Sabtu, 28 September 2013

HIKMAH SHALAT DAN JAWABAN PERSOALAN HIDUP


           Shalat sunnah tahajud, insya Allah sudah kujalani sejak tahun 2002, tapi kuakui masih sering bolong. Dengan mengerjakannya, aku yakin Allah akan mengabulkan apa yang kita mohon, memberi apa yang kita minta dan mengampuni apabila kita memohon ampunan dosa. Berbagai kemudahan dalam hidup telah kualami, tapi ada satu hal yang membuatku menangis takjub, tak kuasa berfikir atas kebesaran dan kekuasaan-Nya.  
            Pertengahan Oktober 2008
, PT. Columbindo Perdana cabang Surabaya, salah satu perusahaan tunai dan kredit tempatku bekerja, mengalami proses penggabungan antara Cabang Surabaya I dan Surabaya II. Dengan kondisi ini, restrukturisasi karyawan dilakukan untuk menghemat kinerja cabang. Formasi nama-nama yang menduduki jabatan A atau B mulai disusun. Banyak posisi dan jabatan yang dihilangkan. Aku yang telah bekerja selama hampir empat belas tahun merasakan kekhawatiran juga. Dan dering handphone
di suatu sore mengejutkanku. Yani, sahabatku yang juga istri dari Bapak Leonard, FA Zona Manager memberitahuku bahwa namaku tidak masuk daftar formasi karyawan yang baru, dalam arti aku masuk kategori karyawan yang akan di PHK. Ya Allah, berita itu mengejutkan dan membuatku shock. Aku belum siap. Bayangan hidup tanpa pekerjaan, tanpa tabungan, tanpa suami dan masih adanya hutang yang menumpuk membuatku lemas. Aku menangis dengan hebatnya seusai shalat. Aku sadar, aku harus mengadu ke mana, seperti hal-hal yang sebelumnya terjadi. Dalam shalat tahajudku di malam itu, aku pasrahkan keputusan yang terbaik dari-Nya.
            Satu-dua hari menunggu dalam kebimbangan, kuputuskan untuk menjalani semuanya dengan ikhlas. Aku yakin akan pertolongan Allah. Hari Kamis, aku dipanggil Pak Leo ke ruangannya. Beliau memberitahuku kalau aku tetap dipertahankan menjadi karyawan. Subhanallah, Allahu Akbar. Air mataku menetes mendengar kabar itu. Pak Leo menambahkan, kalau aku juga di angkat sebagai Sekretaris Cabang, karena jabatanku sebelumnya, administrasi fakturisasi akan digabung dengan kasir cabang, lagi-lagi karena efisiensi.  Alhamdulillah, rasa syukur tiada henti kupanjatkan atas kebesaran-Nya. Aku berjanji akan melaksanakan amanah itu dengan sebaik-baiknya.
            Tiga bulan menjabat sebagai sekretaris cabang, suka-duka kualami. Meeting bulanan hingga pukul 04.00 WIB pagi, pulang kantor tiap harinya diatas pukul 20.00 WIB. Hari minggu tetap masuk kerja. Makian dan cacian dari Pimpinan cabang atau pusat kerap kuterima, karena kinerja cabang yang memburuk. Karyawan banyak melakukan penggelapan keuangan. Kondisi itu membuatku berserah diri secara total kepada-Nya, lewat shalat fardhu dan shalat sunnah tahajud. Aku adukan semua persoalan hidupku pada-Nya, pada pemilik semua jawaban persoalan yang rumit, dialah Allah SWT. Ada ketenangan luar biasa setelah mengadu, keyakinan datang, sikap positif muncul dengan hebatnya.
            Dalam hati kecil, posisi sebagai sekretaris juga membuatku galau. Dari hasil kinerja cabang tiap bulannya mengalami penurunan sangat drastis karena kondisi global. Sewaktu-waktu posisi itu bisa dihilangkan dari struktur cabang berdasarkan hasil kinerja cabang bersangkutan. Akhir maret 2009, ada telpon dari seseorang yang kukenal dengan baik sebelumnya. Bapak Eddy Umar, mantan pimpinan cabang yang telah empat tahun  mundur dan berhasil membuka usaha sendiri menghubungiku. Beliau menawariku bekerja di perusahaannya yang berkembang pesat sepulangnya dari Hongkong tiga bulan lagi. Aku tak kuasa berkata-kata. Aku merasa dihubungi seorang malaikat penolong, yang tiba-tiba hadir untuk menghapus duka dan tangisku. Aku berterima kasih atas kesempatan yang diberikan. Ya Allah, lagi-lagi kuasa-Mu bekerja atas hidupku.
            Awal bulan Juli 2009, surat dari HRD Manager pusat kuterima. Isinya mengabarkan bahwa akan terjadi reposisi di Cabang Surabaya, akan ada PHK lagi, pikirku. Begitu nama yang tertera kubaca, aku hanya berucap “Allahu Akbar.” Ternyata namaku masuk daftar sebagai karyawan yang harus di PHK. Pak Leonard dan semua jajaran Zona Manager menggelar meeting darurat. Intinya, mereka berusaha mempertahankanku mengingat kondisiku yang tidak memungkinkan, dan mengganti nama yang akan di PHK dengan karyawan lain. Esok harinya kutemui Pak Leonard dan Pak Jazuri sebagai Zona Manager, kupastikan kalau aku sudah mendapat kepastian kerja, pasca PHK. Kondisiku baik-baik saja. Aku mau tidak ada nama karyawan lain sebagai pengganti. Aku menghargai perhatian dan kekhawatiran mereka, dengan tak lupa kuucapkan terima kasih atas kerjasama mereka selama ini.
Tepat 15 Juli 2009, surat PHK-ku keluar. Satu berita yang sangat mengejutkanku bersamaan surat itu adalah adanya apresiasi yang diberikan perusahaan berupa uang pesangon. Alhamdulillah Ya Allah, sungguh nikmat-Mu tiada bisa kunalar, keagungan-Mu tiada sanggup kulukiskan. Engkau telah mengatur semuanya dengan sempurna. Segera kuhubungi Pak Eddy lewat telepon, kukabarkan kalau aku sudah resign dari perusahaan lama.
Tanggal 30 Juli aku menghadap Beliau di kantornya di jalan Raya Kenjeran no 547 Surabaya, sepulangnya dari Hongkong. Aku disuruh masuk kerja tepat tanggal 1 Agustus 2009, sebelumnya dijelaskan pula kompensasi gaji yang kuterima. Alhamdulillah, hanya kata itu yang bisa kuucap, ternyata gaji yang kuterima lebih besar, dengan jam kerja yang jelas, hari minggu libur. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan kondisi di kantor lama. Aku tinggalkan kantor Pak Eddy dengan hati penuh syukur, penuh kagum pada keputusan Allah.
Merenung pada kejadian ini membuatku lebih semangat untuk memperbaiki kualitas shalat fardhu dan shalat sunnah yang lain. Shalat dhuha mulai kukerjakan dengan rutin semampuku. Dengan tetap menjaga keistiqomahan untuk mengerjakan tahajud di sepertiga malam terakhir. Semoga Allah tetap memberi nikmat iman dan Islam dalam diri kita. Amin ya rabbal alamin.

                                      

2 komentar: