Papua adalah propinsi dengan akses jamban terburuk di Indonesia. Kesadaran untuk tidak Buang Air Besar Sembarangan (BABS) masih rendah. Tidak sedikit orang yang masih melakukan kegiatan itu di sungai, kebun, pantai atau tempat yang sebenarnya tidak patut. Akibat BABS adalah terjadinya penyakit diare yang banyak menimbulkan kematian di daerah tertinggal.
Angka ini masih jauh dari target Millenium Development Goals (MDGs) 2015,  62,41 persen yang memiliki akses sanitasi.

  1. Serta Gizi seimbang bagi ibu hamil, menyusui dan Balita.
Perbaikan gizi yang dimulai sejak masa kehamilan bagi ibu merupakan langkah preventif yang harus dilakukan sejak dini. Upaya ini untuk mencegah tingginya angka kamatian ibu dan angka kematian bayi yang belum sesuai target RPJMN dan MDGs. Dalam angka digambarkan untuk kematian bayi capaian di tahun 2012 adalah 32/1000 kelahiran (target RPJMN 24/1000 kelahiran dan MDGs 23/1000 kelahiran. Sedang angka kematian ibu di tahun 2007 adalah 228/100.000 kelahiran (target RPJMN 118/100.000 dan MDGs 102/100.000 kelahiran).

Masih tingginya Angka Kematian Ibu dan Bayi (AKI dan AKB) terutama karena :
Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih sudah mencapai 88,64 persen namun kualitas pelayanan dan kompetensi tenaga kesehatan belum sepenuhnya sesuai standar pelayanan. SDKI 2012 melaporkan cakupan imunisasi dasar lengkap meliputi HBV, BCG, DPT, Polio, dan Campak baru mencapai 66 persen, meskipun khusus imunisasi campak sudah mencapai 80,1 persen.

Ibu hamil yang kurang gizi, akan melahirkan bayi dengan berat badan rendah, dan berimbas pada penurunan intelegensia, penurunan pertumbuhan dan penurunan imunitas pada bayi tersebut. Dari jumlah ibu hamil, yang minum susu baru mencapai 20%. Dari angka ini terlihat masih banyaknya ibu hamil yang kurang peduli pada pemenuhan gizi selama masa kehamilannya. Hal ini bisa disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan wawasan atau juga karena kondisi keuangan yang minim.

Sebagai blogger yang peduli pada permasalahan di atas, saya pribadi mendukung berbagai kebijakan yang telah diambil Pemerintahan sebelumnya dan berharap program yang baik ini tetap dilanjutkan oleh Pemerintahan sekarang di bawah komando Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Usulan atau masukan yang bisa saya beri adalah :
  1. Program Perdesaan Sehat atau yang menyangkut berita pembangunan di daerah tertinggal, terluar dan pasca konflik harus terus di sosialisasikan ke seluruh lapisan masyarakat lewat iklan-iklan pendek di stasiun televisi. Kerjasama secara aktif dengan pelaku industri media ini tentunya melibatkan pemerintah daerah tertinggal yang akan dipublikasikan. Bila memungkinkan, Presiden bisa melakukan blusukan di daerah-daerah tertinggal itu untuk menarik perhatian semua masyarakat agar mau juga memberi sumbangsih atau langkah kecil apapun untuk pemerataan pembangunan.
  2. Relawan untuk daerah tertinggal hendaknya diusulkan untuk menjadi program perekrutan Sarjana Penggerak Pembangunan Kesehatan Daerah Tertinggal. Tentunya harus disinergikan dengan program-program Kementerian lainnya hingga tidak tumpang tindih.
  3. Perlu dilakukannya kerjasama secara aktif dengan pihak swasta dalam hal ini perusahaan-perusahaan besar untuk menyalurkan dana CSR-nya untuk kepentingan daerah-daerah tertinggal, terluar dan pasca konflik. Dana CSR tersebut bisa dialokasikan misalnya untuk pembangunan fasilitas air bersih, jamban (MCK), pemberian makanan tambahan untuk bayi, pemberian susu untuk ibu hamil, pemberian bantuan mobil operasional untuk puskesmas keliling dan lain sebagainya. Masyarakat luas akan tergerak bila pihak terkait berkomitmen untuk menjadikan program ini sebagai program bersama.
  4. Untuk memenuhi jumlah bidan di desa tertinggal, perlu diperluas dan diperbanyak kerjasama aktif dengan akademi kebidanan di regional yang bersangkutan. Upaya ini harus didukung pula oleh Pemerintahan Daerah setempat dan Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan setempat. Program Bidan Masuk Desa harus didengungkan sejak awal untuk menarik minat mahasiswa mau berkontribusi di desa tertinggal.
  5. Profil dokter yang mengabdi di daerah tertinggal bisa dipublikasikan di website Perdesaan Sehat, untuk memberi inspirasi bagi dokter-dokter lainnya yang masih ragu untuk mengabdi bagi kepentingan masyarakat umum di daerah tertinggal, terluar dan pasca konflik.
  6. Partisipasi aktif dari masyarakat daerah tertinggal perlu ditingkatkan dengan pemberian contoh secara langsung dari Kepala Desa dan perangkat desa yang ada. Sosialisasi untuk ikut menjaga fasilitas atau infrastruktur yang telah dibangun, memelihara dan memberdayakannya sesuai fungsinya.
  7. Dengan disahkannya UU no 6 tahun 2014 tentang Desa, pemerintahan desa beserta perangkat dan masyarakatnya dapat berkontribusi secara aktif menyusun daftar pembangunan fasilitas umum yang diperlukan desa, tentunya yang berkaitan dengan peningkatan ekonomi, kesehatan, sosial dan budaya masyarakat setempat.
  8. Para blogger juga bisa diajak kerjasama untuk turut mensosialisasikan program Perdesaan Sehat, selain dengan lomba penulisan blog, pihak Kemeterian terkait dapat bekerjasama dengan komunitas-komunitas blogger yang ada untuk mengadakan kegiatan semacam sarasehan tentang  percepatan pembangunan di daerah tertinggal, tantangan dan solusi yang ditawarkan, di mana hasilnya diberitakan secara aktif lewat blog masing-masing. Ini upaya kecil, tapi akan sangat berarti, karena dengan sekali posting akan banyak pembaca blog yang membaca berita tersebut. Ini akan membuka mata masyarakat untuk semakin peduli pada nasib saudara-saudaranya di daerah tertinggal.
Kedelapan usulan di atas, semoga bisa menjadi masukan untuk mempercepat pembangunan kualitas kesehatan berbasis perdesaan sehat di daerah tertinggal. Peran aktif masyarakat di luar pemangku kebijakan akan sangat berarti bagi pemerataan pembangunan ini. Diharapkan Indeks Pembangunan Manusia Indonesia dan Angka Harapan Hidup mencapai nilai sesuai dengan target yang ditetapkan. Setidaknya langkah kecil ini sebagai sumbangsih dari anak bangsa untuk kemajuan bersama.

Tulisan ini disertakan dalam Kompetisi Penulisan Blog dengan tema “Percepatan Pembangunan Kualitas Kesehatan Berbasis Perdesaan di Daerah Tertinggal,” yang diselenggarakan oleh Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal.

Referensi :