Selasa, 10 Desember 2013

KIDUNG SURATAN TAKDIR YANG TAK HARUS DISALAHKAN




Menulis  kisah ini, seolah membawa hati saya kembali pada kisah kelam dua tahun yang lalu. Saya perlu menguatkan tekad dan keyakinan, apa yang saya tulis adalah untuk berbagi kebaikan untuk orang lain, sekecil apapun itu.


Seumur hidup saya, dan menurut cerita Ibu, keluarga kami sangat minim bersinggungan dengan dunia pelayanan kesehatan. Dari kecil, remaja hingga dewasa, saya dan adik-adik tidak pernah merasakan dirawat di rumah sakit. Kalaupun sakit panas, pilek atau batuk cukup diobati dengan obat yang dijual di pasaran, Alhamdulillah sembuh. Bila sakitnya tak kunjung membaik cara itu, paling-paling kami berobat ke dokter praktek yang ada di kampung sebelah atau ke puskesmas. Saya, Ibu dan Adik-adik benar-benar menjaga diri agar jangan sampai sakit yang mengharuskan dirujuk ke rumah sakit. Ini karena kesadaran diri, tidak ada biaya untuk berobat.

Selepas lebaran di tahun 2011 adalah awal dari kisah ini. Adik kandung saya menderita batuk,  semalaman dia tidak bisa tidur. Kami sekeluarga pun terganggu dengan hadirnya penyakit “langganan” yang sebelumnya tidak berlarut-larut. Kali ini kelihatannya perlu penanganan lebih serius. Aneka obat batuk yang dijual di pasaran seakan menjadi koleksi, tapi batuk itu tak kunjung sembuh. Berobat ke dokter praktek juga sudah tidak terhitung. Dalam hati kecil saya sempat was-was, jangan-jangan Adik harus dirawat di rumah sakit. Tapi biayanya dari mana, kalau harus dirawat inap? Pasti perlu duit yang tidak sedikit, sedangkan saya tidak punya simpanan atau tabungan apapun, apalagi asuransi kesehatan.

Kondisi kesehatan Adik dari hari ke hari bertambah lemah, sebagai kakak saya merasa tak berarti. Saya tak bisa berbuat banyak, hanya bisa menangis dan mengadu pada Sang Khalik agar diberi jalan keluar. Tak berselang lama, tunangan adik mendesak saya dan ibu untuk mengurus surat Jamkesmas, dengan fasilitas itu adik bisa dirawat dengan gratis. Subhanallah, apakah ini jawaban dari Allah SWT untuk permasalahan kami?
Tak menunda lama, esok paginya ibu segera menghadap ke ketua RT dan RW untuk mengajukan surat tersebut. Karena kuota Jamkesmas sudah tidak mencukupi, ibu diberi surat keterangan tidak mampu (SKTM) yang berfungsi sama dengan Jamkesmas. SKTM itu harus mendapat persetujuan dari pihak kelurahan. Dengan tidak menemui kendala yang berarti, SKTM itu selesai dalam dua hari kerja.

Hari ketiga, tunangan adik dan ibu membawa adik saya ke sebuah rumah sakit terbesar di Indonesia bagian timur dengan sebelumnya mendapat surat rujukan dari puskesmas. Tiba di RS itu sore hari sebab sebelumnya adik saya dirawat di rs lain, kami harus menjalani prosedur yang umum berlaku. Semua dokumen harus difotokopi beberapa rangkap dan diserahkan ke petugas penerima awal pasien di pintu utama. Sementara adik saya segera mendapatkan penanganan awal, dia menjalani serangkaian test dari foto rontgen hingga tes air seni/kencing. Saya merasa was-was, karena bukan rumor lagi kalau pelayanan kesehatan untuk masyarakat miskin yang menggunakan fasilitas Jamkesmas atau SKTM selalu dinomor duakan, sering menimbulkan kejengkelan keluarga pasien karena pelayanan yang terlalu lama, hingga berakibat fatal bagi pasien. Saya buang jauh-jauh pikiran negatif seperti itu, tak henti-hentinya saya berdoa agar diberi kemudahan dan kelancaran. Detik demi detik berlalu, menit demi menit melaju hingga jam demi jam terlewati. Menjelang pukul sepuluh malam baru ada hasil dari serangkaian test yang dilalui adik saya. Posisi kami tetap di gedung utama IRD.

Hasil test merekomendasikan adik saya harus menjalani rawat inap, karena infeksi paru-paru. Saya tahan tangis di depan adik, saya harus tegar, tidak boleh membuat dia lebih down. Kondisi ini yang saya sedihkan dan saya takuti selama ini. Kami menunggu lagi, karena kamar perawatan tidak tersedia. Semua full. Hampir dua jam kami dalam kondisi ketidakpastian. Mau pulang kembali ke rumah juga nggak mungkin, karena kondisi adik perlu perawatan medis. Menjelang pukul dua belas malam diputuskan untuk tetap merawat adik di ruang rawat inap paru-paru, meski di luar ruangan.

Dengan hati hancur dan tangis yang tertahan saya ikuti kereta dorong yang membawa adik ke ruang perawatan. Kondisi perawatan itu di lorong, bagian luar ruangan, berbatasan dengan kamar mandi. Antara tega dan nggak tega saya melihatnya. Saya harus sadar, sesadar-sadarnya, saya bukan orang berduit, kalaupun kondisi demikian yang kami terima, saya harus tetap bersabar. Saya tetap harus mengucap syukur dengan kondisi yang ada, yang penting adik saya mendapat perawatan di bawah pengawasan team medis. Keluar dari lorong tersebut, saya menangis sejadi-jadinya. Saya tinggal ibu dan adik di dalam, karena yang bertugas menjaga pasien hanya dibolehkan untuk satu orang. Air mata saya tumpah dengan derasnya, hingga saya ditenangkan oleh seorang Ibu-ibu. Dia menasehati saya untuk tetap bersabar menghadapi kondisi apapun. Tangis dan keluhan itu harus diganti dengan ucapan syukur, bahwa Allah masih memberi pertolongan-Nya.

Hari kedua adik saya dirawat, sudah diijinkan masuk ke ruang kelas 3 perawatan. Alat bantu pernapasan masih terpasang di hidung dan mulut adik. Batuk tanpa henti kadang masih terdengar. Ia tidak bisa berkomunikasi dengan leluasa. Asupan makanan tetap bisa masuk tanpa halangan, meski nggak banyak. Team dokter yang melakukan kunjungan pagi terlihat ramah, mereka terlihat memeriksa kondisi adik dengan seksama. Aneka resep obat diberikan secara bertahap. Semua ditebus dengan gratis.

Ibu yang bertugas menjaga adik secara permanen, saya bisa datang menjenguk di waktu sore hingga malam. Saya bisa berkomunikasi lewat SMS, di situ saya beri motivasi agar adik tetap positif thingking pada Allah, salalu istighfar sebanyak-banyaknya. Pasti Dia punya maksud dengan kondisi yang kita terima. Harus menerima sakit dengan ikhlas, sabar dan bersyukur karena Allah tetap memberi pertolongan-Nya. Saya sarankan agar adik selalu menuruti nasehat dokter, makan yang banyak dan minm obat secara teratur agar cepat sembuh.

Saya sering interogasi Ibu mengenai pelayanan yang didapat di rumah sakit itu. Ibu menjawab semua tenaga medis bertugas dengan baik, mereka ramah dan sopan. Kalau ibu memerlukan sesuatu, perawat cepat datang dan membantu Ibu. Saya tiada henti-hentinya bersyukur mendengar penuturan Ibu. “Perawat dan dokter di sini baik-baik, Ibu jadi nggak terlalu kuatir, kalau ada apa-apa dengan adikmu, mereka cepat datang menangani. Kalau tabung oksigen adikmu habis di tengah malam, perawat-perawat tidak keberatan mengganti.”

Beberapa hari menunggui adik di rumah sakit, saya mulai kenal dengan beberapa perawat dan dokter muda yang bertugas jaga malam. Saya banyak berkonsultasi dan menanyakan perkembangan adik pada mereka. Tentunya kalau siang hari menjadi tugas Ibu untuk konsultasi pada dokter.

Secara umum, pelayanan kesehatan yang diterima adik saya sudah baik, hanya sekali saya dibuat kesal, itupun pada petugas jaga malam di apotek. Hampir tengah malam, dokter jaga memberi resep untuk mengganti respirator adik. Saya bergegas ke apotek, tetapi sambutan petugasnya sangat tidak ramah, apalagi melihat saya membawa surat keterangan tidak mampu. Saya tahan emosi, berusaha menenangkan diri untuk menerima kondisi ini, karena memang saya bukan pasien umum yang membayar. Saya jelaskan dengan suara rendah ke petugas itu kalau memang saya belum mengerti dengan prosedur penebusan obat untuk pasien  dengan fasilitas SKTM, jadi dia nggak perlu bersikap sinis seperti itu.

****
Hari kesepuluh, saya niatkan untuk menginap di rumah sakit mendampingi Ibu. Hari itu tanggal 4 Oktober 2011. Sehari menjelang ulang tahun adik yang jatuh di tanggal 5 Oktober. Malam itu, sebelum menuju ruang perawatan adik, saya sempat konsultasi dengan dokter jaga dan perawat yang bertugas. Saya banyak bertanya mengenai perkembangan kesehatan adik. Dokter jaga menjelaskan untuk beberapa hari ke depan, adik masih harus bernapas dengan menggunakan alat bantu pernapasan. Saya harus ikhlas, karena menurut perawat yang bertugas, infeksi paru-paru adik sudah parah. “Ya Allah, maafkan saya  yang belum bisa melindungi adik dengan maksimal, saya tidak mampu membawa dia ke rumah sakit jauh-jauh hari sebelumnya. Saat sakitnya belum terlalu parah.”  Keluh saya dalam hati.

Malam itu adik mengalami kondisi kritis, nafasnya tersengal-sengal. Saya dan Ibu beserta dokter jaga dan perawat mendampingi di sisinya. Dokter segera melakukan tugasnya dibantu oleh perawat yang kukenal baik itu.
“Mbak, mbak tahu kan apa yang harus dilakukan? Saya dan Dokter bertugas  di sisi medis, Mbak segera baca sesuatu untuk adiknya.”Perintah perawat itu segera kusambut dengan langkah nyata. Aku baca surat Yaa-sin di telinga kanan adik, dengan berurai air mata. Ibu berada di sebelah kiri, melakukan hal yang sama. Sementara dokter dan perawat itu berusaha melakukan pertolongan medis sesuai prosedur. 

Detik demi detik berlalu dengan amat lambat menurutku. Melewati subuh, adik telah berhasil lolos dari masa kritis. Tak tehitung berapa kali surat Yaa-sin saya baca di telinga kanannya dan berusaha menuntunnya mengucap kalimat toyibah. Dengan tangis tertahan Ibu berusaha berkomunikasi dengan adik, tapi rupanya takdir berkata lain. Pukul sembilan lewat dua puluh menit, di tanggal 5 Oktober, adik berpulang ke haribaan-Nya dengan tenang. Tepat di hari dan jam ia dilahirkan, tiga puluh satu tahun yang lalu. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Selamat jalan Sulastri Hari Abriani.

Sembari menunggu proses administrasi pemulangan jenasah, ingatan saya seolah berputar kembali ke waktu sepuluh hari terakhir. Saat adik berangkat ke rumah sakit, menunggu ditempatkan di ruang perawatan, diperiksa dokter, minum obat dan memakai alat bantu pernapasan. Saya hanya bisa berucap terima kasih Ya Allah, atas segala yang terjadi. Engkau telah memberi yang terbaik pada kami. Terima kasih juga saya sampaikan kepada perawat dan dokter yang bertugas selama ini. Pengabdian beliau-beliau sungguh besar di mata saya dan keluarga. Menghadapi kenyataan akhir yang terjadi, saya pribadi tidak perlu menyalahkan siapa-siapa. Ini semua sudah suratan takdir yang telah digariskan oleh-Nya.



Tulisan ini disertakan dalam lomba blog "Wajah Sistem dan Regulasi Kesehatan Indonesia" yang diselenggarakan oleh www.blogfpkr.wordpress.com
 

1 komentar:

  1. Sampai sekarang setelah adanya BPJS terkadang saya mendengar selentingan beberapa orang yang juga mendapat perlakuan kurang baik dari petugas kesehatan lho mbak. Entah siapa yang harus disalahkan.

    BalasHapus