Jumat, 20 September 2013

SHALAT DAN DOA PERTAMA PUTRIKU



Kisah ini menjadi salah satu naskah favorit pada "Lomba kisah Islami" Quntum Media


Rahmani Larasati, nama putri tunggalku. Buah cinta suci antara aku dan Tri Wahono, almarhum suami yang telah meninggalkan kami karena terserang virus yang hingga kini belum ada obatnya. Virus itu dinamakan midline granuloma. Delapan bulan sebelum Mas Tri berpulang, bertepatan dengan ulang tahun Laras yang ke-3, keluarga besarku mengadakan syukuran kecil-kecilan. Tumpeng mungil berisi nasi kuning, sambal goreng tempe, bandeng presto dan daging goreng kubawa ke ruang perawatan Mas Tri. Lelaki yang telah menjadi pendampingku dan berhasil memenangkan persaingan diantara teman-temanku itu tergolek lemah, tanpa daya. Selang infus beraneka warna bergelantungan di atas pembaringannya. Hari itu, dia tersenyum dengan rona muka bahagia, semangatnya berapi-api. Putri kecilku meniup lilin berwarna merah dengan angka tiga diatas kue tart yang dibelikan Mas Denny, kakak sulungku. Kami mengiringinya dengan menyanyikan lagu panjang umur dan happy birthday yang umum dinyanyikan dalam perayaan ulang tahun. Bidadari kecilku berhasil meniup lilin
dan mendapat ucapan selamat dari Kakek dan Neneknya, Om dan Tantenya, serta dari kami berdua, orang tuanya. Dengan menahan sakit, Mas Tri berusaha duduk dan ingin memangku Laras, tapi fisiknya tidak kuasa untuk melakukan itu. Dia terbaring kembali dengan erangan kecil. Tampak kekecewaan di ujung wajahnya yang semakin kurus dan pucat. Sore itu, menjadi pesta ulang tahun terakhir bagi putri kecilku, dengan ditemani oleh ayah tercintanya. Karena tepat pertengahan bulan Juni, Mas Tri berpulang keharibaan-Nya dengan meninggalkan kenangan yang teramat sulit untuk kulupakan.

Teringat pesan terakhir yang sempat terucap dengan berat dibibirnya, dua hari sebelum Allah memanggilnya, “Dik, jaga Laras, kehadirannya adalah bukti cintaku, senyumnya adalah gambaran senyumku, jadikan dia anak yang berbakti, sekalipun aku tidak disampingnya.” Air mataku membanjir didadanya, kudekap Mas Tri dan kurasakan nafasnya yang berat, badannya hangat, tapi tatapannya sangat dingin kurasakan. Ada cairan bening di bola matanya, tapi dengan sekuat tenaga ditahannya untuk tidak jatuh. Dia tidak ingin membuatku bertambah sedih

***

Sore itu, aku pulang kantor agak terlambat dari biasanya. Kerjaanku menumpuk sejak seminggu kutinggal cuti. Acara tujuh hari Mas Tri digelar tadi malam di rumahku dan di Dolopo, Madiun, rumah mertuaku. Belum sempat kulepas seragamku, kudengar tangisan bocah kecil dari ruang depan. Tangisan itu sangat kukenal, ya bidadari kecilku merengek dengan suara tertahan. Kulihat Laras digendong Ida, pengasuhnya yang telah bekerja selama dua tahun di rumahku. Dengan segera kuambil alih Laras dari tangannya. “Anak ibu kok nangis, kenapa? Anak cantik nggak boleh nangis, kan habis ngaji. Nanti  ustadzah Annisa nggak mau ngajar lho.” Bujukku dengan tangan mengusap pipinya yang lembut. “Kenapa Da, Laras minta apa, kok nggak berhenti nangisnya?”

“Tadi ustadzah Annisa ngajak anak-anak ke makam di ujung kampung, Bu. Di makam, anak-anak diajari cara berdoa untuk orangtua yang sudah meninggal. Hampir setengah jam acaranya. Laras ikut juga berdoa di depan makam.”

“Laras, mau doa untuk Bapak, Bu. Bapak Laras kan di surga, Kalau Laras berdoa, Bapak pasti senang.” Jawaban polos putri kecilku sungguh diluar yang kukira.

Sore itu, menjelang maghrib, bidadari kecilku yang belum genap empat tahun memintaku menyiapkan mukena kecil yang telah kubeli lebaran tahun kemarin. Bibir mungilnya memohon untuk diajari cara berwudhu dan ikut shalat berjamaah bersama kedua orang tua dan kakakku di ruang tengah. “Bu, Laras mau belajar shalat untuk doakan Bapak. Ustadzah Hindun bilang kalau kita shalat, Bapak senang, Allah juga senang.”

 Dengan telaten Ida memberi contoh langkah-langkah berwudhu. Teriakan gadis kecil berambut ikal itu mengagetkanku yang berdiri mengamatinya. “Aku sudah bisa, Mbak Ida, Ustadzah Hindun sudah ajari kemarin.

“Ayo cepat, nggak boleh main air, nanti Yang Kung marah, shalatnya nanti terlambat.” Suara baritone Mas Denny mengagetkan gadis kecilku. Segera dia berlari dengan lincah, memakai mukena dan menggelar sajadah merah, warna kesukaanya. Mukena itu tampak kebesaran dibanding ukuran tubuhnya. Gadis kecil itu terlihat mengamati gerakan shalat yang kami lakukan. Mulai takbiratul ihram, ruku hingga sujud, dilakukannya dengan muka celingukan ke kanan dan ke kiri. Dia tampak bingung pada rakaat pertama, tetapi rakaat kedua hingga terakhir bisa diikutinya dengan lancar.

 Tiga rakaat telah sama-sama kami tunaikan. Laras duduk disampingku dengan mukena berwarna putih bergaris biru di pinggirnya. Dia tersenyum kecil. “Bu, sholat isya nanti, Laras mau shalat lagi. Sekarang Laras mau berdoa untuk Bapak, seperti yang ustadzah Annisa ajari tadi,” pintanya dengan wajah disorongkan mendekat ke telingaku. Aku mengangguk pelan, dan segera mengangkat tangan sejajar dada, dan berkata-kata dengan pelan, “Rabbigh firli wa liwalidayya, rabbirhamhuma kamaa rabbayani shaghira.” Aku mengeja dengan pelan dan pasti bacaan arabnya dan kuartikan dengan kata-kata yang mudah dipahami oleh gadis seusia Laras. “Ya Allah, ampunilah aku, ibu-bapakku, wahai Tuhanku, kasihilah mereka, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil. Ya Allah, Laras mohon ampuni dosa-dosa Bapak. Tempatkan Bapak di surga Ya Allah.” Bibir mungil putriku mengucap doa untuk suamiku dengan tulus. Matanya terpejam, tangannya memohon kasih Tuhannya. Kami berlima yang belum beranjak, saling berpandang dan tak menyadari cairan bening yang merembes di ujung bola mata kami. Hari ini, bidadari kecilku belajar shalat. Dia ingin mendoakan bapaknya.

 “Bu, Laras sudah berdoa untuk Bapak. Bapak pasti senang. Ustadzah Hindun bilang begitu, benar kan Yang Ti? Yang Kung? Ayah?” Muka gadis itu terlihat lucu, berusaha mencari jawaban ke orangtua dan kakak sulungku yang dipanggilnya “Ayah”.

“Ya, Laras harus rajin shalat lima waktu, subuh, dzuhur, ashar, maghrib dan isya. Jadi Laras bisa terus doa untuk Bapak. Laras minta ke Allah, supaya pintar, jadi anak yang shalihah, dan berbakti pada orang tua.”

“Tapi Bu, Laras shalatnya cuma maghrib dan isya, bareng sama Ibu, Yang Ti, Yang Kung, Ayah dan Mbak Ida.” Bocah empat tahun itu menawar waktu shalat yang kusebutkan, karena kami bisa berjamaah di maghrib dan isya. Dia biasa melihat kami melakukannya.

Subuh itu aku shalat sendiri di kamarku. Kedua orangtuaku sudah berjamaah sejak lima belas menit yang lalu. Kupandangi  putri kecilku yang masih tertidur. Ada senyum di ujung bibirnya yang mungil. Wajah Laras sangat mirip dengan Mas Tri. Bulat wajah dan alis tebalnya, tidak jauh berbeda dengan  laki-laki pujaanku itu. Hanya rambut ikal yang serupa denganku. Kucium pipi tembemnya dengan airmata yang jatuh di permukaannya. Gadis kecilku menggeliat, dia merasakan kehadiranku di samping tempat tidurnya. “Ibu, Laras ketemu Bapak. Bapak berdiri di situ,” telunjuknya mengarah ke depan lemari pink bermotif  barbie  kesukaannya. “Bapak lihat Laras, tapi Bapak pergi.” Tangis gadis itu pecah, dengan sesenggukan dia merangkulku. Aku menahan nafas, tak bisa berkata-kata. Antara percaya dan tidak, ucapan Laras membuatku menangis. Ada kerinduan yang membuncah. Pagi itu, kami menangis, bukan tangis kesedihan, tapi tangis bahagia.

Laras  sangat pintar dan kuat sekali mengingat pelajaran yang baru diajarkan. Tak heran dalam usia belum genap lima tahun, sudah hafal beberapa surat pendek dan gerakan shalat. Prestasinya lebih menonjol dari teman-teman seusianya. Sejak umur tiga tahun dia sudah mengenal huruf hijaiyah dengan cepat, bacaan tajwid dan makhraj berhasil dikuasai dalam waktu singkat. Ustadzah Hindun sangat sayang pada santriwati terkecilnya. Dengan sabar dan telaten Beliau membimbing Laras, gadis yatim yang lucu itu.

Dalam shalat yang dilakukannya, Laras semakin rajin mendoakan bapaknya. Dia tak pernah lupa membacakan Alfatihah dan istighfar untuk Mas Tri. Dengan bantuan orangtuaku, tekad bulat telah kutanam, untuk mewujudkan harapan suamiku, menjadikan Laras sebagai gadis kecil yang shalihah, pintar dan berbakti pada orang tuanya. Meskipun tanpa kehadiran bapak-ibunya yang lengkap, seperti anak-anak lainya. Aku berharap Laras tidak kehilangan kasih sayang dari figur seorang bapak, karena dengan ikhlas, Mas Denny menyayangi Laras seperti anak kandungnya sendiri. Allahu Akbar, Maha Besar Allah dengan segala kuasanya.        



                                  









Tidak ada komentar:

Posting Komentar