Minggu, 03 September 2017

Yang Dilakukan Nenek Ini, Menendang Perasaan "Malu" Kita


Nenek Sulikah


Malam itu, malam 10 Dzulhijah, seiring dilantunkannya gema takbir di seluruh penjuru. Ada bukti ketaatan dan kepatuhan dari makhluk Allah yang sudah uzur dari segi usia. Bagi yang melihatnya, ada yang memandangnya biasa saja, tapi banyak juga yang diam-diam dalam hatinya, takjub dan merasa malu, tersindir atau perasaan lain, yang terpendam dalam hati.

Lama saya pun mengamati kegiatan nenek Sulikah, yang saya tahu namanya karena kebetulan malam ini, beliau shalat isya di samping saya. Dengan keterbatasan fisik, tubuh sudah bungkuk (maaf sebelumnya), jalan pun tertatih-tatih, tapi ada cerita belIau yang sangat menggugah perasaan.

Jalan pun harus hati-hati


Nenek yang berusia 70 tahun ini, setiap harinya istiqomah shalat maghrib - isya, dan subuh di masjid Al Falah, Surabaya. Kebiasaan ini sudah beliau lakukan sejak lamaaaaaa, sejak masih muda. Menarik, pernyataan beliau bahwa shalat berjamaah itu amanah dari ibu beliau, dan beliau tunaikan hingga saat ini.

Bagaimana beliau bisa shalat berjamaah secara rutin? Sedang kediaman beliau di Dinoyo tengah 44a berjarak kurang lebih 2 km dengan masjid Al Falah? Ternyata ada becak langganan yang siap mengantar pergi dan pulang dengan ongkos dua puluh ribu. Berarti seharinya beliau habiskan empat puluh ribu. Dari mana uangnya? Jawaban nenek ini bikin saya "mbrebes mili", dari Allah swt, jawab beliau secara singkat.

"Di rumah tinggal sama siapa, Nek?", lagi-lagi jawabannya bikin saya melongo.
"Sama Allah, mbak."
Subhanallah, saya tertegun. Jawaban itu demikian yakinnya. Tiada kebimbangan dan kegusaran di raut wajah beliau. Semuanya terlihat sangat normal.
Beliau menambahkan, dulu pernah menikah, dijodohkan orang tua. Sebulan kemudian, beliau hamil, tapi keguguran. Dan sejak itu suaminya pergi tanpa kabar. Orang tua meninggal, dan beliau memutuskan hidup seorang diri hingga kini. Ada dua saudaranya di Surabaya, dan hanya seorang adiknya yang rutin mengunjungi beliau.

Ada cerita lain dari beliau yang bikin saya kembali terdiam. Sewaktu pamit pulang, beliau mampir di ruang kantor masjid. Beliau mengambil kotak "Sari Kedelai", yang berisi 60 bungkus minuman populer itu. Kotak itu telah kosong, karena isinya sudah habis dibagikan ke jamaah lainnya secara GRATIS, untuk buka puasa. 

Menurut teman, selain sari kedelai beliau kadang membawa kerupuk. Apa yang bisa ya itu yang dibawa, dibagikan ke jamaah yang lain. Dalam kehidupan yang bersahaja, Nenek Sulikah ternyata amat "kaya" hati. Satu sifat yang langka yang dimiliki orang-orang saat ini. 


 
Beliau pamit pulang, karena sudah mengantuk. Beliau setiap harinya bangun pukul 02.30 wib untuk shalat tahajud dan bersiap berangkat shalat subuh berjamaah di Al Falah. Bila tidak ada becak, karena masih larut malam, beliau berjalan kaki menuju masjid. 

Ya..... Allah, malam ini, di malam takbir selepas banyak umatmu menjalankan puasa Arafah, bagi saya, Allah tunjukkan kebesarannya. Nenek Sulikah menghiasi pemikiran saya malam ini. Diri yang masih sehat, tidak sakit, jauh lebih sempurna dari Nenek Sulikah. Tapi semangat di diri ini masih sangaaaat jauh dari beliau. Saya percaya masih banyak kisah-kisah orang hebat yang ditulis makhluk langit lebih baik dari kebanyakan orang yang sempurna secara fisik. Bisa jadi kita hanya menang " casing" diri. Hanya menang penampilan. Tapi semangat menghamba ke Allah masih kalah jauuuuuuhhhhh. Ya Allah, matur nuwun, saya diijinkan untuk bisa berguru singkat pada perempuan luar biasa ini. Terima kasih Ya Allah!

Menunggu Becak

Senin, 05 Juni 2017

BUKBER RAMADHAN 1438 BERSAMA KOORDINATOR DONATUR YDSF



Seperti tahun-tahun sebelumnya di tiap Ramadhan, YDSF rutin menyelenggarakan kegiatan buka bersama Koordinator donatur. Tahun ini mengambil tempat di depan kantor YDSF, Graha Zakat I di Jalan Gubeng Kertajaya 8C/17 Surabaya, pada hari Ahad, 4 Juni 2017.



Dihadiri sekitar seratus orang Koordinator donatur, acara sore itu di buka dengan lantunan ayat suci Al-Quran yang dibawakan oleh Bapak Sarino, salah satu Jungut YDSF. Selanjutnya disambung dengan sambutan dari Direktur YDSF, Bapak Jauhari Sani. Mewakili Pengurus dan Management YDSF, beliau sampaikan rasa terima kasih atas kehadiran koordinator donatur dan beberapa undangan dari pihak lain. 



Beliau sampaikan, dalam menyambut Ramadhan 1438 H ini, YDSF telah siap dengan gerai-gerai yang berada di beberapa event dan beberapa Mall di Surabaya, yang secara aktif akan “jemput bola” melayani donatur dan masyarakat.

YDSF yang telah berdiri selama 30 tahun, berusaha untuk lebih amanah dan professional mengelola dana umat untuk disampaikan kembali ke umat. Baru-baru ini bersama lembaga lain YDSF telah membangun kembali Masjid di Pidie, wilayah Aceh yang menghabiskan dana sekitar 124 juta rupiah.

Pada tahun ini YDSF meluncurkan “Program Ramadhan Berbagi” , berupa 10.000 paket takjil keliling, 10.000 paket buka puasa, wakaf 2.000 mushaf Al Qur-an, 5.000 paket sahur on the road, Santunan 2.000 guru Al Qur-an dan sekolah Islam serta Sedekah kurma untuk Desa. 



Bapak Arief Prasojo, selaku Ketua Fundrising YDSF mengatakan selama ini “charity” YDSF diberikan secara langsung, untuk saat ini ada beberapa perubahan, diantaranya program diberikan pada komunitas. Contohnya Sekolah Pena Bangsa yang membidik beberapa sekolah yang sebelumnya dinilai “pinggiran” karena fasilitas, sarana prasarana, juga mutu guru yang minim. Perlahan selama tiga tahun terakhir ini bersama KPI dan  Ummi Foundation, sekolah-sekolah tersebut dibenahi dengan penekanan pada :
1.      Kualitas mengaji anak didik
2.      Paham Shalat beserta artinya dan
3.      Anak-anak diedukasi untuk cinta dan bersih lingkungan.

Alhamdulillah hasilnya nyata dari 9 sekolah yang bekerjasama, beberapa diantaranya mengalami over kapasitas untuk pendaftaran murid baru. Padahal sebelumnya sekolah itu tidak menjadi unggulan. Dengan aggaran sekitar 90 juta rupiah per tahun, sekolah-sekolah Islam tersebut secara bertahap telah mengalami perubahan yang dinilai positif.

Program lainnya yang sedang dijalankan adalah “Sekolah Sahabat” , Sekolah-sekolah Islam yang middle up bermitra dengan sekolah-sekolah Islam yang “kurang”. Membantu sarana dan prasarana sekolah tersebut. Yang sudah direalisasikan adalah antara SDI Al-Falah Tropodo dengan beberapa SD/MI di Bangkalan. Bulan kemarin telah didirikan Perpustakaan di SD/MI di Bangkalan. Diharapkan tindak lanjut program ini lebih meluas dan banyak menjangkau sekolah-sekolah Islam lainnya.

Kajian Parenting bersama Ust. Bagus Sanyoto



Acara selanjutnya adalah kajian singkat Parenting yang menghadirkan Psikolog Bagus Sanyoto. Beberapa saat yang hadir diajak untuk “waspada” akan bahaya penggunaan gadget di kalangan anak-anak. Beliau menguraikan bahaya kecanduan penggunaan gadget yang melemahkan kinerja otak dan alat indra lainnya. Demikian juga bahaya gadget pada hubungan orang tua dan anak dan perkembangan fisik, mental serta spiritualnya.

Moment Ramadhan hendaknya kita jadikan sebagai  bulan “Back to Allah”. Kurangi penggunaan HP untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya. Bangun komunikasi dengan anak dan anggota keluarga lainnya. Otak, mata, telinga, mulut, hati, hidung, tangan kembalikan pada fungsi fitrahnya.

Pada bulan Ramadhan ini, hendaknya kita terapkan 4 Re :
1.      Re-train, latihan lagi. Semua indra dilatih untuk kembali ke “normal”
2.      Re- Fresh, Ada pencerahan baru bila puasanya benar
3.      Re-Ward dari Allah, bila puasanya dijalankan dengan sepenuh keimanan
4.      Re-Born, Diri bagaikan terlahir kembali, Fitrah menjadi suci.

Kajian singkat ini diharapkan dapat membawa perubahan sikap pada orang tua yang saat ini pun mereka telah menjadi korban “gadget”. 



Adzan Maghrib yang berkumandang menandai datangnya waktu berbuka, dan mengakhiri kajian yang disampaikan oleh sang pemateri. Semua yang hadir segera membatalkan puasa dengan air putih dan kurma, dan bersiap untuk shalat Maghrib.





Senin, 20 Februari 2017

MEWUJUDKAN BAHAGIA DI HARI TUA, BISA!




"Kahanan donya ora langgeng, mula aja ngegungke kesugihan lan drajat ira, awit samangsa ana wolak-waliking jaman ora ngisin-isini : Keadaan dunia ini tidak abadi, oleh karena itu jangan mengagung-agungkan kekayaan dan derajatmu, sebab bila sewaktu-waktu terjadi perubahan keadaan, tidak akan menderita aib." 

Nasihat indah dari kakek saya, yang sering beliau ucapkan saat saya masih kecil, tidak mudah hilang dari ingatan ini. Meski bukan produk manusia yang lahir di era gadget, tapi pemikiran kakek banyak menginspirasi kehidupan saya saat ini. Pesan indah lainnya adalah "Menjadi manusia jangan pernah menjadi beban bagi yang lain, dan harus memiliki harga diri."

Ya…, meski mengalami disabilitas di bidang penglihatan, kakek tidak menggantungkan hidup pada orang lain, banyak aktifitas harian yang beliau lakukan sendiri dan dalam banyak hal beliau menjadi panutan dan sesepuh di Kampung Malang Surabaya, tempat tinggal kami. Masa tua dijalani beliau dengan “apa adanya” dalam arti selalu mensyukuri apa-apa yang diberi oleh Sang Penguasa Hidup. Beliau banyak memberi wejangan dan pesan hidup di tiap sore sambil mendengarkan siaran langsung pertandingan bola antara Niac Mitra atau Persebaya menghadapi lawan-lawannya di radio transistor yang menjadi media informasi saat itu. Meski bukan pegawai negeri, dan hanya menerima sedikit dari Legiun veteran, Kakek tidak pernah mengeluh. Beliau bahagia di tengah-tengah anak dan cucu-cucunya serta salah seorang sahabat setianya, hingga takdir kematian memanggil karena sakit prostat di usia 74 tahun.

Bahagia di Usia Tua
Bahagia Tidak Harus Kaya (sumber: Kelkiduldalem.malangkota.com)
  
Perjalanan hidup manusia melewati beberapa tahapan/fase. Dari lahir, bayi, kanak-kanak, menjadi remaja, menapaki usia dewasa dan berujung di usia tua. Usia adalah suatu hal yang terus berjalan seiring waktu.
Tua, menurut Departemen Kesehatan dibedakan menjadi :
1.      Kelompok lanjut usia dini ( berumur 55 – 64 tahun).
2.      Kelompok lansia (berumur 65 tahun ke atas).
3.      Kelompok lansia resiko tinggi (berumur lebih dari 70 tahun).
Dan menurut UU no 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia memberi pengertian lanjut usia adalah mereka yang berumur lebih dari 60 tahun. Di usia tersebut terjadi proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-lahan, sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi, yang biasa disebut penyakit degeneratif.

Indonesia sebagai salah satu negara yang akan mengalami bonus demografi pada tahun 2020-2030, mendapati jumlah lansia/usia tua yang naik jumlahnya secara signifikan dari tiap dasawarsa. Pada tahun 2020 diperkirakan jumlah usia tua mencapai 28, 8 juta. Peningkatan ini seiring dengan meningkatnya angka harapan hidup penduduk Indonesia. Pada tahun 1980 masih di kisaran 52,2 tahun, meningkat di 59,8 tahun pada 1990, merangkak di 64, 5 tahun di tahun 2000 dan diperkirakan mencapai angka 71,1 tahun di tahun 2020.

Pengertian Bahagia

Bahagia menurut pendapat Dadang Hawari, ada 5 faktor penting yang dapat menunjukkan kebahagiaan di usia tua, yaitu :
  1. Adanya jaminan sosial-ekonomi yang mencukupi kehidupan mereka.
  2. Adanya dukungan dari orang-orang yang melindungi dirinya dari isolasi sosial.
  3. Kesehatan jiwa agar mampu beradaptasi dengan perubahan tugas perkembangan pada tahap usia tua/lanjut.
  4. Kesehatan fisik agar tetap mampu menjalankan aktifitasnya, berkarya semampunya dan menyenangkan.
  5. Terpenuhi kebutuhan spiritualnya, agar mempunyai kebahagiaan batiniah.
Dari 5 hal diatas dapat disimpulkan untuk mencapai kebahagiaan di usia tua haruslah seseorang itu sehat, fisik dan jiwanya, selalu meningkatkan kecerdasan spiritual, mampu beradaptasi pada hal-hal baru dan selalu terhubung dengan orang-orang terdekat (keluarga, teman karib/sahabat, dan lingkungan sosialnya) dan terakhir adanya jaminan sosial/ekonomi yang membuatnya tidak menggantungkan diri pada orang lain. Sehingga harga diri dan kepercayaan diri itu tetap membuatnya survive menghadapi hidup, meski usia dan kemampuan sudah jauh menurun.

Kita pun akan menuju ke arah sana, bila Tuhan masih memberi kesempatan panjang umur. Seseorang tidak mendadak tua ketika telah mencapai usia 65 tahun. Kita, saya dan anda hanya tua jika merasa tua, jika menganut sikap bergantung kepada orang lain, tidak mandiri, membatasi aktifitas fisik dan mental serta banyak membatasi pergaulan dengan orang lain.

Masa tua akan pasti datangnya, pilihannya hanya menjadi gagal atau memiliki integritas tinggi dan idealisme yang mantap. Dan itu tidak hadir dengan sendirinya. Pilihan bahagia atau gagal ada di tangan kita sendiri, dan untuk mewujudkannya perlu diperjuangkan sejak dini, sejak saat ini, di masa kita masih kuat baik secara fisik, mental dan kemampuan finansial.

Kesehatan Fisik di Usia Tua

Kesehatan tidak berarti segala-galanya, tetapi tanpa kesehatan segalanya tidak berarti.”

Apalah artinya kekayaan dan harta berlimpah, bila di masa tua kita tidak dapat menikmatinya, karena sakit. Kesehatan mahal harganya dan akan menjadi teman setia bagi orang yang mempersiapkannya sejak muda. Sehat di usia tua adalah suatu keadaan sejahtera jiwa dan raga juga sosialnya.

Di masa tua, penyakit-penyakit  atau keadaan yang menghampiri seseorang dikenal ilmuwan dengan 14 I, yaitu :
  1. Immobility (Kurang bergerak), kondisi ini banyak menjangkiti orang tua. Berkurangnya mobilitas fisik ini banyak melahirkan penyakit-penyakit lanjutan.
  2. Isistability (berdiri dan berjalan tidak stabil atau mudah terjatuh). Hal ini banyak membuat rasa percaya diri seseorang drop dan menimbulkan traumatic.
  3. Incontinence (beser buang air kecil atau besar), kondisi ini karena kemampuan tubuh yang sudah jauh berkurang.
  4. Intellectual Impairment (gangguan intelektual/dementia). Berkurangnya kemampuan berpikir atau sering mengalami kepikunan.
  5. Infection (infeksi)
  6. Impairment of vision and hearing, taste, smell, communication, convalescence, skin integrity (gangguan panca indra, komunikasi, penyembuhan dan kulit)
  7. Impaction (sulit buang air besar)
  8. Isolation (depresi)
  9. Inanition (kurang gizi)
  10. Impecunity (tidak punya uang)
  11. Iatrogenesis (menderita penyakit akibat obat-obatan)
  12. Insomnia (gangguan tidur)
  13. Immune deficiency (daya tahan tubuh menurun)
  14. Impotence (impotensi)
Untuk meminimalisir kondisi tersebut di atas, mulai saat ini kita harus membiasakan hidup sehat, jangan aji mumpung, selagi ada dan bisa menyantap semua makanan, tanpa mempertimbangkan efek yang akan timbul nantinya. Penyakit kemakmuran akan menghinggapi karena gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat. Mulai saat ini harus dibiasakan cara-cara hidup sehat yang tidak rumit, semua orang bisa menerapkannya. Cara-cara sehat itu adalah :
  1. Makan atau mengkonsumsi menu berbasis nabati, sebagaimana yang telah disampaikan oleh T. Colin Campbell. Ph.D dan Thomas M. Campbell II dalam bukunya “Rahasia Sehat Orang China” berdasarkan “The China Study”. Makanan berbasis nabati akan mengurangi resiko seseorang terkena penyakit jantung, kanker, diabetes, stroke dan hipertensi, arthritis, katarak, Alzheimer, impotensi dan lainnya.
  2. Minum air putih 2 liter per hari.
  3. Olahraga secara teratur dan sesuai dengan usia.
  4. Istirahat dan tidur yang cukup.
  5. Menjaga kebersihan.
  6. Pemeriksaan kesehatan secara teratur.
  7. Berpikir positif dan menjauhi pikiran negatif. Sebuah penelitian yang dilaporkan Jurnal Psychological Science menyatakan, rasa pesimis adalah sebuah faktor resiko untuk kematian dini, dan ini banyak menjangkiti kaum pria.
  8. Menjaga mental dan batin yang tenang dan seimbang.
  9. Meningkatkan hubungan dengan sesama, banyak-banyaklah berteman dan bersosialisasi.
  10. Membiasakan jalan kaki dalam aktifitas harian.
  11. Tidak berlebihan dalam hal apapun.
  12. Konsumsi vitamin D dengan cukup.
  13. Meningkatkan aktifitas ritual ibadah, sudah harus banyak waktu untuk Sang Pencipta. Janganlah kita melupakan hal satu ini, banyak manusia terlena dan tidak menyadari akan hadirnya uban dan semakin melemahnya fisik yang mengingatkan kita. Kehidupan dunia ada masanya, ada titik akhirnya, dan setelah itu kehidupan kita berpindah ke dimensi berbeda yang di situ kita sudah tidak dapat untuk memperbaiki hal-hal yang telah berlalu.
Kondisi Psikososial di usia tua

“Masa depan adalah milik orang yang tahu cara menunggu” (pepatah Rusia)

Pada masa tua, kondisi-kondisi yang tidak kita inginkan dimungkinkan terjadi. Perpisahan antara suami atau istri karena salah satunya meninggal bisa terjadi. Hidup sendiri karena anak-anak telah berkeluarga dan memutuskan hidup bersama keluarga intinya pun banyak dijumpai. Masa pensiun yang mempertemukan sesorang dengan rutinitas pasif, kehilangan atasan, kehilangan anak buah, kehilangan rekan kerja dan yang pasti kehilangan kesibukan yang bertahun-tahun menjadi suatu hal yang rutin dijalani. Hal-hal di atas membuat seseorang merasa kesepian, terasing, selanjutnya stress, depresi hingga membuat turunnya daya tahan tubuh.

Kondisi terasing dan sepi tidak akan dijumpai pada seseorang yang sudah mempersiapkan hal itu jauh-jauh hari. Sejak muda, kita harus banyak bersosialisai dengan banyak orang, tentunya orang-orang baik yang mendekatkan kita pada jalan kebaikan. Hubungan yang paling dekat dalam hal ini keluarga, haruslah dijaga keharmonisannya sejak dini. Anak-anak harus kita didik untuk memahami kehidupan dengan sebaik-baiknya, ajarkan sopan-santun, bagaimana memperlakukan orang tua bila kelak sudah memasuki usia senja. Jamak terjadi, karena kemajuan jaman, orang tua dititipkan di panti jompo karena anak tidak punya waktu untuk merawat orang tua, tidak mau dibebani dan tidak mau repot. Pembelajaran terbaik adalah dari bagaimana sikap kita saat ini memperlakukan orang tua kita, merawatnya dengan kasih sayang dan tetap menghormati beliau sampai kapan pun. Pengorbanan sebesar apapun yang kita keluarkan tidak akan mampu membalas semua kebaikan orang tua yang telah diberikan untuk kita.Kita harus memberikan apresiasi pada orang tua kita, karena pada keduanya terdapat sumber kebijaksanaan dan kearifan. Beliau memiliki banyak kelebihan, keahlian tertentu dan keluasan pengalaman hidup.

Hal lain yang perlu dikembangkan adalah hobi atau passion kita. Contoh nyata ada pada diri mantan Presiden B.J Habibie yang merasa hampa hidupnya ketika ditinggal wafat lebih dulu oleh istrinya, Ainun Habibie. Rasa kesepian, kehilangan yang mendalam dan terasing  membuat beliau mengalami Psikosomatik malignant, yaitu kesedihan yang dalam yang dapat menimbulkan kematian. Untuk mengatasinya beliau “merestart” hidupnya dengan menulis. Mengisahkan kembali apa-apa yang pernah beliau lalui bersama istri yang amat dicintainya dan meninggalkannya tanpa memberi waktu yang cukup untuk berupaya mencari kesembuhan. Rupanya jalan itu telah mengantar kesembuhan “hati” beliau. Hobi positif harus terus dikembangkan, karena ia akan mewarnai hidup dan membuatnya tidak statis.

Menekuni Hobi dan Tetap Beraktifitas di Hari Tua (sumber:antarababel.com)


Jaminan Sosial di Hari Tua

Bahagia di usia tua akan terasa lengkap bila kita mempunyai jaminan sosial yang memberi perlindungan. Berkaca pada Jerman yang telah memberi perlindungan sosial pada warganya sejak tahun 1883, Inggris pada tahun 1930, dan negeri kita Indonesia telah memulainya sejak 40 tahun yang lalu.
Lembaga yang menangani jaminan sosial di Indonesia adalah BPJS Ketenagakerjaan (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan) yang diamanatkan oleh UU no 24 Tahun 2011. BPJS Ketenagakerjaan adalah kelanjutan dari Jamsostek dan Astek di awal berdirinya. 

BPJS Ketenagakerjaan dilandasi filosofi kemandirian dan harga diri untuk mengatasi risiko sosial ekonomi sejalan dengan kehidupan di masa tua yang tetap mengutamakan kemandirian dan harga diri, sehingga seseorang tetap dipandang punya kontribusi yang berarti untuk sisa hidupnya, tidak tergantung dan menggantungkan hidup pada orang lain.

sumber (fb BPJS Ketenagakerjaan)

Sebagai pekerja, petani, guru, pedagang, pemilik perusahaan, kita berpotensi besar untuk ikut kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan. Apalagi usia kita belum dibilang terlambat untuk mempersiapkan segala sesuatunya, hingga tidak menemui penyesalan nantinya. Saya pun sebagai pekerja telah ikut menjadi peserta program BPJS Ketenagakerjaan sejak Maret 2015.


Menjadi Peserta BPJS Ketenagakerjaan (Sumber: doc pribadi)

 
Kartu Kepesertaan



Siapa saja yang bisa menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan :
  1. Semua pekerja penerima upah selain penyelenggara negara dan
  2. Bukan penerima upah seperti petani,pedagang sopir taxi pemulung dan pengusaha.
Ada 4 program yang ditawarkan BPJS Ketenagakerjaan, yaitu :

  1. Program Jaminan Hari Tua (JHT)
Manfaatnya berupa uang tunai yang besarnya merupakan total keseluruhan dari iuran bulanan ditambah dengan hasil pengembangannya yang dibayarkan sekaligus saat peserta berusia 56 tahun, meninggal dunia atau mengalami cacat total seumur hidup.
Uang hasil Jaminan Hari Tua bisa diwariskan ke suami/istri, anak, orang tua, cucu, saudara kandung, mertua atau pihak yang ditunjuk dalam wasiat peserta yang bersangkutan. Bila kondisi pekerja sebelum berusia 56 tahun mengalami PHK/resign/berhenti dari tempat kerja, maka uang Jaminan Hari Tua dapat diambil dengan syarat sudah mencapai kepesertaan 10 tahun dan besarnya max 10 % dari total saldo sebagai persiapan usia pensiun atau max 30% dari total saldo untuk uang perumahan.

Besarnya iuran program Jaminan HariTua adalah sebesar 2% dari gaji per bulan ditanggung secara pribadi dan 3,7% dari gaji yang ditanggung perusahaan.

Kalau kita ingin tahu berapa kira-kira uang yang di dapat pada saat berakhirnya program ini, dapat digambarkan sebagai berikut
Misalkan gaji si A           : 3 juta/bulan
Iuran per bulan                : 171 ribu (5,7% dari gaji bulanan)
Total iuran per tahun       : 2,052 juta
Misalkan kita mendaftar BPJSTk sejak umur 25 tahun, per akhir usia 55 tahun = 30 tahun (lama kita menjadi peserta)
Uang Jaminan Hari Tua dikeluarkan 30 tahun dengan asumsi bunga 7% tiap tahun maka hasil simulasi menunjukkan dana yang diterima peserta saat pensiun bisa sebanyak Rp 135.432.000. (Seratus tiga puluh lima juta empat ratus tiga puluh dua ribu rupiah)

  1. Program Jaminan Kematian (JKM)
Memberikan manfaat uang tunai yang diberikan kepada ahli waris ketika peserta meninggal dunia bukan akibat kecelakaan kerja.
            Besarnya Iuran JKM:
·         bagi peserta penerima gaji atau upah sebesar 0,30% (nol koma tiga puluh persen) dari gaji atau upah sebulan.
·         Iuran JKM bagi peserta bukan penerima upah sebesar Rp 6.800,00 (enam ribu delapan ratus Rupiah) setiap bulan
Jaminan Kematian dibayarkan kepada ahli waris peserta, apabila peserta meninggal dunia dalam masa aktif (manfaat perlindungan 6 bulan tidak berlaku lagi), terdiri atas:
o    Santunan sekaligus Rp16.200.000,00 (enam belas juta dua ratus ribu rupiah);
o    Santunan berkala 24 x Rp200.000,00 = Rp4.800.000,00 (empat juta delapan ratus ribu rupiah) yang dibayar sekaligus;
o    Biaya pemakaman sebesar Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah); dan
o    Beasiswa pendidikan anak diberikan kepada setiap peserta yang meninggal dunia bukan akibat kecelakaan kerja dan telah memiliki masa iur paling singkat 5 (lima) tahun yang diberikan sebanyak Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah) untuk setiap peserta.

  1. Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK)
Memberikan perlindungan atas risiko-risiko kecelakaan yang terjadi dalam hubungan kerja, termasuk kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan dari rumah menuju tempat kerja atau sebaliknya dan penyakit yang disebabkan oleh lingkungan kerja.
Iuran dibayarkan oleh pemberi kerja yang dibayarkan (bagi peserta penerima upah), tergantung pada tingkat risiko lingkungan kerja, yang besarannya dievaluasi paling lama 2 (tahun) sekali, dan besarnya 0,24% dari gaji bulanan.

  1. Program Jaminan Pensiun (JP)
Manfaatnya berupa uang yang dibayarkan setiap bulan kepada peserta yang memasuki usia pensiun (setelah jadi anggota 15 tahun), mengalami cacat total tetap, atau kepada ahli waris bagi peserta yang meninggal dunia.
Besarnya iuran program Jaminan Pensiun adalah 3% dengan rincian 1% dibayar oleh pekerja dan 2% dibayar oleh perusahaan.

sumber (Fb BPJS Ketenagakerjaan)

Sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dewasa ini BPJS Ketenagakerjaan juga memberi kemudahan kepada siapa saja untuk mengakses informasi melalui:



Atau BPJS Mobile.




Berdasarkan uraian diatas, upaya untuk mewujudkan bahagia di hari tua bukanlah sesuatu yang mustahil, ini nyata dan bisa dilakukan oleh siapapun. Asalkan ada kesadaran dari awal untuk merencanakannya dan mewujudkannya dengan konsisten. Untuk kita yang masih punya banyak kesempatan waktu dan rizki, janganlah hidup hanya untuk hari ini. Jauhilah hidup foya-foya dan boros. Jangan menggantungkan diri pada kekayaan keluarga, tetapi membina hubungan dan menciptakan kehangatan dalam keluarga itulah yang terpenting. Hiduplah dengan simple dan banyak mengembangkan kebaikan pada sesama, banyak tertawa, banyak berinteraksi dengan orang lain, banyak bekerja untuk persiapan hari esok dan tak lupa banyak beribadah kepada-Nya.

Kata Andrew Carnegie: “Bila anda ingin bahagia, buatlah tujuan yang bisa mengendalikan pikiran, melepaskan tenaga serta mengilhami harapan anda.”

sumber : Fb BPJS Ketenagakerjaan

Tulisan ini disertakan dalam “Lomba Blog BPJS Ketenagakerjaan” yang diselenggarakan oleh BPJS Ketenagakerjaan dan Blogdetik.

Referensi :
  1. http://www.bpjsketenagakerjaan.go.id/
  2. http://citizen6.liputan6.com/read/2162864/17-rahasia-tiongkok-kuno-untuk-hidup-sehat-bahagia-sampai-tua
  3. http://finance.detik.com/moneter/2959365/dana-jht-disimpan-sampai-56-tahun-kalau-cair-dapat-berapa
  4. Schaffer, Rudolf, “Hidup Sehat 100 tahun”, Penerbit Prestasi Pustaka
  5. Campbell, T Colin, “Rahasia Sehat Orang China”, Noura Books
  6. Nawawi, Umiyatun, “Sehat dan Bahagia di Usia Senja”, Penerbit Dianloka